Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan
Pustaka Jaya , 2008


buku-hidup-tanpa-ijazah.jpgAdalah Asrul Sani yang ketika saya hendak memenuhi undangan sebagai fellow The Japan Foundation tinggal di negeri Matahari Terbit itu pada tahun 1980, yang menganjurkan agar selama di sana saya menulis mémoar. Tapi karena pada waktu itu umur saya baru 42 tahun rasanya belum waktunya untuk memenuhi anjuran itu. Kemudian beberapa kawan lain, di antaranya Henk Maier gurubesar kesusasteraan Indonésia yang menggantikan A. Teeuw di Universitas Kerajaan Leiden juga ketika berkunjung ke Jepang pernah menyarankan agar saya menulis mémoar. Anjuran itu pun tidak saya penuhi, walaupun sebenarnya setelah beberapa waktu tinggal di Jepang saya menulis kepingan-kepingan kenangan dalam bahasa Sunda seperti yang kemudian diterbitkan berupa buku di antaranya Hurip Waras! (1988), Cupumanik Astagina (1997) dan Ucang-ucang Anggé (2001). Dalam kenang-kenangan itu saya menulis tentang kawan-kawan dekat, terutama yang sudah meninggal, juga tentang berbagai peristiwa dan hal yang saya anggap penting dalam hidup saya. Dengan membaca kenang-kenangan itu niscaya akan tergambar jugalah langkah-langkah yang saya tempuh selama hidup.

Tetapi menjelang umur saya menjadi genap 70 tahun pada tanggal 31 Januari 2008, beberapa orang kawan di antaranya Ahmad Syafi’i Ma’arif, Rachmat Taufiq Hidayat, Hawé Setiawan dan lain-lain mendesak agar pada usia genap 70 tahun saya menerbitkan mémoar. Mengingat bahwa banyak orang yang menganggap usia 70 tahun itu penting, terbukti dengan banyak orang yang mensyukurinya dengan menerbitkan mémoar atau otobiografi, bahkan banyak yang memesan menuliskannya kepada orang lain, maka saya pikir tidak ada salahnya kalau saya menulis mémoar dalam bahasa Indonésia karena mémang rasanya dalam hidup saya ada juga hal dan pengalaman yang baik dicatat dan diketahui oléh orang banyak. Untuk menulisnya saya tidak usah meminta tolong kepada orang lain. Maka sejak tahun 2006 saya mulai menulis mémoar itu sebagai kerja sambilan. Maksudnya hanya dikerjakan kalau sedang senggang, artinya tidak saya kerjakan secara khusus dengan menyediakan waktu khusus. Namun setelah tulisan itu mencapai kira-kira 400 halaman, saya menjadi sadar bahwa yang saya tulis itu bukan mémoar melainkan otobiografi, karena yang saya tulis bukan hanya hal-hal yang saya anggap penting dalam ingatan (mémori) saja, melainkan apa yang saya alami dalam hidup disusun secara kronologis. Karena ketika sampai di situ yang saya tulis baru sampai tahun 1960-an, maka dapat dibayangkan bahwa otobiografi itu akan menjadi tebal sekali. Dan kalau tebal, maka prosés penerbitannya niscaya memakan waktu lama. Agar jangan sampai terlambat terbit, saya harus menyelesaikan naskahnya dengan segera. Maka saya mulai mengerjakannya secara lebih daria. Tidak lagi hanya sebagai sambilan. Dalam bulan Juni—Agustus 2007, saya hampir tidak meninggalkan Pabélan supaya bisa memusatkan perhatian pada penulisan otobiografi itu.

Sebagai orang yang sudah berpengalaman menulis lebih dari setengah abad, rasanya tidak sukar bagi saya menulis otobiografi itu walaupun sampai seribu halaman. Yang menjadi soal ialah apakah akan ada orang yang membacanya kalau tebalnya seribu halaman? H. Rosihan Anwar yang lebih berpengalaman dalam soal menulis menganjurkan agar tulis saja terus meskipun sampai seribu halaman, tetapi nanti sebelum diterbitkan disunting lagi hingga hanya tinggal 300-400 halaman. Karena kalau lebih tebal dari itu orang sekarang tidak mau baca, katanya.

