Tulisan berikut merupakan kutipan dari buku Jejak Langkah Urang Sunda, 70 Tahun Ajip Rosidi, yang memuat bungarampai berisi pandangan terhadap sosok dan karya Ajip Rosidi. Anda bisa membaca edisi lengkapnya pada buku tersebut.
…………Pikiran-pikiran Ajip selain yang disajikan sebagai ’uraian biasa’ yang ditulisnya untuk berbagai keperluan: seminar, konferensi, atau untuk berbagai publikasi, justru yang harus dibiasakan di antara kita adalah pikiran-pikiran yang disajikan dalam bentuk polemik. Ada beberapa polemik yang harus dikemukakan di sini, baik yang dilakukan oleh Ajip sendiri, maupun oleh teman-teman seangkatannya.…………..
Memen Durachman, Mahasiswa S3 di Universitas Kebangsaan Malaysia, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
…………Kalau sekarang usul Ajip untuk membuang undak-usuk sepertinya diabaikan, tampaknya ini bukan karena Ajip kurang kuat dalam memberi justifikasi terhadap pendapatnya. Masalahnya, selogis apa pun usul Ajip, pemakaian undak-usuk lebih merupakan ranah rasa (terutama selera) dibanding logika. Relevan dikemukakan dalam konteks ini adalah ungkapan Sastrawiria (1953), sewaktu berpolemik dengan M.A. Salmun, bahwa masalah selera itu tidak untuk diperdebatkan.…………..
Iwa Lukmana, Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
…………Sebagai sebuah media cetak berbahasa Sunda, posisi Majalah Sunda menjadi tidak lumrah. Apalagi majalah ini diasuh oleh orang-orang yang bukan berasal dari kalangan aktivis keagamaan. Hanya Pemimpin Umumnya yang memiliki latar belakang aktivitas di sebuah organisasi Islam besar. Kalaupun bisa dikategorikan sebagai aktivis lainnya adalah Ajip Rosidi (AR) yang jadi pemimpin redaksi. Itu pun latar belakang keterlibatannya bukan pada gerakan aspirasi Islam melainkan aspirasi kedaerahan (Sunda).…………..
Abdullah Mustappa, Sasterawan, Wartawan, mantan Ketua Umum PPSS.
…………Pendekatan Ajip Rosidi dan kawan-kawan untuk menarik perhatian Gubernur Ali Sadikin terhadap koleksi dokumentasi sastera H.B. Jassin ternyata mendapatkan tanggapan yang positif. Dengan serta-merta Ali Sadikin menunjukkan perhatiannya yang penuh terhadap koleksi/dokumentasi sastera H.B. Jassin tersebut, baik mengenai masalah-masalah teknis yang dihadapi, maupun terhadap aspek sosial yang menyangkut H.B. Jassin sendiri secara pribadi dan terhadap pengembangan lebih lanjut koleksi dokumentasi sastera tersebut. Untuk menangani hal-hal tersebut Gubernur Ali Sadikin melibatkan staf Kantor Gubernur dan Dewan Kesenian Jakarta dan Akademi Jakarta.…………..
M. Husseyn Umar, Sasterawan, Pengurus Pusat
Dokumentasi Sastera H.B. Jassin.
…………Pak Ajip berharap ada regenerasi, ada orang yang lebih muda dari beliau yang akan meneruskan langkah-langkahnya. Saya kira cara beliau membina regenerasi itu dengan cara seperti tiba-tiba beliau mengajak saya pada suatu acara yang sangat besar seperti KIBS. Menurut saya dia berhasil, sehingga saya banyak berbicara maupun menulis tentang kesundaan. Juga dengan banyak mengajak orang-orang selain saya dengan gaya beliau, dalam kemampuan atau kapasitas yang sesuai dengan orang yang diajaknya sehingga betul-betul membangun networking yang lebih luas. Seperti pada akademisi di perguruan tinggi, para politisi di DPR, seniman, dan lain-lain. Dengan demikian setiap beliau punya gagasan itu insya Allah, riak gelombang gagasan itu akan sampai ke mana-mana. Saya kira Pak Ajip itu layak mendapat hadiah yang lebih dari apa yang telah beliau peroleh sekarang ini. Kalau kita baca perjalanan hidupnya, apa yang telah beliau lakukan baik dalam kesasteraan maupun kebudayaan pada umumnya, beliau layak diajukan untuk mendapat Nobel barangkali. Wallohu’alam. Sepertinya sulit untuk mencari bandingannya di Indonesia. Kalau dibandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer misalnya, saya kira dia lebih banyak berbicara sastera sebagai seorang sasterawan. Tapi Pak Ajip lebih sebagai budayawan. Kontribusinya jauh lebih besar daripada yang lain.…………..
