Jatiwangi, Sunda, Indonesia (3)
Sejak dasawarsa 1960-an saya sering diajak mengikuti seminar, konferensi, lokakarya, kongres dan entah apa lagi namanya, yang membahas dan merundingkan masalah-masalah bahasa dan kebudayaan termasuk bahasa dan kebudayaan daerah. Adakalanya saya diminta membuat makalah, kadang-kadang saya harus membahas makalah orang lain, dan pada saat lainnya saya diminta sekadar berkomentar.
Pengalaman saya membaca cerita dan puisi dalam bahasa Sunda, terutama yang klasik dalam buku-buku dan majalah Belanda terbitan sebelum perang, ditambah dengan suasana waktu itu dalam pertengahan tahun 1950-an yang ramai dengan perbincangan yang mempersoalkan “pusat” dan “daerah”, menggugah rasa kesundaan dalam diri saya, dalam arti semakin tebalnya kesadaran saya sebagai orang Sunda. Tidaklah berarti bahwa saya tidak lagi merasa menjadi orang Indonesia, melainkan bahwa saya dan kawan-kawan memiliki anggapan bahwa bangsa dan negara Indonesia dibangun oleh suku-suku bangsa yang masing-masing telah memiliki sejarah serta kebudayaan tersendiri yang sebenarnya merupakan kekayaan bangsa, budaya dan negara Indonesia. Kekayaan budaya yang telah tersedia seharusnya menjadi modal utama dalam mengupayakan diciptakannya budaya nasional Indonesia. …[]
Saya dilahirkan di rumah peninggalan nenek moyang ibu, yang terletak di samping balaidesa Ciborelang, Jatiwangi, tapi sewaktu umur saya baru beberapa belas bulan saya dibawa pindah ke rumah kakek di kampung Pasuketan, sebab kakek membeli rumah di sana. Selanjutnya saya tinggal di sana hingga lulus Sekolah Rakyat.