Ajip_Rosidi

Esai Bahasa Indonesia (23)

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

Yang menjadi sumber kerisauan saya ialah karena kegiatan budaya dan kehidupan intelektual Bandung yang dahulu menjadi yang kedua setelah Jakarta, belakangan nampak terlampaui oleh kota lain, terutama Yogyakarta. Memang dalam tulisan saya “Bandung dan kehidupan intelektual” terkesan seakan-akan di Bandung tidak ada kegiatan sama sekali – yang dibantah oleh tiga aktivis yang telah tampil. Hal ini disebabkan karena saya sendiri tidak mengikuti kegiatan budaya dan intelektual di Bandung secara intensif, begitu juga saya tidak mengikuti kehidupan budaya dan intelektual di Yogyakarta secara intensif.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | 5 Komentar »

Oleh Panitia Seminar Pembangunan Berbasis Budaya Sunda ini melalui suratnya bulan Méi 2005 saya diminta untuk membawakan makalah bertema “Mencari Sosok Manusia Sunda (Sebuah Refleksi Filosofis)”, tetapi dalam “kisi-kisi penulisan makalah” yang dilampirkan dalam surat itu saya diminta untuk mendiskusikan tentang “wacana manusia” Sunda terutama berkaitan dengan kecenderungan adanya perkawinan campur antar-etnis yang berimplikasi pada akulturasi budaya.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

RIYONO Pratikto dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah, 27 Agustus 1932. Mulai menulis cerita pendek ketika duduk di SMP Tegal (1949) dan bukunya yang pertama Api dan beberapa cerita pendek lain terbit ketika ia masih di SMA Semarang (1951). Tapi sejak masuk ITB menjadi mahasiswa jurusan bangunan (tidak tamat) dan menyelesaikan sarjananya di Fakultas Publisistik, Universitas Padjadjaran (1988), ia terus tinggal di Bandung sampai meninggal pada tg. 30 Oktober 2005.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | 1 Komentar »

Sejak 1952 UNESCO sudah menyerukan bahwa pendidikan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Tetapi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam Kurikulum 1975 malah menghapus digunakannya bahasa ibu sebagai bahasa pengantar yang tadinya digunakan di SD dari kelas I sampai kelas III. Menurut Kurikulum 1975, bahasa pengantar sejak kelas I SD harus menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia. …

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | 1 Komentar »

Harusnya perpustakaan sekolah (dan perpustakaan umum juga), terutama mempunyai koleksi karya-karya sastera yang sudah menjadi kanon dalam sejarah sastera Indonesia. Artinya karya-karya sastera demikian harus tersedia dalam setiap perpustakaan. Karya-karya sastera nasional kita harus dikenal dan dibaca oleh semua anak didik kita di seluruh penjuru tanahair, tidak peduli kelak dia menjadi apa setelah dewasa dan terjun ke masyarakat..

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

PADA bulan Desember 1955, saya menghadiri simposium kesusastraan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Simposium ini untuk mengimbangi simposium kesusastraan yang diselenggarakan di Jakarta oleh para mahasiswa UI setiap tahun sejak 1953. Saya datang bersama Ramadhan K.H., waktu itu masih memimpin majalah bulanan Kompas, majalah yang diterbitkan untuk bacaan mahasiswa yang redaksinya dipimpin oleh Nugroho Notosusanto. Kami menginap di tempat yang disediakan oleh penyair Kirdjomuljo. Kesempatan itu kami pakai untuk mengenal para sastrawan Yogyakarta lebih baik.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

SUDAH lama banyak orang mempertanyakan pendidikan kita, mengapa hasilnya tidak memperkuat dan mengembangkan budaya sendiri? Mengapa bangsa kita mudah larut dalam pengaruh budaya yang datang dari luar? Mengapa budaya asli kita tidak dapat menahan banjir bandang globalisasi yang datang? Pendidikan kita selama ini menjadi sarana pewarisan budaya atau tidak?

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

DALAM diskusi mengenai “Sosok dan Karya Nano S.” yang diselenggarakan di STSI pekan pertama bulan Agustus, saya menganjurkan agar diusahakan timbulnya rasa bangga (kareueus) orang Sunda untuk bicara dengan bahasa Sunda. Sebab sudah lama tampak kecenderungan orang Sunda menganggap bahasa Sunda sebagai bahasa kelas tiga setelah bahasa asing, terutama Inggris dan bahasa Indonesia.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | Tanpa komentar »

Sejak tahun1950-an, terdengar keluhan tentang kurangnya buku dalam bahasa daerah, baik yang berbahasa Jawa, Sunda, Madura ataupun daerah lainnya. Orang membandingkannya dengan tahun-tahun sebelum perang, ketika Balai Pustaka dan banyak penerbit swasta aktif menerbitkan buku-buku berbahasa daerah. Banyak yang dianggap sebagai sebabnya, dan hal itu tidak usah diulangi di sini.)* Tapi keluhan-keluhan yang dapat dijaring, umumnya bermuara pada usul agar pemerintah dalam hal ini Balai Pustaka kembali aktif menerbitkan buku-buku berbahasa daerah seperti pada masa sebelum perang. Hal itu tak pernah mendapat perhatian pemerintah dan kekurangan buku berbahasa daerah terus melanjut sampai sekarang.

Kategori: Esai Bahasa Indonesia | Dimuat pada: 29-01-2008 | 5 Komentar »

Kalau kita meneliti semua katalog paméran atau tulisan tentang Affandi sampai tahun 1976, niscaya kita akan menemukan bahwa pelukis Affandi dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1910. Artinya tahun ini (2007) beliau belum genap seratus tahun, masih kurang tiga tahun lagi. Tetapi pada tahun 1976 atau awal 1977, Affandi menemui saya yang ketika itu menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta memberitahukan bahwa beliau baru menemukan catatan ayahnya, Pak Kasuma, yang menyatakan bahwa Affandi lahir bukan tahun 1910, melainkan tahun 1907. Jadi tahun 1977 akan genap 70 tahun.