Tulisan berikut merupakan kutipan dari buku Jejak Langkah Urang Sunda, 70 Tahun Ajip Rosidi, yang memuat bungarampai berisi pandangan terhadap sosok dan karya Ajip Rosidi. Anda bisa membaca edisi lengkapnya pada buku tersebut.


…………..Ajip pekerja gigih, keras hati, tidak kenal waktu, kawan berdebat, bertengkar dengan argumen atau tanpa argumen, bergurau dan ngabodor, dan seperti tak kenal lelah. Mesin merek apa yang dipasangkan Allah ke badan Ajip, saya tidak tahu. Dia organisator 9-10 organisasi dan yayasan dengan spesialisasi jabatan ketua, 3 penerbit, dosen dan gurubesar (Bandung dan Osaka), kolektor lukisan, peneliti pantun dan folklor, gigih memberi hadiah sastera daerah dan pemrakarsa Konferensi Internasional Budaya Sunda.

…………..

Taufiq Ismail, Penyair.


…………..Ketika akhir 1957 itu, saya diajak oleh Dedi Anggadireja (alm.) kepada Kang Ajip di rumahnya, yang kebetulan di Sumedang menjadi tempatnya ketika itu. Dedi membawa sejumlah sajak untuk dihafalkan oleh para peserta deklamasi, dan Kang Ajip diminta untuk membacanya. Kang Ajip melihat dan menelitinya sejenak, lalu mengatakan, ”Harus dari para ahli yang memilihnya.” Saya mendapat kesan bahwa pendapatnya itu dari orang yang ahli. Sementara itu sangat jelas pula, bahwa Dedi (dan saya) bukan orang yang demikian. Saya lupa lagi bagaimana kelanjutan pembicaraan dengan Dedi, karena lebih tertarik oleh hal lain yang menarik hati, yaitu pendapat seorang tukang cukur, yang mengemukakan pendapatnya tentang langganannya, ”Siapa nama tuh anak yang masih muda itu.” Seorang dari antara langganan menjawab, “Ajip Rosidi.” Rupanya saya pun seorang langganan lain di samping Kang Ajip, di kota Sumedang yang kecil pada waktu itu. Sementara itu saya menduga, bahwa Kang Ajip suka datang bercukur ke sana seraya bercakap-cakap tentang berbagai hal. Gaya yang dikemukakan oleh orang yang sangat muda itulah yang memberi kesan pada tukang cukur itu sangat cerdas. Ketika itu Kang Ajip kira-kira belum berusia dua puluhan.

…………..

Saini K.M., Penyair, Dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.


…………..Jasa Ajip Rosidi dalam memberi peluang penghasilan lewat tulisan, berlanjut dengan adanya penerbitan buku cerita anak-anak oleh penerbit Pustaka Jaya yang ia pimpin. Dua naskah saya Si Ujang Anak Peladang dan Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati diterbitkan tahun 1972. Keduanya masuk proyek Buku Inpres Bacaan Anak-Anak tahun 1973/1974. Dibeli rata-rata 5 ribu s.d. 10 ribu eksemplar tiap judul, dan dibayar kontan seluruhnya (bukan sistem royalti enam bulanan tergantung buku yang laku terjual). Pengarang lain, seperti Min Resmana, Samsudi, Sayudi, Ki Umbara (keempatnya sudah wafat), Abdullah Mustappa, Rahmat M. Sas. Karana, juga sama, buku-buku karyanya masuk proyek Inpres. Sehingga kami boleh dikatakan kaya raya. Mendapat uang tunai antara Rp500.000,00 hingga Rp2.000.000,00. Bayangkan, harga tanah kapling di Turangga Bandung, seluas 200 m2 masih Rp250 ribu.

…………..

H.Usep Romli H.M., Sasterawan Sunda, Wartawan, Mubalig.