A. Chaedar Alwasilah, Penulis, Pembatu Rektor IV Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
…………..Maka wajar, saat AR masih muda, ada yang menilainya culangung, calutak, atau campelak. Tak sedikit pula para orang tua yang menyumpahserapahinya. Anehnya lagi, AR tak menghiraukannya. Ia terus melakukan peran korektifnya hingga usia 70 sekarang. Ya, itu tadi, tidak kalah oleh cape dalam mengelola energi kritisismenya. Padahal, ketika sebagian besar orang seusia AR mulai mengutamakan tiis ceuli herang mata,AR malah tetap memilih terus menghilirkan isu-isu perubahan. Tak peduli kuping menjadi panas dan mata menjadi merah. Sekali lagi, maaf, saya harus jujur tentang ini. Dalam pada itu, ini keanehan lainnya dari AR, semua yang dilakukan olehnya tak mendatangkan keuntungan pribadi. Apalagi keuntungan uang! Justru di saat-saat sekarang atau mungkin dari dulu, uang menjadi orientasi dan tuhannya dalam kiprah seseorang.…………..Setia Permana, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat.
…………..Ia seorang intelektual sejati, meskipun cuma tamatan SMP. Ia pernah malang melintang sebagai dosen tamu selama 22 tahun di Universitas Osaka, Jepang. Di sana ia mengajar Bahasa Indonesia. Di Jepang ia banyak membeli buku sastera bermutu yang sulit diperoleh di Indonesia. Ia rupanya keasyikan. Tatkala berkemas untuk pulang, membawa 700 box berisi buku dan kertas-kertas dokumen. Semuanya dikirim lewat kapal ke Pabelan. Di sana Kang Ajip telah membuat bangunan khusus untuk buku—termasuk lebih dari 100 judul buku karya tulisnya baik berupa karya sastera maupun nonsastera.…………..Hasan Syukur, Wartawan, Pengurus Wilayah Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat.
…………..Perhatian Ajip Rosidi kepada kesusasteraan dan kebudayaan, termasuk sastera dan budaya daerah, tidak hanya tercermin dalam sejumlah tulisannya sebagaimana yang dapat kita cermati dalam Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995), sebuah buku yang menghimpun berbagai artikel dan makalah yang ditulisnya antara 1964 dan 1987, tetapi juga tampak dari tindakannya yang konkret untuk memajukan bidang itu. Pada tahun 1970, misalnya, ia mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda. Hasil penelitiannya dipublikasikan secara luas. Kemudian, pada 1989, ia secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan untuk karya sastera berbahasa Sunda untuk buku yang terbit tahun sebelumnya. Setelah berlangsung selama lima tahun, dan pemberian hadiah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé, pemberian hadiah diperluas kepada karya-karya sastera berbahasa Jawa dan Bali.…………..Maman S. Mahayana, Penulis, Dosen di Universitas Indonesia (UI).
…………..Ajip and Ceu Empat invited me to go to Jatiwangi with them and I readily accepted. This was my ’perjalanan pengantar’, my journey of introduction to Tatar Sunda, to ’Priangan Si Jelita’, to a ’light green land’, so beautiful that ’méh baé kapiuhan’ – one cannot tire of the descriptions of its loveliness. We passed through green fields and hills, saw little boys riding water buffalo and women spreading neat bundles of cut rice by the road to dry, ate freshly fried tahu with young cucumbers (never has bean curd tasted quite so good) while Ajip and friends sat and sang Sundanese tembang as we drove. In Jatiwangi we were greeted by a crowd of children, one or two of whom who were Ajip’s children, staying with their grandparents. We drank a local brew of coffee, another experience which other coffees have never quite equalled. The Jatiwangi house was large and airy, and at the back was an outdoor bathroom. How blissful! For the first time, I bathed under the open sky.…………..Wendy Mukherjee, Dosen di The Australian National University.
…………..Sosok Ajip Rosidi sebagai pembaca dan penulis dapat dilihat dari kacamatanya yang tebal. Bukti lain pun ditunjukkan di kediamannya. Bangunan yang paling besar di kompleks itu bukanlah rumah tempatnya tinggal. Tetapi perpustakaan, yang menampung ribuan koleksi bukunya. Sebagian besar tersimpan rapi di dalam lemari kaca, sebagian di dalam kardus yang berjajar di tepi dinding. Sekilas tampak seperti ruang koleksi perpustakaan di kampus. Karena ini perpustakaan pribadi, ruang baca hanya diisi satu set kursi antik.…………..Mang Jamal, nama lengkapnya Jamaludin Wiartakusumah,
mahasiswa S3 Program Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB,
dosen di Institut Teknologi Nasional (Itenas).
