Catatan Perpindahan Ajip Rosidi
1938 - 1950
Tinggal di Jatiwangi, Majalengka, hingga tamat SR (Sekolah Rakyat).
1950 - 1951
Tinggal di Majalengka, belajar di SMP (hanya setahun), sekelas di antaranya dengan Muhammad Yoyon Sunjaya (kini aktor Studiklub Teater Bandung). Pernah mengarang wawacan tapi tidak sampai rampung.
1951 - 1956
Tinggal di Jakarta, melanjutkan pendidikan di SMP VIII. Digurui oleh antara lain Kurnain Suhardiman (almarhum), Yessy Setjakusumah (kini Dra. Yessy Augustin), Etti Rudjiati (selanjutnya Dr. Etti Rudjiati Mulyadi, almarhumah, yang pernah menjabat Kepala Lembaga Bahasa dan Kesusasteraan yang kelak menjadi Pusat Bahasa). Mulai menulis dalam bahasa Indonesia serta dari tahun 1952 mulai dimuat dalam majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Indonesia, Konfrontasi, dll. Menikah pada 6 Agustus 1955. Terbit buku yang pertama: Tahun-tahun Kematian (Gunung Agung, 1955), disusul oleh Pesta (Pembangunan, 1956), dan Di Tengah Keluarga (Balai Pustaka, 1956). Selama di Jakarta beberapa kali pindah rumah. Awalnya indekos di rumah Pak Ratidjan, di jalan Rasamulya, Tanahtinggi, pegawai Kas Negeri, orang Kuningan. Lalu bersama Pak Kurnain menghuni bekas tempat penyimpanan sepeda SMP VIII di jalan Pegangsaan Barat 1 sambil mengelola majalah Suluh Peladjar yang tersebar ke seluruh SMP di seantero Indonesia. Dari pegangsaan pernah pindah ke tempat dengan menyewa kamar di Pal Meriam (Jatinegara). Setelah menikah mulai tinggal di rumah yang disewa oleh pelukis Zaini, bersama adiknya, di Kramat Pulo Gundul (ada cerita pendek yang menggambarkan si tokoh enggan pulang ke rumah karena becek dll.). Lalu menyewa rumah di jalan Kramatpulo, di seberang rumah yang lama, tapi tidak pernah kebanjiran. Waktu itulah Olla S. Sumarnaputra (lebih dikenal sebagai pengarang Sunda) dan Nashar ikut tinggal serumah. Ayat (kini Prof. Dr. Ayatrohaedi, adik saya) pun ikut serta tinggal di situ karena setelah tamat belajar di SMP Majalengka meneruskan pendidikan di SMA Muhammadiyah. Tahun 1956 (beberapa bulan) pindah ke Jatiwangi, menulis sajak-sajak “Di Puncak Gunung Paling Tinggi” (Cari Muatan, Balai Pustaka, 1959), Perjalanan Penganten (Pembangunan, 1958) dan beberapa cerita pendek.
1956 -1958
Kembali ke Jakarta sebab tidak bisa hidup di Jatiwangi. Mulai menulis dalam bahasa Sunda untuk ruangan “Dangiang” dalam surat kabar Siliwangi yang diasuh berdua dengan Olla S. Sumarnaputra. Punya inisiatif mengadakan Kongres Pemuda Sunda (November 1956 di Bandung). Menulis Lutung Kasarung (Seri PEM, Pembangunan, 1958) dan dongeng-dongeng Sunda dalam bahasa Indonesia (kelak dibukukan dengan judul Jalan ke Surga yang belakangan diubah oleh penerbit Gunung Agung menjadi Si Kabayan). Menerima Hadiah Sastra Nasional dari BMKN (Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional) dalam Kongres Kebudayaan di Denpasar (1957). Mulai banyak menulis artikel dan kritik (termasuk kritik mengenai drama, film, dan seni rupa) yang dimuat dalam majalah dan surat kabar, antara lain Siasat, Star Weekly, Pantjawarna, surat kabar Sin Po, surat kabar Indonesia Raya, surat kabar Abadi, dll. Pernah sebentar menjadi redaktur mingguan Sadar. Kemudian mengasuh ruangan anak-anak “Sin Po Muda” (SPM) dalam surat kabar Sin Po dengan menggunakan nama “Kak Ros”. Di antara yang menulis dalam ruangan itu ada yang terus menulis, antara lain Syah Saiful Rahim (pernah menjadi Pemimpin Redaksi Pos Kota dll.), Rita Oetoro (tadinya Rita Oey), D.S. Karma (kalau tidak salah pernah menjadi wartawan Tempo, sekarang telah tiada) dan lain-lain yang tidak terikuti perkembangannya atau lupa mengikutinya (kalau tidak salah Hendrawan Nadesul pun mulai menulis dalam ruangan “Sin Po Muda”).