…………..Peluang bergaul dengan Ajip bertambah sesudah beliau pensiun dari Osaka dan kembali menetap di Indonesia. Serentak dengan Ajip pensiun, saya dapat cuti panjang dari Canterbury untuk pergi ke Indonesia dalam rangka menulis buku. Kami sekeluarga hijrah ke Bandung tahun 2004 dan saya sempat memperdalam pengetahuan tentang perkembangan mutakhir di Indonesia. (Banyak yang baru bagi saya. Walaupun selama 20 tahun saya datang berkunjung ke Indonesia ham­pir tiap tahun ternyata banyak yang luput dari penglihatan. Hal itu baru disadari waktu saya tinggal agak lama ini. Terutama dalam pe­makaian bahasa Indonesia banyak perubahan. Saya masih cenderung mempergunakan bahasa Indonesia tahun 70-an. Kedengaran sangat kuno, seperti kata ”rebewes” yang kadang-kadang keluar dari mulut saya). Saya juga berusaha belajar Bahasa Sunda, usaha yang sangat menarik tetapi juga sangat meletihkan—maklum daya tangkap orang tua tidak setajam masa muda. Dalam pekerjaaan saya ini Ajip sangat membantu. Beliau sering ke Bandung menghadiri acara, berjumpa dengan kawan-kawan, memberi ceramah dan menghangatkan semangat pada teman-teman yang sedang berusaha keras meningkatkan pemakaian bahasa Sunda sebagai bahasa sastera. Melihat sasterawan di Bandung mati-matian memperjuangkan bahasa Sunda, bertambah semangat saya belajar bahasa Sunda dan Ajip selalu mendorong saya. Sekali-sekali Ajip menginap di rumah kami di Bandung dan saya memakai kesempatan yang istimewa ini untuk membuka kran pengetahuannya. Tentu banyak pertanyaan mengenai tokoh-tokoh sastera, terutama tokoh sastera seperti Utuy Tatang Sontani yang menjadi titik perhatian karena saya sedang membahas tulisannya dalam buku yang direncanakan. Memang Ajip sudah banyak menulis mengenai tokoh-tokoh yang beliau kenal dalam buku-buku esai, tapi dalam ngobrolan selalu ada tambahan yang membuka sudut pandang lain.

…………..

C.W. Watson, Antropolog, tinggal di Canterbury, Inggris.


…………..Ajip seorang penyair yang kukagumi semangat dan konsistensinya untuk menunjang eksistensi bahasa dan sastera daerah, khususnya sastera Sunda dengan penghargaan tahunan dengan sebutan Rancagé itu. Aku pun yakin bahwa resto tradisi atau ”Saung Ibu Empat” di Pabelan mengkhususkan pada makanan Sunda. Dengan berkelakar kusebutnya separatis, dan aku heran dia bersahabat dengan orang Jawa seperti aku ini. Lalu aku ingat bahwa almarhum suami beribukan puteri Ciamis, ayahnya adalah separo Banten separo Kalimantan. Sehingga suami 75% berkadar Jawa Barat, mungkin karena itu toleransi kepadaku cukup tinggi.

…………..

Toeti Heraty N. Roosseno, Penyair, Doktor Filsafat.


…………..Dalam banyak hal, seseorang yang sedang melangkah ke usia matang, ke usia 70 tahun; memang terpanggil untuk berpikir ulang terhadap semua yang pernah dijalani dan diyakini. Seorang yang beranjak usia ke-70 tahun, sering diibaratkan orang, sebagai ”dia bukan sedang menjadi barang tua, tapi sedang bergulir menjadi sosok yang lebih baik”. Tentulah yang dimaksud menjadi lebih baik adalah ”pencerahan pikirannya”.

…………..

A.D. Pirous, Pelukis, Dosen di FSRD ITB.


…………..Tanggal 31 Januari 2008, Ajip Rosidi genap berusia 70 tahun. Dengan mengambil ibarat gunung api yang terus aktif mengeluarkan lava dan material gunung api lainnya yang memberikan manfaat untuk kehidupan manusia di sekitarnya, semua orang pasti setuju bahwa sebagian besar perjalanan hidup Ajip Rosidi telah disumbangkan untuk kepentingan orang banyak. Terutama sekali untuk kebudayaan yang selama ini menjadi fokus perhatiannya.

…………..

Her Suganda, Penulis, mantan Wartawan Harian Kompas.


…………..Karakteristik yang muncul dari perjalanan hidup membuat kemampuan Kang Ajip dalam berkomunikasi dan bekerjasama sebagai sebuah tim, agak kurang sempurna, kurang lengkap. Oleh karena itu sering kali gagasan yang baik jadi tidak baik karena cara penyampaiannya yang tidak baik. Itu soal komunikasi. Hal-hal semacam itu memang harus diakomodasi oleh orang lain yang ada dalam kepengurusan Yayasan Kebudayaan Rancagé. Juga sebaliknya. Misalnya gagasan saya atau yang lainnya yang perlu dikemukakan lebih tegas, mungkin Kang Ajip bisa melengkapi di situ. Itu yang kami lakukan di dalam kepengurusan Yayasan Kebudayaan Rancagé. Apa yang dikomunikasikan dengan kurang sempurna oleh Kang Ajip, kami komunikasikan dengan cara yang lain agar pesan yang sebenarnya bisa sampai dengan baik.

