Tulisan berikut merupakan kutipan dari buku Jejak Langkah Urang Sunda, 70 Tahun Ajip Rosidi, yang memuat bungarampai berisi pandangan terhadap sosok dan karya Ajip Rosidi. Anda bisa membaca edisi lengkapnya pada buku tersebut.
…………..Tantangan kerja budaya seorang Ajip Rosidi menjadi berat karena monokulturisasi tersebut tampil sangat seduktif pada persepsi subliminal kita dan dampaknya pada budaya lokal berlangsung secara perlahan. Tanpa kita sadari di suatu pagi kita terbangun dan menemukan sekeliling kita telah menjadi pasar besar yang dipenuhi oleh kaum yang disebut oleh Thornstein Veblen sebagai kaum pengkonsumsi yang rakus (conspicuous consumers) dan oleh mereka yang ditandai oleh Herbert Marcuse sebagai manusia yang terdominasi oleh industrialisasi sehingga hidup dalam satu dimensi (one-dimensional man). Bahkan terkadang secara samar-samar kita pun mulai meyakini bahwa kehidupan sedang berada dalam tarik-menarik antara dunia post-modern yang menawarkan pluralisme liberal miskin makna yang serba relatif, dan dunia konservativisme keagamaan yang menawarkan ’rasa aman’ namun sangat totalitarian dan sama dangkalnya. Pada titik itu kita kemudian perlu mencari dan mengolah pemaknaan baru tentang kehidupan.
…………..
Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia.
…………..Perhatiannya kepada sastera daerah juga diperlihatkan dengan nyata sebagai seorang aktivis kebudayaan daerah. Semenjak 1989 sampai sekarang tiap tahun Ajip mengusahakan pemberian Hadiah Sastera Rancagé untuk prestasi dalam sastera daerah yang dianggap terbaik. Sampai sekarang hadiah itu diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa daerah dari Sunda, Jawa dan Bali. Sejak 1990 hadiah Rancagé diberikan dalam dua jenis, yaitu hadiah untuk buku, yang dapat diberikan berkali-kali kepada seorang sasterawan daerah yang sama, kalau dia berhasil menulis beberapa buku yang dianggap amat bermutu, dan hadiah untuk jasa seseorang dalam pengembangan bahasa dan sastera daerahnya, yang diberikan hanya satu kali. Sejak 1993 Ajip Rosidi mengusahakan juga Pemberian Hadiah Samsudi untuk penulis buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Hadiah Rancagé kemudian dilembagakan dengan mendirikan Yayasan kebudayaan Rancagé pada bulan Maret 1993.
…………..
Ignas Kleden, Sosiolog, tinggal di Jakarta.
…………..Bila dilihat dari tipe manusia kreatif, Bung Ajip termasuk yang istimewa. Berkat disiplin dan belajar sendiri, Bung Ajip telah mewariskan ratusan karya tulis, termasuk sastera dan budaya Sunda. Ajip sudah mulai menulis saat usianya baru 13 tahun. Prosa Sebuah Rumah Buat Hari Tua lahir dari tangan Ajip yang masih pelajar itu. Tidak banyak orang Indonesia punya bakat alam sejak usia remaja seperti Ajip, terkecuali Hamka dan beberapa nama lainnya yang dapat dihitung dengan jari. Ajip dan Hamka adalah manusia gifted dengan persamaan dan perbedaannya masing-masing. Keduanya juga adalah manusia otodidak, sekolah formal bagi mereka tidak terlalu penting. Potensi sebagai pengarang yang terdapat pada keduanya telah diaktualisasikannya sampai batas-batas yang sangat jauh. Dalam rangka aktualisasi itu, entah berapa ribu halaman karya yang telah meluncur dari tangannya.
…………..
Ahmad Syafii Maarif, Sejarawan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.
