Assalamu’alaikum wr. wbr.,

Selayaknya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala karunia-Nya sehingga pada awal tahun 2008 ini kita berkumpul di tempat ini dengan tujuan mulia sebagaimana yang sudah lama direncanakan. Salawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasul Muhammad s.a.w. yang pernah bersabda, “Barangsiapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi.”

Tahun 2008 ini kita awali dengan nawaitu untuk menjadi lebih baik daripada tahun 2007 antara lain dengan menyelenggarakan kegiatan ini, yakni peringatan “70 Tahun Ajip Rosidi: Meninjau Jejak Langkah Prajurit Kebudayaan.” Kebudayaan adalah wujud potensi akal budi sekelompok manusia yang memiliki kesamaan relatif dalam kelompoknya dan mencuatkan sejumlah perbedaan relatif di luar kelompoknya. Menampilkan Ajip sebagai tema wacana kritis hari ini bukan melakukan “kultus individu”, yang memang dilarang oleh agama. Kita melakukan kritik yang cerdas terhadap segala jejak, langkah, dan pergulatan Ajip Rosidi dalam upaya melakoni kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Sunda. Tulisan-tulisan Ajip adalah cermin kebudayaan, sehingga dengan membacanya kita mengenal kebudayaan kita bersama. Inilah yang saya katakan bukan kultus individu, melainkan lebih cenderung merupakan arena pembelajaran secara kolektif dan sosial mengenai kebudayaan. Ajip adalah penulis biasa seperti yang dilukiskan oleh Dick Hartoko, yang karangan utuhnya disertakan dalam Buku Panduan ini, antara lain sebagai berikut: “Bagi seorang yang membaca roman-roman dan cerpen-cerpen semata-mata untuk mencari sensasi dan mengalami rasa serem, buku-buku karangan Ajip Rosidi mungkin juga agak mengecewakan. Yang diceritakan tidak sensasionil, tidak mengerikan….Yang dituturkannya hanya serba sederhana dan biasa, suka-duka seorang anak yang dilahirkan dalam sebuah kota kecil antara Cirebon dan Bandung, yang bersekolah di Jakarta dan sejak masa-mudanya sudah sibuk mengarang.”

Kesaksian Dick Hartoko di atas penting untuk membangun persepsi ihwal kegiatan kita hari ini: bahwa yang ditulis Ajip adalah hal-hal biasa yang mungkin kebanyakan kita tidak hirau untuk mewacanakannya secara tertulis, telaten, konsisten, dan sinambung. Ajip mengajak kita untuk mendokumentasikan hal-hal biasa seputar kita yang masih belum dituliskan. Melalui kegiatan ini, kita memiliki sejumlah harapan sebagai berikut:

  1. Munculnya sejumlah terobosan pemikiran kritis dan inovatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan kebudayaan.
  2. Lahirnya Ajip-Ajip muda yang memiliki komitmen untuk memajukan kebudayaan Sunda khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Regenerasi penting sekali agar pembelajaran dan pembudayaan lintas generasi tidak terputus, sehingga langkah-langkah pembelajaran kebudayaan tahun 2008 ini tidak menurun, tetapi bahkan lebih baik daripada tahun 2007. Jika tidak, maka bangsa ini—seperti sabda Nabi—adalah bangsa yang merugi.

Panitia mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada berbagai pihak, antara lain:

  • Bapak Rektor Universitas Padjadjaran,
  • Bapak-bapak pembicara dalam diskusi buku,
  • Para penyumbang tulisan untuk buku Jejak Langkah Urang Sunda, 70 Tahun Ajip Rosidi
  • Sejumlah lembaga dan perorangan yang namanya tidak mungkin disebut satu persatu.

Semoga pertemuan kita hari ini dapat mendorong pengembangan kreativitas kita di bidang masing-masing. Dengan memelihara dan mengembangkan kreativitas, sebagaimana yang selama ini antara lain ditunjukkan oleh Ajip Rosidi. Semoga kelangsungan hidup serta perkembangan peradaban dan kebudayaan dapat kita mumulé bersama-sama.

Bandung, 31 Januari 2008

Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, M. A.