…………..

Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


…………..Saya tidak tahu, apakah belum/tidak munculnya rumusan-rumusan pikiran semacam itu lantaran sepak terjang AR tidak memasuki wilayah yang erat terkait dengan kehidupan masyarakat, atau dalam kata lain tidak berada di wilayah politik (saya harap politik di sini jangan diartikan parpol, melainkan lebih dititik-beratkan pada sikap dan pandangan tentang hal-hal yang bersifat kenegaraan). Namun kalau kita menyimak perjalanan hidupnya, khususnya pada dekade 1950-an, sebetulnya AR pernah juga berkecimpung di dunia pergerakan, yaitu dengan ikut memotori Kongres Pamuda Sunda. Saya berpendapat, dalam dunia pergerakan semacam itu, tentulah akan menyentuh aspek politik.

…………..

Uu Rukmana, Ketua Umum Partai Golongan Karya Jawa Barat.


…………..Kecintaan saya terhadap budaya Sunda tidak lepas dari Bapak. Meskipun, seperti telah disebutkan bahwa Bapak tidak pernah mengajari bahasa Sunda yang baik dan benar, akan tetapi Bapak berlangganan majalah dan koran berbahasa Sunda seperti Langensari, Pélét, Manglé, Majalah Sunda, dan koran Sipatahoenan. Dengan membaca majalah, koran, maupun buku-buku Sunda, kosakata bahasa Sunda saya bertambah. Selain itu, saya juga bisa membayangkan bagaimana kehidupan di desa-desa di daerah Jawa Barat. Sampai sekarang saya merasakan bahwa kalau membaca buku dalam bahasa Sunda lebih meresap dibandingkan dengan yang ditulis bahasa lain. Seperti cerita Nunggul Pinang karya Hector Malot, meskipun ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia atau membaca aslinya. Bagi saya lebih berkesan ketika membacanya dalam bahasa Sunda.

…………..

Titi Surti Nastiti, Arkeolog, puteri kedua Ajip Rosidi.


…………..Dalam perjalanan kehidupannya, semua pemerhati kesusasteraan dan budaya sudah selayaknya mengakui serta memberikan apresiasi terhadap seluruh pemikiran dan buah karya Ajip Rosidi. Jika bahasa merupakan salah satu alat penting untuk mempertahankan jati diri manusia berbudaya, maka Ajip Rosidi sebenarnya layak diberikan penghargaan oleh pemerintah Indonesia karena jasanya di bidang sastera dan budaya. Di Amerika Serikat, presiden memberikan penghargaan Presidential Medal kepada para pekerja seni hanya karena memiliki prestasi di bidang seni peran. Sekurang-kurangnya, jika penghargaan setingkat Pulitzer Award pun tidak bisa diberikan kepada Ajip Rosidi, rasanya pantas beliau diberi gelar Bapak Budaya karena tidak bisa dipungkiri bahwa telah banyak lahir kreasi anak budaya yang terinspirasi, termotivasi dengan bercermin dan mengidentifikasikan diri pada figur beliau yang piawai dalam menelaah kelemahan dan potensi budi daya manusia Sunda khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

…………..

Mira Rosana Gnagey, Ketua Yayasan Indonesia untuk Masa Depan.


…………..Nama Kang Ajip sudah saya kenal sejak saya masih duduk di bangku SMP. Guru bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, sering menyebut nama Kang Ajip. Di buku panduan pun, nama Kang Ajip selalu terpampang. Sasterawan besar dan kritikus pemberani, demikian yang ada dalam benak saya. Saya benar-benar tidak menyangka jika besok-lusa akan merasakan duduk berdampingan, berdialog langsung, bersenda gurau, sampai makan bersama. Sungguh merupakan suatu anugerah dari Allah SWT yang tidak ternilai.

…………..