…………..Kiprah Ajip Rosidi bukan semata-mata di Indonesia saja. Dia cukup banyak melanglangbuana ke berbagai pelosok dunia, sering diundang dalam acara-acara kebahasaan dan kesusasteraan di banyak negara, bahkan pernah puluhan tahun menyebarkan ilmu di negeri Sakura. Sajak dan cerita pendeknya cukup banyak yang diterjemahkan ke bahasa-bahasa asing. Cukuplah di sini disebutkan bahwa ketika Universitas Cornell di Amerika Serikat menerbitkan majalah tengah-tahunan Indonesia, yang kini merupakan majalah ilmiah tentang keindonesiaan yang sangat bergengsi, dalam nomor perdananya (No.1, April 1966) dimuat cerita pendek Ajip Rosidi, Among the Family, terjemahan dari naskah asli ”Di Tengah Keluarga” yang ditulis oleh Ajip ketika muda remaja.
…………..
Irfan Anshory, Mubalig, Aktivis Muhammadiyah, Direktur Bimbel Ganesha Operation.
…………..Kriteria kemodernan KAR yang ketiga adalah go international. Pengertian go international di sini tidak hanya diukur oleh kehadiran fisik, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah pemahaman pemikiran yang berkembang di dunia internasional. Sebagai budayawan moyan, KAR sudah sejak muda bergelut dengan pemikiran-pemikiran para pemikir Barat baik melalui bacaan maupun melalui diskusi dengan para sasterawan/pemikir saat itu. Kedudukannya sebagai profesor tamu di Osaka Jepang sejak tahun 1981 lebih memantapkan dirinya sebagai manusia ”internasional”.
…………..
Ganjar Kurnia, meraih gelar doktor sosiologi dari Nanterre University, Paris; Rektor Universitas Padjadaran (Unpad).
…………..Pada usia semuda itu AR telah membaca buku-buku perpustakaan sekolah yang semuanya diterbitkan oleh Balai Pustaka (AR, 1988: 15). Saat itu AR telah akrab dengan karya-karya sastera baik saduran maupun terjemahan, seperti Nunggul Pinang karya Hector Malot sasterawan Perancis, Graaf de Monte Cristo karya Alexander Dumas sasterawan Perancis, Mahabharata karya Viyasa sasterawan India, Batara Rama karya Valmiki sasterawan India—semuanya diterjemahkan dari bahasa Belanda dan Jawa. Selain karya terjemahan, ia pun membaca karya asli seperti Munjung, Burak Siluman dan Numbuk di Sué karya Moh. Ambri, Mantri Jero dan Pangeran Kornél karya R. Memed Sastrahadiprawira. Bacaan-bacaan ini, kiranya, yang memungkinkan AR dengan mudah menerima gagasan-gagasan sastera dari Sutan Takdir Alisjahbana, Mh. Rustandi Kartakusuma, dan lain-lain: mereka bercermin pada kehidupan Eropa, terutama Perancis, yang masyarakatnya memberikan nilai tinggi serta penting kepada kesusasteraan dan para pengarang (AR, 1988: 51). Juga, saya kira hal ini pun melicinkan jalan bagi penerimaan gagasan studi sastera dari Rene Wellek dan Austin Warren yang membagi studi sastera atas tiga bidang kajian, yaitu teori, kritik, dan sejarah. Hal ini baru diakuinya pada tahun 1993 (AR, 1998: 9).
…………..
Téddi Muhtadin, kritikus sastra Sunda, dosen di Universitas Padjadjaran.