…………..Sangat sedikit penulis Sunda yang menulis bahasan sastera. Memang, selain karya Ajip Rosidi, ada bahasan untuk keperluan teoritis karya Wahyu Wibisana, dkk.: Lima Abad Sastera Sunda, karya Abdullah Mustappa: Wirahma Sajak, atau buku-buku dan makalah karya Prof. Dr. Yus Rusyana, di antaranya Galuring Sastera—yang sangat rasional ketika berbicara periode sastera Sunda, antologi tulisan ilmiah dosen-dosen Jurusan Sunda UPI Raksarasa dan Sonagar. Tetapi untuk keperluan kritik, sangat sedikit bahan untuk materi di dalam kelas.…………..Chye Retty Isnendes, Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
…………..Saya sudah lama tahu soft spot Ajip yaitu segala yang berhubungan dengan kebudayaan dan urang Sunda. Tidak saja dia banyak menulis tentang sastera, sejarah, budaya Sunda, tetapi juga dia tidak jemu-jemunya bekerja mempromosikan dan mengkonservasi sastera Sunda. Sejak tahun 1980-an dia memberikan Hadiah Sastera Rancagé, memilih novel yang paling bagus ditulis dalam bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Bali. Anugerah itu disertai dengan hadiah uang, maka Ajip mencari kiri kanan para donor yang mau menyumbang untuk prize money Rancagé. Meskipun saya tidak paham bahasa Sunda, namun Ajip selalu mengirimkan tiap tahun laporan kepada saya mengenai apa yang telah dikerjakan oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé.…………..Rosihan Anwar, Wartawan Senior.
…………..Ajip yang jenjang pendidikannya dalam lingkungan Taman Siswa dan hanya lulusan Taman Dewasa (SMA), sudah menulis sejak di sekolah menengah pertama, melanjutkan ”pendidikannya” dengan mencari sendiri pengetahuan dari literatur yang dibacanya setelah yakin sastera dan budaya yang menjadi pilihannya. Dengan otodidaknya itu ia telah membuktikan kemampuannya dalam berkarya, terutama dalam penulisan buku-buku dan pengalamannya berorganisasi. Sebagai orang yang dapat membangun dirinya sendiri dengan mengembangkan tingkat kemampuannya dalam pengetahuan hanya dengan banyak membaca buku, segala yang telah dicapai oleh Ajip Rosidi itu kiranya patut sekali menjadi teladan bagi generasi yang lebih muda.…………..Ali Audah, Sasterawan, Penerjemah.
…………..Yang menarik lagi tentang Ajip, yang karenanya saya semakin kagum padanya, ialah wawasannya tentang keindonesiaan. Ajip mengatakan, bahwa keindonesiaan mesti dibangun tanpa menyepelekan warisan kedaerahan, bagaimana usahanya memperjuangkan pahamnya ini dengan tekun, sekalipun ada suara yang menuduhnya ”provinsialistis”. Mungkin yang menyangka seperti itu, kurang mengerti pemikiran Ajip tersebut. Padahal dengan kata lain, Ajip cuma berpendirian supaya kita tidak terlalu berpaling ke Barat. Karena hal itu, katanya, bisa menimbulkan ”mestizoisme” atau Indonesia belasteran yang ”teu ka hilir, teu ka girang”, begitu ungkapan dalam bahasa Sunda.…………..Dewi A. Rais Abin, Wartawan, Penulis.
…………..Semula saya menyangka bahwa Ajip, sebagai seniman muda bengal tetapi hebat itu, mempunyai sikap tak acuh bahkan sinis terhadap Islam. Dalam karya-karya awalnya, misalnya dalam balada ”Janté Arkidam”, terkesan tidak ada perhatiannya sama sekali terhadap agama. Tetapi setelah kenal lebih dekat, dan mungkin Ajip pun sudah semakin ”tua”, perkiraan saya itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Boleh jadi Ajip tidak pernah mukim di pondok pesantren. Boleh jadi juga ia tidak pandai berbahasa Arab, sehingga pengetahuannya tentang agama Islam tidak diperolehnya dari sumber yang otentik. Namun dari tulisan-tulisannya, obrolan-obrolannya dan perilakunya sehari-hari, saya berani menyimpulkan bahwa Ajip bukan hanya cukup memahami Islam secara kritis. Lebih dari itu, ia mampu menghayatinya secara imajinatif dan puitik. Dan Ajip mengamalkannya dalam perilaku maupun langkah-langkahnya sehari-hari.…………..H. Achmad Roestandi, S.H., Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi.
