Dalam perkembangan hidupnya, Ajip Rosidi tampak berdekatan dengan gagasan dan kehidupan IslamI. Hal itu terutama terlihat setelah Ajip banyak mempelajari tulisan-tulisan karya mendiang H. Hasan Mustapa, penyair mistik dan tokoh agama terkemuka dari Jawa Barat. Ajip bahkan mengadakan penelitian yang serius atas tulisan-tulisan Hasan Mustapa, seraya mengumpulkan karyakarya pujangga tersebut dari berbagai tempat, tak terkecuali dari perpustakaan di Leiden. Hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku berjudul, H. HASAN MUSTAPA JEUNG KARYA-KARYANA, yang tak diragukan lagi telah menjadi salah satu buku penting dalam khazanah sastra Sunda. Tentu saja, kenyataan itu tidak harus berarti bahwa sikap dan pandangan keislaman yang diperlihatkan oleh Ajip sebangun dengan sikap dan pandangan Hasan Mustapa. Untuk menjadi semistis Hasan Mustapa, Ajip barangkali terlalu sosiologis dalam pemikirannya.

Peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Islam, semisal Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah, boleh jadi ditafsirkan secara simbolis oleh Hasan Mustapa, sedangkan bagi Ajip sendiri kiranya peristiwa seperti itu sungguh merupakan realitas sosiologis.

Yang jelas, Ajip pun memiliki renungan-renungan religiusnya sendiri. Koleksi puisinya, SAJAK-SAJAK ANAK MATAHARI, yang menghimpun puisi-puisi Ajip yang ditulis semasa dia bermukim di Jepang dan bentuknya terlihat mengadopsi bentuk ekpresi yang dikenal dalam tradisi haiku, sarat dengan renungan yang beranjak dari religiositas Islami. Kenyataan bahwa cukup banyak puisi Ajip yang bermuatan religius ditulis di Negeri Matahari Terbit, kiranya tak kalah menariknya. Apalagi kalau orang mengingat komentar dari mendiang kolomnis Mahbub Djunaidi yang diumumkan sehubungan dengan kepergian Ajip ke Jepang pada dasawarsa 1980-an. Dengan nada berseloroh—yang memang merupakan gaya Mahbub—, dan melalui kutipan dari pernyataan sastrawan dan kritikus Asrul Sani,Mahbub antara lain mengemukakan bahwa Ajip pergi Jepang “untuk mempelajari Islam”. Yang pasti, Islam telah menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi Ajip sebagaimana yang juga terlihat dari kumpulan tulisannya yang mengangkat kembali sejumlah suri tauladan dari tarikh Nabi yang ia tulis dalam bahasa Sunda, EUNTEUNG TINA TAREH ISLAM. Ia juga turut aktif dalam pergumulan pemikiran Islam di Indonesia, seperti yang terlihat dari bukunya, BEBERAPA MASALAH UMAT ISLAM DI INDONESIA. Selain itu, dalam kehidupannya sehari-hari, Ajip juga banyak bergaul dengan kalangan Islam, khususnya tokoh-tokoh yang sempat memainkan peran penting di panggung politik nasional, mulai dari Muhammad Natsir hingga Sjafrudin Prawiranegara. Bahkan Ajiplah orangnya yang menulis biografi Natsir serta biografi Sjafrudin. Ajip juga dekat dengan kalangan ulama, khususnya di Jawa Barat, seperti K.H. Endang Saifuddin Anshari, K.H. E.Z. Muttaqien, Josef CD, Kasman Sujai, dll. Sekali waktu, pernah ada orang bertanya kepada Ajip, siapakah kiranya tokoh yang dia kagumi dalam hidupnya, dan Ajip menjawab, “Nabi Muhammad.”

Tulis Komentar.