Dhipa Galuh Purba, Wakil Panangkes Redaksi Majalah Seni Budaya,


…………..Ayeuna mah Kang Ajip-na gé tos juh puluh taun, geuning. Tos janten Resi Arkidam! Wilujeng! Mugia langkung jembar manah! Tangtos bakal langkung dipencrong ku nu aranom. Saréngkak saparipolah anjeunna tangtos manjang janten bukur catur balaréa. Saréngkak saparipolah, ti kawit ronin tug dugi ka Maharesina, baris janten dongéng turun-tumurun di kalangan urang Sunda.

…………..

Godi Suwarna, sastrawan Sunda, tinggal di Ciamis.


…………..Tétéla, pamaké inyana béda pisan jeung kuring, kalawan jujur dina haté téh aya catetan kieu: Kuring kungsi ngalaman diajar di sakola, ngalaman ulangan jeung kungsi deuih meunang peunteun anu beureum. Ajip mah henteu kitu. Inyana sakolana téh langsung di masarakat, nyanghareupan jelema-jelama anu geus jaradug. Ku kitu téh, lantaran inyana ”niat sakola ku cara kitu”, atuh lulusna téh béda jeung bangsa kuring: Ajip Rosidi jadi Ajip Rosidi ku Ajip Rosidina: ku cara dur-der ngadu arguméntasi, ku cara maca jeung terus maca anu perlu dibaca, ku cara nulis jeung terus nulis anu perlu ditulis, boh perkara anu badag jeung langsung aya patalina jeung budaya, boh soal-soal anu réméh, anu bisa jadi aya gunana di ahir baring supagi (ilikan surat-surat nu ditulis ku inyana ka sing saha baé anu dimuat dina rupa-rupa penerbitan).

…………..

Wahyu Wibisana, budayawan Sunda, tinggal di Bandung.


…………..Leupas tina sagala panyawad jeung sikep seuseureudna, najan kumaha baé ogé jasa Kang AR ka PPSS moal kapupus ku usum atawa palid ku wanci. Mun ayeuna PPSS dianggap hudang kalawan rada euyeub ngayakeun acara kasastra-sundaan, éta téh sasat ku lantaran Kang Ajip nu boga karep ngalilirkeunana sabada mangtaun-taun mati suri alias tibra dina pajuaran sastra. Untungna téh PPSS teu cécél teu bocél ku panyeureud jeung panyawadna, malah muga-muga baé jadi jajamu nu matak lingsig tur jagjag waringkas pikeun organisasi. Loba nu nyebutkeun cenah lain gé Kang Ajip mun teu nyawad atawa ngiritik mah. Malah kungsi aya nu nyebutkeun yén sikepna kitu téh nuduh­keun ’kesombongan seorang budayawan’. Keun baé, da kesombongan-na. téh geuning saimbang jeung dédikasina.

…………..

Etti R.S., sastrawati Sunda, Ketua Paguyuban Panglawungan

Sastra Sunda (PPSS).


…………..Mimitina wanoh kana ngaranna mah ti taun 1950-an kénéh, jaman ditulis A. Rossidhy. Najan karék rumaja karanganana geus kawas ”kolot”, remen dimuat, pangpangna dina média cetak basa Indonésia, jaman Kang Ajip tacan maké kaca panon (rekaman VCD ”Sa­tengah Abad Empat-Ajip” anakronistis, lantaran Dadan Sutisna sebagai Ajip Rosidi jaman bobogohan kénéh jeung Empat, geus maké kacapanon).

…………..

Duduh Durahman, Wakil Pamingpin Rédaksi majalah Manglé.


…………..Kanyaahna ka tanah Sunda téh teu pupulasan. AR teu itungan dina ngaluarkeun tanaga jeung waragad pikeun kasundaan. Sagala ditarékahan sangkan idé-idéna ngawujud. Proyék Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (taun 1970-1973), Hadiah Sastra Rancagé, Konferénsi Internasional Budaya Sunda, Énsiklopédi Sunda, ngadeg­keun majalah, ngadegkeun Pusat Studi Sunda, mangrupa bukti yén AR mah lain jalma nu ”kko” (kalah ka omong) atawa nato (no acting talking only). AR boga modal, kahayang, jeung tanaga, nu di nu séjén mah teu nyam­pak. Loba nu boga modal tapi taya tanaga jeung kahayang, antukna ngan ukur dimonyah-monyah. Atawa aya nu boga kahayang jeung tanaga tapi teu boga waragad, tungtungna jadi nya­rayuda. AR mah némbongkeun heula pagawéan nepi ka nu séjén téh yakin yén waragad nu dibikeun téh moal dimonyah-monyah teu puguh.