…………..Ajip Rosidi menyiarkan lebih dari 100 sajak, jumlah yang pasti melebihi penyair lain, pada dekade yang ditandai dengan keragaman ekspresi yang memberi ruang bagi sasterawan untuk mengacu ke siapa pun dan ke mana pun. Sejak ditinggalkan Chairil Anwar puisi Indonesia juga ditinggalkan oleh penyair-penyair utamanya yang menulis sejak Kemerdekaan; Asrul Sani, Rivai Apin, dan Siti Nuraini—untuk menyebut beberapa nama saja—satu demi satu meninggalkan puisi dengan alasan yang beraneka. Satu dua sajak yang mereka tulis sesudah kematian Chairil Anwar sama sekali tidak menunjukkan adanya niat berkelanjutan untuk memroses pengalaman hidup mereka menjadi puisi. Mereka telah mewariskan gaya penulisan yang bisa menjadi model bagi pengembangan teknik berpuisi sesudahnya. Kalau dalam penulisan fiksi Pramoedya Ananta Toer sejak awal kariernya telah menunjukkan kecenderungannya ke realisme, Chairil Anwar memiliki orientasi yang berbeda, yakni modernisme meskipun ada juga sajak-sajaknya yang oleh Jassin digolongkan ke dalam ekspresionisme. Tokoh modernisme Eropa Barat, T.S. Eliot, tampaknya menjadi acuan penting bagi penyair masa itu; mazhab yang menekankan pentingnya referensi yang luas, imaji visual yang tajam, dan keutuhan puisi berdasarkan suasana itu boleh dikatakan sama sekali luput dari pembicaraan dan perhatian penyair di masa-masa sebelumnya.
…………..
Sapardi Djoko Damono, Penyair, Dosen Universitas Indonesia.
…………..In the history of modern Indonesian literature, Ajip stands as part of the post World War II generation that emerged in the 1950s. With regard to cultural vision, the post-war writers tend to distinguish themselves from the earlier Angkatan Pujangga Baru (1930s) and from the Angkatan ’45, both seen as terpengaruh oleh kebudayaan Barat (culturally westernized) movements. While admitting the influence of foreign cultures, Ajip strongly grounds his cultural vision on the indigenous culture of his homeland. From his point of view ,the so called kebudayaan nasional (national culture) does not necessarily have to marginalize kebudayaan daerah (local cultures). ”To be an Indonesian,” he once stated, ”does not mean to stop being a Sundanese [or Javanese, Balinese, and so on].” In fact, it may be more correct to recognize this bilingual writer as a Sundanese-Indonesian writer.
…………..
Hawe Setiawan, Pemimpin Redaksi Majalah Cupumanik.
…………..Rasa cinta Ajip yang demikian mendalam terhadap bahasa dan sastera Sunda bukan disebabkan karena bahasa dan sastera Sunda dewasa ini tengah berada dalam ancaman kepunahan, akan tetapi hal itu lebih disebabkan oleh naluri-naluri alamiahnya yang hendak mengatakan bahwa bahasa dan sastera Sunda adalah sumber nilai-nilai yang tidak bisa dianggap remeh eksistensinya di tengah-tengah percaturan bahasa dan sastera asing yang dewasa ini mudah diakses oleh siapa saja lewat berbagai saluran informasi yang tersedia dengan mudah, seperti lewat jaringan internet. Dalam konteks yang demikian Ajip hendak mengatakan bahwa nilai-nilai kearifan lokal akan senantiasa hidup dan menyesuaikan diri dengan gerak zaman yang melingkupinya. Untuk itu tak aneh, kalau gerakan sastera kembali ke akar tak putus-putusnya dikobarkan para sasterawan dalam berbagai kesempatan oleh berbagai angkatan, meski hal ini pada satu sisi dicibir oleh sebagian sasterawan yang begitu terpesona oleh nilai-nilai asing yang datangnya dari Barat sana.
…………..
Soni Farid Maulana, Penyair, Wartawan Pikiran Rakyat.
Nabhan Tafsili - 16-04-2008 pukul 13.36
Menyebut nama Kang Ajip (KA), bagaikan merangkum suatu talenta yang nampaknya telah dimulai pada saat umurnya masih sangat belia. karangannya dimuat dimajalah, muncul begitu saja karena sepanjang pembacaan saya yang belum seberapa - belum terdengar karangan KA ditolak oleh redaktur. Disamping mungkin sebagian besar tulisan-tulisan beliau terbt melalui majalah/sk atau penerbit yang beliau kelola sendiri. Prestasi ini saja telah membuat saya iri bukan main. Akang juga rakus membaca, sampai seluruh buku diperpustakaan sekolah SR-nya yang mayoritas terbitan Balai Pustaka itu lumat dilahapnya. Namun ajaibnya kegiatan membaca ini tidak terlalu”dipamerkannya” sejauh yang saya baca dalam Hidup Tanpa Ijazah (HTI) s/d halaman 600-an ini, lagi pula dengan kesibukannya mengelola organisasi, penerbitan misalnya, menulis untuk tetap berpenghasilan dari jalan hidup menulis, bersilaturrahmi hampir saya kira kepada semua orang yang saya ketahui, termasuk ketika masih remaja abg belasan tahun runtang runtung dengan teman sesama penulis/seniman/SMP VIII.Timbul anggapan saya bahwa KA ini adalah jenis manusia yang membacanya sangat cepat dan langsung lengket baik pengertian maupun ingatannya. Saya saja membaca HTI ini entah kapan bakal selesai, buku tersebut baru aku beli di Gunung Agung Tamini Square Jakarta Timur lebih dua minggu yang lalu. KA bercerita ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Teteh Empat pada usia 17 tahun, yang konon pada hari pernikahannya dirias oleh sahabatnya yang sengaja datang dari Solo WS Rendra yang ketika itu belum muslim. Aku pernah mendengar ajaran guru ngaji di suatu langgar kecil ketika aku masih di Bogor tahun 80-an lalu, menikahlah (meskipun masih muda) niscaya kamu akan kaya. Memang KA mungkin belum berlimpah harta, tapi saya fikir telah berlimpah pengalaman dan teman…inilah asset yang utamanya. Namun dari gambar foto rumah KA di Pabelan, seperti yang tercantum didalam situs ini, saya rasa KA sudah kaya secara sempurna. Saya sangat yakin asset utama yang berada dalam rumah tsb pastilah buku-buku, ingin aku buktikan keyakinanku ini pada suatu hari bila kebetulan aku lewat di Pabelan. Bagaimana kabar buku-buku KA yang dulu pernah dibayar oleh Pustaka Jaya seharaga Rp. 10 Juta, apakah sekarang telah KA tebus?
Menikmati hari tua sebagai pensiunan Profesor dari Universitas di Jepang bersama cucu tersayang dengan tetap menalankan hobi baca-tulis-silaturrahmi, pastilah surga dunia yang sungguh lesat. Insya Allah suatu hari saya akan mampir ke rumah KA di Pabelan untuk bersilaturrahmi, tepatnya menyerap berkah dari KA. Saya Nabhan Tafsili, 43 tahun, lahir dan sekolah sampai tamat SMP di Bengkulu, tak jauh dari dari rumah kakeknya Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang pernah bersitegang dengan KA di pesta perpisahan Duta Besar Belanda tahun 60-an dulu. SMA Muhammadiyah di Yogya, menyelesaian studi Teknologi Industri Pertanian di IPB, bekerja di bidang Asuransi Umum dengan diselingi oleh sekolah untuk mengambil keahlian asuransi di Skotlandia-UK, India, Philipina dan beberapa negara lain. Beristri (dan tentu juga bermertua) orang JOgya yang hampir saban tahun mudik lebaran dan lewat Pabelan. Wassalam.
NB : Karena membaca HTI yang banyak cerita tentang Utuy T Sontani, kemarin saya sempat membaca cerpen Menuju kamar Durhaka (kumpulan cerpen terbitan PJ yang secara tidak sengaja saya jumpai di pasar buku loak Senen lebih setahun yang lalu. Meskipun settingnya tahun 50-an (?), tapi saya kira tema dan suasana kejiwaannya aktual dan bahkan abadi.
Oh ya, sekolah SMP saya tepat di depan Masjid Jamik yang pemugarannya diarsiteki oleh Bung karno ketika beliau di buang ke Bengkulu. Konon imam tetap masjid ini pernah dijabat oleh kakek STA.