1958 (Agustus)-1959 (November)
Menyewa rumah di Sumedang. Mulai menggelar pantun Mang Atjeng sewaktu … Uga (kini Dr. H. Uga Perceka, anak ketiga, Mei 1959). Kian banyak kenal dengan para pengarang Sunda yang tinggal di Bandung, di antaranya Sahuri, Priyatna Affiatin, juga dengan Olla serta Embas Suherman yang suka bermalam di rumah pada malam minggu, bermain bridge dengan Mang Emeng (Dakman Mdyadi). Ki Umbara sengaja menemui saya di sana dengan menumpang sepeda motor (tadinya belum kenal). Begitu pula Sayudi. Yang juga suka datang ke Sumedang adalah Eddi Tarmidi, Otto Adikara (orang Madura, mahasiswa Senirupa ITB, yang menikah dengan orang Sunda, suka menulis dalam bahasa Sunda dalam Sipatahoenan; Yus Rusamsi; dll. Sewaktu tinggal di Sumedanglah saya menuliskan kisah-kisah pantun Ciung Wanara (dengan terburu-buru sebab honorariumnya diperlukan oleh Olla yang ketika itu hendak menikah) dan Mundinglaya di Kusumah (mulanya dimuat secara bersambung dalam surat kabar Pikiran Rakyat lalu dibukukan oleh Tiara, Jakarta, 1961). Lebih intensif menelusuri warisan Haji Hasan Mustapa (HHM). Hampir tiap minggu pergi ke Bandung menemui teman-teman sesama pengarang atau anggota-anggota Galih Pakuan yang mengganggap dirinya sebagai ahliwaris rohani HHM. Karena masih mengasuh “SPM”, hampir tiap minggu pergi ke Jakarta. Semakin intensif mengikuti politik praktis tanpa pernah tertarik untuk berkecimpung di dalamnya. Mendirikan BPB (Badan Pangulik Budaya, semacam klub studi) Kiwari cabang Bandung, sebab sekretariat di Jakarta mengucilkan diri. Akhir tahun 1958 mulai menulis dalam surat kabar Sipatahoenan (satu-satunya media berbahasa Sunda yang masih terbit ketika itu) serta menimbulkan polemik yang sayang sekali cepat-cepat dihentikan oleh redaksinya. Sebagian tulisan dari zaman itu dimuat dalam Beber Layar! (Bhratara, Jakarta, 1964). Berdua dengan Rusman Sutiasumarga mulai menyusun antologi prosa dan puisi Sunda, Kandjutkundang (Balai Pustaka, 1963).
1959 (November)-1960 (Desember)
Berdiam di Cihideung, Bandung, menemani Kang Djuharman sekeluarga (ia adalah suami Ceu Enda, kakak Empat, isteri saya). Kian intensif mengikuti perkembangan sastera Sunda, menelusuri HHM, menulis Sangkuring Kesiangan (Tiara, Jakarta, 1961). Menulis Kesusasteraan Sunda Dewasa Ini (Tjupumanik, Jatiwangi, 1967), dll. Diangkat menjadi anggota pengurus pleno BMKN (atas permintaan ketuanya, Pak Gaos Hardjasoemantri yang sengaja datang ke Cihideung ditemani oleh Anas Ma’ruf, Sekretaris BMKN). Waktu itu honorarium cerita bersambung dalam surat kabar (di antaranya “Roro Mendut” yang dimuat dalam surat kabar Sin Po) dan artikel-artikel serta tulisan lainnya dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang sederhana, bahkan bisa pula dipakai untuk membiayai pementasan pantun atau wayang di Jatiwangi. Karena itu saya menganggap sudah waktunya saya mempunyai rumah sendiri (ketika itu umur saya 22 tahun).
1960 (Desember)- 1965 (April)
Tinggal di Jatiwangi. Selama rumah sendiri masih dibangun, kami ikut tinggal bersama Pak Kuwu. Karena pemimpin redaksi surat kabar Sin Po (Kwa Sien Biauw yang selanjutnya menjadi Tirtoutomo, raja Aqua) diganti oleh Karim D.P., saya berhenti mengasuh “SPM”, diteruskan oleh Rusman. Rusman memakai nama “Paman Rus”. Roro Mendut diterbitkan oleh Aryaguna, honorariumnya digunakan untuk membangun rumah.

Rumah Ajip Rosidi di Jatiwangi (1961)
(dok. Ajip Rosidi)
Karena biaya masih kurang, saya minta persekot untuk menulis Candra Kirana (yang karena terlupakan baru dapat ditulis dalam pekan terakhir masa perjanjian, setelah saya menerima kiriman telegram dari Aryaguna yang menagih karangan). Semakin intensif menonton dan mementaskan wayang. Menuliskan kembali Rikmadenda Mencari Tuhan, dan dimuat secara bersambung dalam Pikiran Rakyat. Bisa jadi ketika tinggal di Jatiwangi saya merasakan kenyamanan tertinggi dalam hidup karena keperluan sehari-hari terpenuhi oleh honorarium hasil pekerjaan yang saya sukai (mengarang), sedang sehari-hari saya sepenuhnya mendapatkan apa yang saya senangi (menonton wayang, pantun, dll.). Namun karena keadaan di sekitar saya kian tidak karuan (Sukarno kian menjadi-jadi), teman-teman di Bandung dan Jakarta memandang perlu menerbitkan surat kabar atau majalah, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Sunda. Dan yang terlaksana adalah menerbitkan Mingguan (selanjutnya Madjalah) Sunda di Bandung. Karena saya diangkat menjadi Pemimpin Redaksi, begitu majalah tersebut terbit kami harus pindah ke Bandung. Kami menyewa rumah di Gang Asmi 20.
1965-1973 (awal)
Di Madjalah Sunda pada praktiknya saya tidak hanya menangani soal-soal teknis redaksional sebagaimana yang disepakati sebelumnya, melainkan juga harus menulis soal-soal politik (tajuk rencana, pojok, juga laporan yang biasanya memakai nama “Pembantu Istimewa”). Bahkan akhirnya saya pun harus mengelola manajemen pula, karena teman-teman yang tadinya bersedia menulis soal politik dan mengelola manajemen pada kenyataannya tidak melaksanakan kata-katanya. Waktu itu banyak majalah berbahasa Sunda yang terbit, tapi pada umumnya merupakan majalah hiburan yang isinya hanya cerita pendek dan bacaan hiburan lainnya. Lain halnya dengan Madjalah Sunda sebagai majalah umum yang banyak menulis mengenai keadaan politik. Oleh karena sikapnya tidak selamana mengamini kehendak pemerintah, malahan sering bersikap kritis, majalah kami tidak disukai oleh para penguasa. Pengasuhnya dituduh “trouble maker”, dipecat dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dan sebagainya, tapi majalah kami populer karena disukai oleh para pembaca yang merasakan betapa suara hati mereka disampaikan oleh Madjalah Sunda. Namun karena ada kebijakan Orde Baru (1967, Juli, rasanya) yang menghapuskan semua subsidi, termasuk subsidi kertas, banyak majalah dan surat kabar yang gulung tikar kecuali yang dapat menambah modal. Meskipun ada kemungkinan untuk menambah modal, tapi waktu itu kami memilih berhenti, sebab kelihatannya pers akan sehat dengan terbitnya kembali Indonesia Raya, Pedoman, dll. Maksud saya tiada lain ingin memusatkan perhatian kembali pada bidang sastra dan kesenian. Waktu itulah saya mulai merekam pantun, sebab kelihatannya juru pantun kian berkurang, publiknya pun mencitu, sehingga perlu didokumentasikan. Ketika itu (kira-kira, akhir 1960-an), pemerintah belum memperhatikan masalah tersebut. Karena tidak selamanya kebutuhan sehari-hari terpenuhi oleh honorarium tulisan dalam majalah dan surat kabar, Empat berjualan makanan di depan rumah. Saya diminta mengajar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, sejak tahun 1967. Tahun 1968 saya diminta mengelola majalah Budaja Djaja di Jakarta, tapi tidak digaji, malah ikut merogoh saku. Tidak lama kemudia terbentuklah DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), dan saya diangkat menjadi anggota yang pertama (padahal saya bukan penduduk Jakarta, tapi rupanya Panitia 7 mengetahui siapa yang pertama kali mencetuskan gagasan Ali Sadikin untuk membentuk DKJ. Tahun 1971 saya diminta memimpin penerbit Pustaka Jaya sebagai salah satu unit kegiatan Yayasan Jaya Raya. Oleh karena itu saya harus lebih sering berada di Jakarta, dan bolak-balik dengan menumpang kereta api. Di Jakarta saya tinggal di rumah Kang Sukada Sumawidjaya di Jalan Lamandau 14, Kebayoran Baru.
1973 (awal)-1980
Hidup di Jakarta. Karena kian banyak kegiatan di Jakarta, terpaksa kami harus pindah. Kebetulan Kang Ilen Surianegara ditugaskan ke Paris, dan saya diminta mendiami rumahnya di Jl. Teuku Umar 6.
1974
Mengontrak rumah di Jalan Siaga II/16, Pejaten (Pasarminggu).
1976
Membangun rumah di Rawabambu, Pasarminggu. Pindah ke situ Mei 1976. Waktu itulah yang paling sibuk: selain mengurus Pustaka Jaya, terpilih menjadi Ketua DKJ dan Ketua IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), pernah menjadi anggota staf ahli Menteri P&K (Pendidikan dan Kebudayaan) Dr. Daoed Joesoef. Sejak tahun 1973 hampir tiap tahun saya mewakili Indonesia dalam sidang-sidang Asian Cultural Center for UNESCO (ACCU) di Tokyo. Diundang ke Belanda, Paris (diminta berbicara tentang pengalaman merekam pantun Sunda dalam Kongres Orientalis 1973), Amerika Serikat, Jerman, Rusia, India, Australia dll. Karena sibuk menangani bermacam-macam pekerjaan, hampir tak sempat lagi saya membaca dan menulis kalau bukan yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari.
1980 (Juli-Desember) Menjadi fellow The Japan Foundation. Seharusnya hanya setahun, tapi oleh Akademi Jakarta dipaksa harus bersedia kembali menjadi anggota DKJ (meskipun saya berkeberatan) karena dianggap bisa menghadapi kaum birokrat di DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta. Namun ketika sedang berada di Jepang saya ditawari untuk mengajar di Osaka Gaidai (The Osaka University of Foreign Studies atau Osaka Gaikokugo Daigaku). Meskipun pada menulanya saya menolak tawaran itu, tapi akhirnya saya menerimanya dengan berbagai pertimbangan, di antaranya karena waktu itu saya disebut-sebut akan diangkat menjadi Menteri Kebudayaan, karena P (Pendidikan) dan K (Kebudayaan) akan dijadikan dua kementerian. Sedangkan ayah saya ketika itu khawatir bisa terjadi sesuatu yang buruk atas diri saya sebab saat itu menjelang Pemilu. Ia mafhum, anaknya yang sulung suka berbicara terus terang.
1981 (April)-2003 (Maret)
Di Jepang saya mengajar di Osaka Gaidai. Tahun 1982-1994 mengajar di Tenri Daigaku dan 1982-1996 mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku. Di samping itu, 1982-1989 mengajar di kursus bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Asahi Cultural Center Osaka. Lebih banyak waktu untuk keperluan pribadi, sehingga saya bisa membaca dan menulis lebih banyak lagi. Mengadakan Hadiah “Rancagé” sejak tahun 1989 atas inisiatif dan biaya pribadi, yang sejak tahun 1993 dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan “Rancagé” serta pemberian hadiahnya diperluas ke lingkungan sastera Jawa (1994) dan Bali (1998). Mendirikan penerbit PT Girimukti Pasaka, dan setelah penerbit tersebut dinonaktifkan mendirikan PT Kiblat Buku Utama. Sebelumnya saya membeli saham PT Dunia Pustaka Jaya yang tadinya dimiliki oleh Yayasan Jaya Raya (Ir. Ciputra).

Rumah Ajip Rosidi di Pabelan, Jawa Tengah
(Foto: Dadan Sutisna)
2003-Sekarang
Tinggal di Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah. Di Bandung aktif mengelola Pusat Studi Sunda, Penerbit Kiblat Buku Utama dan Majalah Berbahasa Sunda Cupumanik. Selain itu, mengadakan berbagai penelitian terutama terhadap naskah Sunda kuno.***
bisma - 21-02-2008 pukul 10.40
ki “sunda” ajip rosidi.. (sayah panggil ki, karena usia aki seusia sm aki sayah,selain sering dipanggil ki “sunda” yang sangat terkenal ini , kalau gak salah..soalnya sayah termasuk baru tau..ternyata ki “sunda” ini berasal / lahir di jatiwangi…)… saya jg orang jatiwangi ki..:)
pertanyaannya seh sepele..ki..kenapa aki tinggal di muntilan gak kembali ke jatiwangi lagi??
keluarag ki ajip masih banyak di ciborelang kan??
anak-2 + cucu2 ki ajip sering mudik ke jatiwangi gak, ki??