…………..

Ruhaliah, Filolog, Sékertaris Jurusan Pendidikan Bahasa Daérah,

Universitas Pendidikan Indonésia (UPI).


…………..Dina kacamata kuring mah Ki Ajip téh hiji pribadi nu hésé néang tandingna. Lain muji duméh kuring ayeuna sok ’diogan’ kana acarana. Lain. Tapi kitu kanyataanana. Ki Ajip téh ageung pisan jasana kana kamekaran sastra jeung budaya Sunda, Jawa jeung Bali. Teu pamo­halan ka hareupna mah nu baris nampa hadiah téh leuwih jembar deui, para pangarang ti étnis sa-Nusantara. Tangtuna butuh waragad nu leuwih gedé deui. Tapi Alhamdulillah, réa nu ngarojongna boh sosoranganan boh lembaga. Tapi sajeroning kitu, ari haté mah teu bisa dipaling, asa ngenes jeung ngangres ku kurangna perhatian ti instansi pamaréntah, boh ti pusat atawa daérah. Sakuduna mah apan ngadukung kana pokal, léngkah jeung tékad Ki Ajip katut Yayasan Kebudayaan Rancagé téh. Geus sakuduna pamaréntah ngabagéakeun ketakna Ki Ajip kitu téh, boh ku moril atawa matéril. Mun teu kitu asana téh kacida teuing Républik Indonésia nu cenah beunghar ku karya sastra jeung budayana, tapi teu maliré kana ketak hadé Ki Ajip jeung Yayasan Kebudayaan Rancagé.

…………..

Winarya Artadinata, Pangarang, nganjrek di Bandung.


…………..Kang Ajip gé percaya kana mistik atawa tahayul. Anu katangkep ku kuring basa ngadongéngkeun leungiteun jalan nu kungsi disorang jeung anéh ka nu tumpak motor geus jlog hareupeun. Dongéngna diheueuhan ku Kang Embas. Kuring poho deui jalan mana nu dicaritakeunana. Ngan cenah harita mah éta jalan téh ngabulungbung, tapi barang disorang deui teu kapanggih. Panjang ingétan jeung humoris. ”Cik di mana ari Haurduni di Kuningan anu disebut-sebut dina Laleur Bodas Samsu? Kungsi ditanyakeun ka Édi (Ékajati), tapi teu kungsi ngabéjaan nepi ka maotna gé …,” jiga dareuda kawas basa nyaritakeun manggih slip buku di Leiden.

…………..

H. Ellin Sjamsuri, dosén jurusan Pendidikan Bahasa Daérah

Universitas Pendidikan Indonésia (UPI).


…………..Nengetan yén AR kantos ngiring dina gerakan Front Pamuda Sunda (taun 1950-an—Katompérnakeun sim kuring ogé anggota FPS Cabang Bandung Kidul), anu galeuh udaganana kagambarkeun dina sawatara rékoméndasi KIBS I. Ku kituna merenah pisan upami réko­méndasi KIBS I ieu téh janten salah sawios jejer pedaran nu mayeng dipidangkeun dina majalah Cupumanik.Bawiraos bakal ageung galurana kana hurip-warasna Urang Sunda. Ieu téh kantos kaalaman nalika hasil rékomén­dasi Kongrés Badan Musyawarat Sunda I (BMS I) kaping 23-26 Maret 1957 di Jakarta, dianggo poko jejeran ku Kalawarta Kudjang.Dupi anu ngabahasna ti Komunitas Partéy Rambut Putih (PRP—komunitas para sepuh anu ngaraos parantos cetuk dawuk).

…………..

Hidayat Suryalaga, Budayawan, Pengarang.


…………..Kapanasaran kitu dijawab deui ku sorangan. Lain! Ajip lain teu resep kana dangding, ngan meureun teu (acan) niat. Atuh béh dituna, sageuy teu resep kana seni Tembang Sunda. Barina gé naon héséna nyieun dangding. Ongkoh da nyaah kana Seni Tembang Sunda téh teu ieuh salawasna kudu nembang. Réa carana.

…………..

Apung S. Wiratmadja, Seniman, Ahli Tembang Sunda.