Kalau selesai nanti saya membaca HTI, berarti ini adalah buku biografi paling tebal yang pernah saya baca. Sebelumnya hampir sepuluh tahun yang lalu ada Aku Bagian Umat Aku Bagian Bangsa yang ditulis oleh Pak Deliar Noer, juga Biografi Politik Bung Hatta juga tulisan pak Deliar.
Bambu dan manusia Jepang (?) tulisan KA telah saya baca tiga tahun yang lalu. Karena ada kawan yang kebetulan mau studi banding asuransi ke Jepang, maka buku tersebut saya hadiahkan. Sehingga terpaksa aku mencarinya lagi di Toko Buku tempat saya membelinya dulu di Plaza Senayan untuk koleksiku.
Tulisan KA di BUKUKU KAKIKU sangat dahsyat dan banyak terulang dan lebih rinci di HTI.
Apakah Kang Ayat Rohaedi masih hidup, kok saya jarang melihat tuliasnnya lagi di Kompas pada kolom Bahasa. Teratama polemik beliau dengan pak Jopi Tambayong - Remi Silado soal asal kata KELAPA dan SALJU.
nabhan tafsili - 02-10-2009 pukul 13.17
Alhamdulillah, pada kesempatan pulalewat Muntilan pula
nabhan tafsili - 02-10-2009 pukul 14.29
Alhamdulillah, pada kesempatan pulang dari mudik lebaran kemarin kami sekeluarga (tiga putra saya Bitang, Gilang dan Akbar, istri serta ibu mertua) menyempatkan mampir di rumah KA yang ternyata terletak sangat dekat dengan Candi Borobudur. Pertama kami mampir sholat ‘ashar di masjid Pesantren Pabelan, mampir ke rumah Pengasuh pesantren untuk menanyakan informasi di sebelah mananya pondok terletak rumah KA. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu, seorang ibu (sekitar 50 tahunan) menerima saya. Mendengar pertanyaan saya ibu tersebut langsung direct menghubungi KA via Hp-nya dan berbicara dalam bahasa sunda dengan hasil confirm bahwa KA bersedia menerima saya sebagai tamunya. Secara instink, dalam hati, saya langsung menebak sang ibu ini pasti adalah salah satu dari putri KA yang diceritakan dalam Hidup Tanpa Ijazah yang pernah menjadi lurah di Pabelan dan menikah dengan adik pendiri Pesantren Pabelan (alm) Kiyai Hamam. Saya langsung membahasakan kepada ibu ini dengan panggilan Teteh (kakak perempuan dalam bahasa sundah). Ternyata instink saya benar 100 %, teteh mengkonfirm dengan melengkapi info namanya Teteh Nunun dan suami beliau Kiyai Mustafa Ahmad (mudah-mudah ingatan saya baik). Kami bertiga sempat berbincang beberapa saat. Atas panduan putra Teh Nunun yang bernama Budi (lagi-lagi, mudah-mudahan ingatan kami baik) kami tiba di (komplek) rumah KA. Kami disambut pertama oleh seorang ibu (lagi-lagi ibu, hanya kali ini lebih tua namun nampak tetap gesit). Segera saya yakini ibu ini tiada lain adalah istri KA yaitu ibu Fatimah yang biasa dipanggil Empat. Kami dibawa ke salah satu bangunan untuk dipersilahkan duduk dan disuguhi teh hangat beserta kue-kue lebaran. Kami, saya dan ketiga putra dipersilahkan menunggu. KA masuk ruangan, saya perkenalkan diri beserta maksud kedatangan dan kenalkan ketiga putra saya. Rumah ini hanya terdapat 1 kamar saja, ruangan yang cukup besar dihiasi dengan lukisan hampir diseluruh dinding yang tersedia. Sementara di atas meja, kursi dan karpet bertebaran buku-buku. Saya sempat menngingat antara lain novel Musasi (tebal, berkulit warna merah) dan di meja sebelah saya duduk ada (mungkin) buku terbaru tulisan