Ajip_Rosidi

Hidup Tanpa Ijazah (5)

Kategori: Hidup Tanpa Ijazah | Dimuat pada: 30-01-2008 | Tanpa komentar »

Sejak karanganku dimuat dalam majalah-majalah, aku mulai berkenalan dengan para pengarang muda yang ketika itu banyak memuatkan karangannya dalam majalah-majalah Siasat, Mimbar Indonésia, Kisah, dll. bersama-sama dengan karanganku, misalnya S.M. Ardan, Soekanto S.A., Sobron Aidit, kemudian juga dengan Riyono Pratikto yang tinggal di Bandung. Riyono sekelas dengan Soekanto ketika di SMP Tegal dan persahabatan mereka tidak terputus. Dia sering menemui Soekanto di Jakarta dan Soekanto memperkenalkannya dengan kawan-kawan sesama pengarang.

Kategori: Hidup Tanpa Ijazah | Dimuat pada: 30-01-2008 | Tanpa komentar »

Aku duduk di kelas III ketika sajak dan cerita péndékku dimuat dalam majalah Mimbar Indonésia, mingguan Siasat, bulanan Indonésia dan Zénith yang pada waktu itu merupakan majalah-majalah terkemuka di Indonésia. Dan pemuatan sajak dan cerita péndék dalam majalah itu diikuti dengan honorarium yang kuterima melalui poswésel. Untuk sebuah sajak Rp. 25 dan cerita péndék Rp. 75 dari Mimbar Indonésia, sebuah cerita péndék dalam majalah Indonésia malah mendapat honorarium Rp. 125. Jumlah yang bukan sedikit pada waktu harga beras tidak sampai Rp. 1/kg. Apalagi buat seorang pelajar SMP. Dengan uang itu aku bisa membeli buku lebih banyak.

Kategori: Hidup Tanpa Ijazah | Dimuat pada: 30-01-2008 | Tanpa komentar »

Aku mengirimkan tulisan dalam bahasa Indonésia kepada Paman Raya. Betapa gembiranya Pak Kuwu waktu membaca tulisanku dimuat dengan mencantumkan alamat lengkap bahwa aku tinggal di rumahnya. Namanya disebut. Setelah melihat tulisanku dimuat dalam surat kabar, Imih memberi dorongan agar aku meniru si Rémi, tokoh utama buku karya Héctor Malot yang dalam terjemahan bahasa Sunda berjudul Nunggul Pinang (dalam bahasa Indonésia kemudian aku ketahui berjudul Sebatang Kara)….[]

Kategori: Hidup Tanpa Ijazah | Dimuat pada: 30-01-2008 | Tanpa komentar »

Ke sekolah jadi lebih jauh. Kalau soré hari aku dan adikku belajar juga di madrasah PUI di Kapur. Seusai belajar di SR, aku pulang dahulu ke rumah. Dari sana baru berangkat ka Kapur untuk belajar di madrasah. Kapur itu letaknya di ujung bagian selatan kota Jatiwangi, termasuk désa Sutawangi. Semuanya kutempuh dengan jalan kaki. Kaki telanjang karena sampai waktu itu aku belum mengenal sepatu. Menurut perkiraanku setiap hari aku berjalan kira-kira 5 atau 6 km. Tidak terlalu jauh. Banyak murid lain yang berasal dari desa lain harus menempuh perjalanan yang lebih jauh setiap harinya.

Kategori: Hidup Tanpa Ijazah | Dimuat pada: 30-01-2008 | Tanpa komentar »

Kalau pulang dari sekolah pada hari Kemis, aku biasanya membawa beberapa judul buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Sebenarnya jumlah buku yang dipinjam oléh seorang murid dibatasi satu judul seminggu. Tapi karena guru yang mengurus perpustakaan itu ayahku, maka aku bisa meminjam lebih banyak. Kadang-kadang sampai empat judul. Semacam KKN juga. Tapi sebelum tiba hari Kemis berikutnya (hari peminjaman buku), semua buku itu sudah selesai kubaca, bahkan ada yang sempat kuulangi membacanya.