Anjuran itu saya ikuti. Tetapi setelah selesai menulis yang tebalnya sekitar seribu halaman koq timbul rasa sayang kalau sebagian besar tulisan itu dibuang. Biarlah tidak dibaca oléh orang sekarang. Mudah-mudahan kalau sudah terbit sebagai buku nanti akan ada orang yang mau membacanya. Mudah-mudahan nanti budaya membaca bangsa Indonésia akan meningkat sehingga akan senang membaca buku yang tebal-tebal, seperti saya pun suka melahap buku misalnya War and Peace (Léo Tolstoy), The Count of Monte Cristo (Alexander Dumas), Don Quixote de la Mancha (Miguel de Cervantes), Arabian Nights, A Life (otobiografi Elia Kazan), The Tale of Genji (Murasaki Shikibu), Ramses (Christian Jacq) dan lain-lain yang tebalnya sekitar seribu halaman atau lebih. Maka saya tidak memotong-motong naskah yang sudah ditulis untuk dibuang sebagian. Buku ini merupakan vérsi lengkap yang saya tulis.

Berlainan dengan kebiasaan orang yang membagi hidupnya berdasarkan téma atau kariér, dalam Hidup Tanpa Ijazah ini saya membagi-bagi bab sesuai dengan tempat rumah yang saya tinggali. Hal itu disebabkan karena selama hidup saya ternyata sering berpindah-pindah rumah. Tentu saja dengan begitu panjangnya sesuatu bab tidak rélatif sama, melainkan tergantung pada berapa lama saya tinggal di situ dan berapa banyak peristiwa atau pengalaman yang saya anggap patut dicatat.

Karena ingatan manusia itu terbatas, maka untuk memeriksa apakah ingatan saya betul atau salah, saya memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di PDS HB Jassin, di Dokuméntasi DKJ, di Perpustakaan Nasional, dan lain-lain. Saya menghaturkan terimakasih kepada Sdr. Endo Senggono dan Ariyani Isnamurti di PDS H.B. Jassin, Sdr. Nasir di Bagian Dokuméntasi DKJ, Sdr. Ali Musa di Perpustakaan Nasional yang telah banyak membantu saya mencari bahan-bahan yang saya perlukan. Saya juga mengucapkan terimakasih yang tulus kepada kawan-kawan lain yang saya ganggu dengan pertanyaan mengenai hal-hal yang saya kurang yakin akan ingatan saya, terutama Sr. Iravati Sudiarso yang saya minta memeriksa bagian-bagian yang bertalian dengan aktivitas dan berbagai soal yang bertalian dengan DKJ dan AJ. Saya menghaturkan terimakasih tidak terhingga kepada Sdr. Henri Chambert-Loir yang bersedia menjadi pembaca naskah, mencarikan bahan yang saya perlukan ketika dia berkesempatan ke KL, memberi saran-saran serta menulis pengantar. Juga kepada Sdr. Arief Budiman saya haturkan terimakasih sebesar-besarnya atas kesediaannya menulis pengantar.

Terimakasih yang tulus juga saya sampaikan kepada Sdr. H. Ahmad Rivai yang telah melayani keréwélan-keréwélan saya ketika sedang menyusun naskah ini dan juga atas kesabarannya menyiapkan naskah pracétak.

Mudah-mudahan kebaikan meréka semua itu mendapat imbalan yang berlipat-lipat dari Allah SWT.

Mudah-mudahan otobiografi ini ada manfaatnya bagi mereka yang membacanya. Entah sebagai sahibulhikayat entah sebagai cermin dalam memandang masa lampau seseorang ketika menghayati peristiwa yang ternyata membawa perubahan dalam kehidupan bersama yang biasa disebut sejarah, sehingga dapat membandingkannya dengan pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain yang sudah pernah dibaca atau diketahuinya.

Akhirnya saya memohon maaf kalau ternyata ingatan yang saya tulis dalam otobiografi ini membangunkan macan tidur, tidak mustahil karena ingatan saya keliru, tetapi mungkin karena mengenai sesuatu kejadian yang kita alami bersama, masing-masing akan mempunyai kesan dan kenangan yang berbéda. Yang tersaji dalam otobiografi ini adalah kesan dan ingatan yang ada pada saya. Orang lain yang juga mengalami peristiwa yang sama dengan saya mungkin mempunyai kesan dan ingatan yang berbéda. Karena itu kian banyak otobiografi atau mémoar ditulis, kian baik, karena dengan demikian para pembaca bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi.