Esai Bahasa Indonesia (23)
Oleh Ajip Rosidi
Yang ironis ialah bahwa kira-kira sepuluh tahun sebelumnya, Deliar dilarang mengajar di Universitas Sumatera Utara dan yang memecatnya adalah Prof. Dr. Sjarif Thayeb, juga sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Dia dipecat, karena desakan golongan kiri yang menuduhnya antek Amerika dan dekat dengan Bung Hatta, yang ketika itu sudah berhenti sebagai wakil presiden dan dianggap berseberangan dengan Presiden Soekarno, sehingga Deliar dianggap subversif dan anti Manipol. Dipecat dari IKIP – sebenarnya lebih dari itu, karena menteri juga melarangnya mengajar di semua perguruan tinggi di seluruh tanah air – karena dianggap menghasut para mahasiswa. Oleh karena itu, sempat diinterogasi Tim Interogasi yang menangani Gestapu. Padahal, Deliar yang pernah menjadi Ketua HMI, niscaya antikomunis – hal yang jelas tampak dalam tulisan-tulisannya. Begitulah nasib ilmuwan (sosial) politik, yang berani secara jujur mengemukakan pandangannya secara ilmiah tanpa memedulikan arah kebijakan politis pemerintah yang berkuasa.
Oleh AJIP ROSIDI
PADA bulan Desember 1955, saya menghadiri simposium kesusastraan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Simposium ini untuk mengimbangi simposium kesusastraan yang diselenggarakan di Jakarta oleh para mahasiswa UI setiap tahun sejak 1953. Saya datang bersama Ramadhan K.H., waktu itu masih memimpin majalah bulanan Kompas, majalah yang diterbitkan untuk bacaan mahasiswa yang redaksinya dipimpin oleh Nugroho Notosusanto. Kami menginap di tempat yang disediakan oleh penyair Kirdjomuljo. Kesempatan itu kami pakai untuk mengenal para sastrawan Yogyakarta lebih baik.
Oleh AJIP ROSIDI
DALAM diskusi mengenai “Sosok dan Karya Nano S.” yang diselenggarakan di STSI pekan pertama bulan Agustus 2004, saya menganjurkan agar diusahakan timbulnya rasa bangga (kareueus) orang Sunda untuk bicara dengan bahasa Sunda. Sebab sudah lama tampak kecenderungan orang Sunda menganggap bahasa Sunda sebagai bahasa kelas tiga setelah bahasa asing, terutama Inggris dan bahasa Indonesia.
Bahkan di kota besar seperti Osaka, kita masih banyak melihat orang yang naik sepeda. Dari rumah mereka naik sepeda ke stasion keretaapi. Sepeda disimpan di situ, karena di stasion kereta api biasanya terdapat tempat penyimpanan sepeda. Waktu pulang mereka mengambil sepeda itu dan mengayuhnya ke rumah. Ibu-ibu juga sering menggunakan sepeda untuk berbelanja. Jalan dalam kota biasanya mempunyai trotoar untuk orang berjalan dan mereka yang naik sepeda. Kadang-kadang ada juga yang memisahkan jalan untuk orang yang berjalan kaki dari jalan untuk sepeda.
Kira-kira 10 tahun yl. saya (ketika itu masih tinggal di Osaka, Jepang) menulis surat kepada Menteri P dan K (ketika itu Dr. Ir. Wardirnan Djojonegoro) yang isinya mengusulkan agar Saudara Asrul Sani diberi gelar Dr. HC oleh salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Sebagai alasan saya kemukakan jasa-jasa dan karya-karya Asrul Sani dalam berbagai bidang kesenian dan tentang peranannya dalam perkembangan kebudayaan Indonesia secara umum.
Keluhan tentang kemunduran bahasa daerah sudah berpuluh tahun menjadi rampaksekar (koor) yang terdengar dalam setiap kegiatan yang berkenaan dengan bahasa daerah, baik bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali atau bahasa daerah yang lain, baik dalam pertemuan berupa kongres, seminar, sarasehan atau obrolan akrab antar teman. Dan setiap keluhan itu, kalau kita teliti, akan berujung dengan kritikan atau harapan terhadap pemerintah yang diingatkan akan kewajibannya memelihara bahasa daerah sebagai kebudayaan yang hidup serta dipelihara oleh pemiliknya seperti dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945.
Menyelenggarakan pemberian Hadiah Sastera “Rancagé” setiap tahun sejak 15 tahun yl. untuk sastera bahasa Sunda, sejak 10 tahun yl. untuk sastera bahasa Jawa dan sejak 6 tahun yl. untuk sastera bahasa Bali, memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti perkembangan sastera daerah di Indonesia seperti tercermin dalam ketiga bahasa daerah tersebut. Perlu dikemukakan bahwa karya sastera bahasa daerah yang dinilai untuk mendapat hadiah sastera “Rancagé” terbatas pada karya-karya sastera modern yang terbit berupa buku. Pembatasan itu perelu dilakukan agar tidak usah mengikuti dan menilai karya-karya sastera bahasa daerah yang banyak juga dimuat dalam majalah atau surat kabar. Kalau karya-karya sastera dalam bahasa daerah yang bertebaran di dalam majalah atau surat kabar juga harus dinilai, terus terang saja kami tak mampu.
Kerajaan Malaysia sejak lama memperlihatkan langkah-langkah positif untuk memajukan salah satu bahasa resminya, yaitu bahasa Malaysia. Di Malaysia kecuali bahasa Malaysia (tadinya bahasa Melayu), bahasa Cina, Inggris dan Tamil pun menjadi bahasa resmi. Tapi yang dikembangkan oleh pemerintah Malaysia terutama hanya bahasa Malaysia.
Baru-baru ini saya diundang ke Makasar dan ditempatkan di Hotel Imperial Aryaduta Hotel itu terletak di pesisir Losari yang terakhir kali saya ke Makasar (25 tahun yl) masih sepi. Ketika itu hanya ada satu-dua penginapan sederhana dan réstoran yang juga sederhana. Bangunan hotel itu tak kalah oleh bangunan hotel-hotel berbintang di kota-kota dunia. Tapi ada yang mengejutkan saya, ialah ternyata semua keterangan yang tercetak di hotel itu ditulis hanya dalam bahasa Inggris. Memang saya lihat ada wisatawan bulé juga yang menginap di situ, juga beberapa orang Jepang, tetapi tamu terbanyak adalah orang pribumi. Apakah semua orang pribumi yang menginap di situ hanya bisa berbahasa Inggris dan tidak tahu bahasa nasionalnya, Bahasa Indonesia?
Menurut penelitian para sarjana bahasa, selama dua abad yang akhir ini kemusnahan bahasa kian menghebat. Menurut perkiraan mereka sekarang di dunia ini ada 5.000 – 6.700 bahasa, dan paling tidak – mungkin lebih – kl. setengahnya akan mati dalam abad ke-21. Sekarang kl. 60% dari bahasa yang masih ada dalam kondisi penuh risiko. Menurut para sarjana, bahasa mati tidaklah secara alami. Ada sarjana yang menggunakan istilah “bahasa dibunuh” atau ”bahasa bunuh diri”. Glanville Price dalam bukunya The Language of Britain (1984), menyebut bahasa Inggris sebagai “bahasa pembunuh” (killer language). Bahasa Inggris di Britania Raya telah membunuh al. bahasa Irlandia dan bahasa Kornisy. Dan pembunuhan oleh bahasa Inggris kemudian menyebar ke seluruh dunia. Bahasa-bahasa di kepulauan Hawaii misalnya telah musnah digantikan oleh bahasa Inggris. Demikian juga di berbagai tempat lain di dunia, terjadi pembunuhan bahasa lain oleh bahasa Inggris. Dan tidak hanya bahasa Inggris saja yang membunuh bahasa-bahasa lain. Bahasa-bahasa Eropah yang lain juga melakukannya, sehingga banyak bangsa di Afrika, Amerika Selatan dan Asia Pasifik sekarang tidak mengenal lagi bahasa ibunya, digantikan oleh bahasa bangsa yang menjajahnya.