…………..Dina sawatara paméran lukisan, boh di Bandung boh di Jakarta, Ajip sering dilulungsur pikeun biantara ngaresmikeun bubuka paméran. Malah kungsi sababaraha kali nulis resénsi ngeunaan paméran. Biografi Affandi jeung Sujoyono ogé kungsi ku Ajip ditulis, anu maksudna pikeun bacaeun barudak. Ngan kapalayna pikeun nulis biografi pelukis Syahri almarhum, tacan kalaksanakeun kaburu pe­lukisna ngantunkeun.

…………..

Yus Rusamsi, Sastrawan, Pelukis.


…………..Jasa Akang kalintang ageungna dina mulasara sareng ngamekarkeun budaya Sunda. Sagala nu kantos ditaratas nyata karasa. Pangorbanan Akang keur kamajuan budaya Sunda teu tiasa dimomorékeun, boh waktuna, tanagana, sareng materina. Leres saur Akang, mun urang Sunda hayang maju jeung dianggap penting ku batur, urang Sundana sorangan kudu ngarasa reueus jeung ngarasa penting jadi urang Sunda. Leres saur Réndra, ”Nama itu kosong, ketenaran itu hampa, hanya karya yang nyata!” Akang mah tos langkung ti manjing tina éta ungkaban téh. Tepi ka kiwari mah saha urang Sundana nu mapakan Akang dina karya tulis? Ieu mah bukti anu teu tiasa dipungkir, da nyata ayana. Kapan ceuk Akang kénéh, préstasi mah moal bisa dibendung. Piraku urang teu bagja di lemah cai sorangan aya kaliber Ajip Rosidi anu karya-karyana lain baé diaku di lingkungan nasional, tapi ogé internasional. Kacida mun teu milu bagja téh. Hatur nuhun Kang, Akang ogé tos karaos ngajeujeuhkeun abdi kanggo aub makalangan sangkan dunya karawitan Sunda langkung nanjung. Wilujeng, wilujeng tepung taun anu ka-70. Mangka ginuluran ka Rahmatan sareng panjang yuswa, tur kénging pangjaring Ti Alloh SWT. Amin. Wilujeng ogé ka sadaya kulawargana.

…………..

Nano S., Seniman, Ahli Karawitan Sunda.


…………..Raga katineungna Pa Ajip Rosidi kana kasundaan teu ukur dina wangun karya tulis hasil imajinasi (puisi-prosa) katut panalungtikan (sajarah jeung tiori sastra) wungkul, tapi éstuning bari dibarung ku prakna. Ti ngawitan taun 1989 Yayasan Kebudayaan Rancagé nu dirintis ku anjeunna ngalélér hadiah lain wungkul kana hasil karya sastra Sunda, ogé Jawa katut Bali. Sajabi ti éta Rancagé ogé ngalélér ka para tokoh katut lembaga/institusi anu gedé jasana dina ngokolakeun kasundaan. Nya di antarana Jurusan Pendidikan Basa Sunda IKIP (UPI) kantos nampi éta panglélér ti Rancagé.

…………..

Dingding Haérudin, Ketua Jurusan Pendidikan Daérah

Universitas Pendidikan Indonésia (UPI).


…………..Basa keur ngangsitkeun ngaréngsékeun kuliah, ahir taun 1989, kuring ngajukeun skripsi anu ulikanana dumasar kana karya-karya Ajip Rosidi, pangpangna nu mangrupa éséy jeung kritik sastra Sunda. Judul nu diajukeun téh ”Éséy Sastra Karya Ajip Rosidi Pikeun Pang­rojong Pangajaran Aprésiasi Sastra Sunda di SMA”. Alhamdulillah ditarima sarta meunang nomer register 026/FPBS.2/1990. Kuring nyusun skripsi dibingbing lain ku dosén sastra cara Pa Iswas sareng Bu Yétty, tapi ku dosén Kebahasaan sareng dosén Perencanaan Penga­jaran. Ku kituna asa teu nyugemakeun gawé téh. Da kahayang mah dibingbing ku Pa Iswas, Pa Yus atawa Bu Yétty, nu enya-enya manukna dina widang sastra. Tapi aya untungna ogé. Kuring teu pati hésé ngaréngsékeun éta skripsi da panalungtikanana ukur panalungtikan déskriptif, nu ukur ngadéskripsikeun sawatara éséy/kritik sastra beunang Ajip Rosidi. Mun téa mah éta skripsi ayeuna dibaca ku Ajip Rosidi, geus tangtu bakal dikékéak jeung dicawad da kuring gé sadar lain hasil pangimeut anu daria tur gemet dumasar kana pamarekan ilmiah widang sastra, tapi ukur analisis déskriptif.