…………..Sekarang ini menjelang usia 70 tahun (lahir di Jatiwangi, Majalengka, 31 Januari 1938) hanya sekali-sekali saja dia terlihat di Bandung atau Jakarta. Sejak beberapa tahun terakhir ini Ajip tinggal di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Di situlah dia sekarang bermukim bersama Ceu Empat, isterinya. Ada sekitar 25.000 buku koleksinya dan sejumlah besar lukisan karya pelukis kenamaan teman-temannya berada dalam bangunan berlantai dua terpisah dari bangunan tempat tinggalnya. Di halaman terpisah ada sepasang kancil yang pada waktu tertentu harus dilaporkan keberadaannya. Di tempat baru inilah teman-temannya, seniman, penyair, pengarang dan pelukis kerap berdatangan baik dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah atau dari mana pun.…………..Syafik Umar, Direktur Utama Harian Umum Pikiran Rakyat.
…………..”Hoby” Ajip yang paling saya kagumi adalah membina bahasa Sunda. Ketika kami sama-sama tidak punya apa-apa, Ajip menghabiskan apa yang dia miliki untuk merekam pantun Sunda kuno. Pekerjaan ini memang baik, tapi saya rasa tidak tepat dikerjakan oleh orang miskin. Masa soal bahasa yang begitu penting hanya menjadi tugas Ajip? Mengenai kegiatan Ajip soal Sunda, saya tidak berani memberi koreksi apa-apa. Dia segera akan maju membela atas nama seluruh etnis Sunda di seluruh dunia. Sejak ketika masih jadi pengajar di Universitas Osaka dia sudah mulai menyelenggarakan pemberian penghargaan Rancagé kepada penulis berbahasa Sunda, yang tidak sedikit menyedot uang pribadinya. Sampai saya pikir apa tinggal Ajip sendiri yang orang Sunda. Dari gagasan Ajip dan kekerasan kepalanya lahir Ensiklopedi Sunda yang tebal sekali. Suatu kebanggaan yang luar biasa bagi etnis Sunda.…………..Misbach Yusa Biran, Sutradara, Penulis Skenario.
…………..Ajip buat saya telah memperkaya pemilihan tema dalam kesusasteraan Indonesia. Memelopori untuk melihat bukan hanya cerita revolusi yang memonopoli tema besar. Bukan hanya perjuangan kemerdekaan saja yang terus dikaji-kaji agar sastera berharga. Ajip membuat banyak pengarang tidak perlu merasa dirinya ”berdosa” sebab lahir sesudah revolusi. Kisah manusia pasca Indonesia, bagaimana mengisi kemerdekaan pun sebuah tema raksasa yang menunggu bagaimana pengarang mau mengucapkannya.…………..Putu Wijaya, Penulis, Sutradara.
…………..Peristiwa yang perlu dicatat adalah pada suatu malam Kang Ajip yang bercelana pendek mengayuh sepdanya menuju gedung RRI di Jalan Merdeka Barat. Tujuannya adalah untuk tampil di muka corong radio. Tepatnya pada tanggal 28 April 1956 antara pukul 21.30-21.50 Kang Ajip berbicara dengan judul ”Chairil Anwar, Penyair dan Para Pemuda” kepada para pendengar radio.…………..Haryadi Suadi, Dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB,
Kolektor, Pelukis.
…………..Sebagai penulis ia tetap aktif. Ajip Rosidi baru saja menyelesaikan memoarnya yang lebih dari seribu tiga ratus halaman. Aku berkenan diberi epilognya yang berbentuk tanya-jawab dengan dirinya sendiri. Ia adalah orang yang berani dalam tulisannya. Selalu gigih dalam perjuangannya melestarikan kebudayaan dan sastera Sunda. Sampai sekarang masih sering mondar-mandir ke Jakarta dan Bandung tanpa lelah mengurusi hal itu. Kritiknya terhadap pemerintah sangat pedas. Ia seperti putus asa dan tak mempunyai harapan lagi dengan negara ini. Mudah-mudahan hal itu tak terjadi.…………..Oei Hong Djien, Pengusaha Tembakau, Kolektor Lukisan.