Pak Risihan Anwar (Om Cian, Pak Haji Waang). Dari KA kami diberi tahu, rumah ini hanya untuk istirahat/tidur saja dan mungkin juga membaca-baca yang ringan. Ada 3 bangunan yang lain lagi di komplek ini. Kami berbincang-bincang ternyata hampir melebihi 1 jam, berfoto bersama depan rumah dan depan perpustakaan/bangunan untuk aktifitas/kerja. Sewaktu diajak meninjau ruang kerja KA, atas permintaan kami…karena sangat ingin tahu seperti apa koleksi buku KA, dan bagaimana rupa ruang kerjanya. KA merendah dengan mengatakan koleksi bukunya mungkin hanya sekitar 25 s/d 30 ribu saja. Benar saja, buku diperpustakaan begitu luar biasa banyaknya. Istri dan putra-putra saya sempat ambil foto di ruangan ini. Saya dan KA berbincang lagi di ruang kerjanya, yang tiada lain sebetulnya hanyalah gudang buku yang lain yang dilengkapi perabot beraktifitas meja, kursi, peralatan komputer dll. Bebrapa buku saya saksikan masih terbuka, mungkin sedang dibaca oleh si empunya. Di almari buku saya lihat banyak buku-buku yang masih baru, baik karangan orang indonesia mapun terjemahan. Salah satunya HISTORY OF JAVA terjemahan bahasa indonesia atas karya Sir Stanford Raffles - Letnan Gubernur Jenderal Inggeris di Indonesia, yang kebetulan bermarkas di Benteng Port Marlbrough di Bengkulu pada awal abad 19 lalu. Sebagai kenangnan, KA menghadiahi saya buku yang baru diterbitkannya (oleh Pustaka Jaya, milik KA) Mengadili Dewan Gubernur Bank Indonesia oleh Burhanuddin Abdullah. Pada halaman depan buku ini KA menulis Kepada Sdr. Nabhan Tafsili Dari Ajip Rosidi…tanda tangan….22.09.09.
Hampir pukul 17 sore selasa itu, kami berpamitan dan tuan rumah KA mengantarkan kami hingga ke pintu gerbang. Ada “accident” yang membuat saya sangat rikuh, yang membuka pintu gerbang dan mendorongnya ternyata adalah KA sendiri, putra saya Gilang saya minta mendahului kalah sigap dibanding tuan rumah. Yach hitung-hitung kapan lagi mau dilayani oleh Pensiunan Profesor dari Jepang yang tiada lain tokoh yang sudah lama ingin dijumpai. Arigato KA.
Sedikit mengenai buku hadiah KA, selesai saya baca 28 Sept lalu, tepat pada keesokannya ketika sedang menemani istri mencari suatu keperluan di Cibubur Junction, saya bertemu seseorang yang saya yakin (tidak salah) pasti Pak Rahadi Ramlan (mantan orang dekat Pak Habibie, menteri di masa Orba, dan Kabulog yang akhirnya membawanya menjadi terpidana pada kasus Bulog Gate) dengan cirinya yang agak eksentrik rambut gondrong. Saya menyapa dan menyalaminya, beliau sangat senang katanya dan sumringah ketika saya sapa dan kami sempat berbincang. saya singgung buku ini, beliau langsung memotong bahwa sedang membaca juga buku tersebut dan menginformasikan bahwa sekarang Pak Burhanuddin Abdulah telah dipindahkan ke Rutan Sukamiskin Bandung. jauh lebih baik katanya, dibanding Cipinang dll, karena bisa satu orang satu kamar sendiri. Tentu saja Pak Rahadi sangat mengetahui info seperti ini karena beliau adalah memprakarasi pembentukan paguyuban para alumni narapidana bersama-sama dengan Pak Anton Medan. Buku beliau Catatan Dari Cipinang sangat menarik untuk dibaca.
Hal-hal lain substansi pembicaraan dengan KA akan saya tulis pada kesempatan yang berbeda yad.
Wass