…………..

Cécé Hidayat, Guru SMP Negeri 13, Bandung.


…………..Bisa tepung deui dina kaayaan rada rinéh basa anjeunna diulem ka Garut keur nepikeun pidato kabudayaan dina acara miéling poéan basa indung internasional taun 2004. Kabeneran kuring jadi panitiana. Anjeunna sempet nawaran kuring nyusun buku biografi hiji tokoh nasional. Bawirasa kuring kudu muji sukur. Kahiji, lantaran bisa wanoh jeung jalma nu ngaranna Ajip Rosidi, pribadi anu luar biasa, nu ngaliwatan buku-bukuna anu sakitu réana, jeung buku-buku anu terbit atawa kabaca ku lantaran upaya jeung kahadéanana, bisa méré wawasan jeung legana pangaweruh ka nu maca. Kadua, salaku urang Sunda kuring teu bisa nyawang kumaha kahirupan sastra jeung ka­budayaan Sunda umumna—di mana kuring milu silanglang kokojay­an—mun euweuh jalma siga Ajip Rosidi, anu ku koran Kompas kakolomkeun kana ”pribadi-pribadi pembuka cakrawala”.

…………..

Darpan, Pangarang, Guru di SMP Negeri 1 Pakéjéng Garut.


…………..Aya dua rupa rajakaya Ajip Rosidi téh. Rajakaya nu ngabungkeuleuk jeung rajakaya nu nyamuni. Duanana gé penting keur balaréa. Duanana gé perlu disalametkeun. Duanana gé leuwih mahal batan inten. Ayeuna umur Kang Ajip ”kakara” 70 taun. Satengah abad ti ayeuna—boa Kang Ajip mah tos teu aya—urang teu terang kumaha kaayaan éta rajakaya téh. Boa milu teu aya. Boa katambélarkeun. Boa kitu, boa kieu.

…………..

Dadan Sutisna, Panangkes Redaksi Majalah Cupumanik.


…………..Sagemblengna, nyongcolangna pigur Kang Ajip, lantaran konsistén dina sikep, dédikasi, jeung karya-karyana, utamana dina dunya sastra, boh sastra Sunda boh sastra Indonésia. Malah kapiguranana dina sastra Indonésia jeung dina sastra Sunda beunang disebutkeun saimbang, hartina Kang Ajip dianggap tokoh sastra Sunda jeung tokoh sastra Indonésia. Bédana téh, jasana dina sastra Sunda mah mémang hésé néangan babandinganana. Nu matak, wajar upama aya pertanyaan; mun téa mah dina sastra Sunda taya Ajip Rosidi, naha kaayaan sastra Sunda bakal hurip waras tug nepi ka kiwari?

…………..

Éddy D. Iskandar, Sastrawan, Pamingpin Redaksi Koran Galura.


…………..Aya kabiasaan Kang Ajip mun tuang di réstoran, pangpangna nu di wewengkon Jawa Barat. Mun pelayan nawaran nyaritana mamalayuan, Kang Ajip mah teu euleum-euleum sok tuluy negor semu nyarékan, bari nanya bisa henteu nyarita basa Sunda. Biasana nu sok surti téh Kang Hawe, pamingpin Rédaksi Cupumanik. Inyana mah sok miheulaan nyampeurkeun pelayan, nyarita maké basa Sunda nanyakeun menu kadaharan. Maksudna mah ngarah pelayan gé ngajawabna maké basa Sunda. Ka pelayan réstoran nu jadi ’korban’, tapi satuluyna bisa nyarita ku basa Sunda, Kang Ajip sok pok nyarita, ”tuh pan geulis ari nyaritana ku basa Sunda mah.”

…………..

Mamat Sasmita, Pangsiunan PT Télkom,

kiwari ngokolakeun Rumah Baca Buku Sunda jeung sajabana.


…………..Ari Kang Ajip Rosidi apan katotol tukang maséaan batur. Kituna téh ti ngongora deuih. Nu kuring inget, dina taun 1960-an, karya-karya M.A. Salmun, hususna Gogoda ka Nu Ngarora, karya Buya Hamka hususna Di dalam Lembah Kehidupan, jeung karya Éddi Tarmidi Jampé Nyadap,ku Kang Ajip dicawad mani korédas pisan.

…………..

Enas Mabarti, tokoh pulitik jeung agama, nganjrek di Garut.