Oleh AJIP ROSIDI

Kira-kira 10 tahun yl. saya (ketika itu masih tinggal di Osaka, Jepang) menulis surat kepada Menteri P dan K (ketika itu Dr. Ir. Wardirnan Djojonegoro) yang isinya mengusulkan agar Saudara Asrul Sani diberi gelar Dr. HC oleh salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Sebagai alasan saya kemukakan jasa-jasa dan karya-karya Asrul Sani dalam berbagai bidang kesenian dan tentang peranannya dalam perkembangan kebudayaan Indonesia secara umum.

Usul saya itu agaknya mendapat sambutan yang positif dari Menteri, sebab beberapa bulan kemudian saya menerima surat dari Dekan Fakultas Sastera Universitas Indonesia, Ibu Prof. Dr. Achadiati Ikram yang memberitahukan bahwa Senat Gurubesar Fakultas Sastera Universitas Indonesia sudah menyetujui usul yang saya kemukakan kepada Menteri P dan K tentang pemberian gelar kehormatan kepada Asrul Sani.

Ketika saya menyusun buku penghormatan buat Asrul Sanidi samping mengumpulkan dan menyunting esai-esai Asrul yang tersebar selama kl. 50tahun dalam berbagai majalah, saya berharap pemberian gelar kehormatan buat Asrul itu dapat dilangsungkan sebelum atau bersamaan dengan penerbitan kedua buku itu pada acara syukuran yang akan diselenggarakan pada saat Asrul genap 70 tahun. Tetapi ternyata harapan itu tak tetpenuhi. Pemberian gelar HC dari UI kepada Asrul belum dilaksanakan pada saat Asrul genap 70 tahun (10 Juni, 1997). Ketika tak lama kemudian Ibu Ikram sebagai dekan diganti oleh tokoh sastera terkemuka, saya berharap bahwa ia akan memperjuangkan agar pemberian gelar kepada Asrul dapat dilaksanakan secepatnya. Tapi harapan saya hampa, sampai masa jabatannya habis dan dia diganti oleh yang lain sebagai dekan, masalah pemberian gelar kepada Asrul tak ada kabarnya.

Padahal pemberian gelar Doktor Kehormatan kepada seniman atas prestasi kreatifnya akan merupakan langkah pertama bagi universitas di tanahair Indonesia untuk menghargai kreativitas dalam bidang kesenian. S. Takdir Alisjahbana dan H.B. Jassin yang pernah mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Indonesia, bukanlah  karena prestasinya dalam bidang kesenian, melainkan karena jasanya dalam bidang keilmuan. Affandi mendapat gelar Doktor HC untuk prestasi kreatifnya sebagai pelukis, bukanlah dari universitas di Indonesia, melainkan dari Universitas Nasional Singapura. Diharapkan setelah diberikan yang pertama, penghargaan kepada prestasi kreatif dalam bidang kesenian pun selanjutnya akan mendapat penghargaan dari lembaga keilmuan seperti universitas. Asrul sendiri sudah menerima penghargaan Anugerah Seni (1969) dan Bintang Mahaputera (2000) dari Pemerintah RI.

Kira-kira satu setengah tahun yang lalu ketika berliburan ke Indonesia saya mendengar Asrul sakit, konon terjatuh di kamar mandi sehingga tulang pinggulnya dioperasi dan diganti dengan logam. Namun ketika saya datang ke rumahnya untuk menjenguk, ternyata dia tak mau saya masuk ke kamarnya untuk menengoknya.

Mungkinkah ia tidak ingin diketahui dalam keadaan sakit sehingga saya akan selalu mengenangnya sebagai seorang yang tampan dan bijak? Saya dengar dari Muti, isterinya bahwa kawan lain pun dia tolak untuk menengoknya.

Saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan semua orang pandai di Indonesia, tetapi saya kira saya sempat bertemu dengan banyak di antaranya. Hal itu perlu saya katakan karena saya ingin mengemukakan pendapat bahwa Asrul Sani adalah salah seorang putera bangsa yang paling cerdas dan bijak dalam mengartikulasikan pikirannya. Dialah intelektual dalam artinya yang paling baik. Bahasanya jernih, bukan saja yang tertulis, melainkan juga yang diucapkan secara lisan. Kalau pembicaraan Asrul tanpa teks direkam dan kemudian rekamannya ditranskripsi, niscaya takkan banyak koreksi yang harus dibuat, karena kalimat-kalimatnya (hampir) sempurna. Logikanya sangat kuat, sehingga sulit menghadapinya dalam debat. Jangankan mengalahkannya! Dan pengetahuannya sangat luas karena kegemarannya membaca tentang berbagai hal. Minat Asrul tidaklah terbatas dalam dunia kesusasteraan dan kesenian saja. Pendidikan formalnya kedokteran hewan, pernah memimpin majalah dan duduk sebagai anggota DPR-RI. Ketika PKI hendak menasakomkan semua lembaga yang ada di seluruh tanahair dengan mendesak agar mereka dapat menempatkan wakil-wakilnya, Asrul muncul dengan konsep “Nasakom jiwaku”, artinya kenasakoman tak usah dinyatakan secara fisik berupa adanya wakil dari ketiga unsur Nasakom dan konsep itu disetujui oleh Pemimpin Besar Revolusi Presiden Sukarno, sehingga langkah PKI yang hendak menguasai semua lembaga itu terbendung.

Saya sendiri mengenal nama Asrul pertama kali sebagai salah seorang penyair pelopor Angkatan 45 yang menerbitkan kumpulan bersama Tiga Menguak Takdir (Balai Pustaka, 1950) bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Kemudian sajak-sajaknya saya kumpulkan dan terbitkan dengan judul Mantera (Budaya Jaya, 1975). Tetapi Ia pun menulis cerita pendek (telah saya kumpulkan dan terbitkan dengan judul Dan Suatu Masa, Dari Suatu Tempat, Pustaka Jaya, 1972) dan menulis esai (telah saya kumpulkan dalam Surat-surat Kepercayaan, Pustaka Jaya, 1997). Dalam esai-esainya itu Asrul memperlihatkan keluasan pandang, ketajaman analisa dan kedalaman pemikirannya. Kelemahan kaum orientalis yang kemudian dibahas oleh Edward Said dalam Orientalism, telah ditunjukkan Asrul dalam esai-esainya.

Pada tahun 1950-an, Asrul bersama Usmar Ismail dll. mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang telah melahirkan Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Sukarno M. Noor, Ismed M., Noor, Tatiek Maliyati, dll. ATNI berusaha mengembangkan tradisi realisme dalam teater seperti di negara-negara Barat. Untuk itu Asrul banyak menerjemahkan lakon-lakon dunia baik karya para pengarang lnggris, Amerika, Perancis, German, Rusia dll. Terjemahan itu memberikan kesempatan kepada para murid ATNI untuk mempraktekkan teori yang dipelajarinya. Kemudian Asrul pun lebih banyak menerjemahkan lakon untuk Bank Naskah yang dibentuk oleh Dewan Kesenian Jakarta. Bukan hanya lakon yang dia terjemahkan, melainkan juga roman dan roman-pendek. Jumlah lakon dan roman yang dia terjemahkan lebih dari seratus judul. Sayang belum semuanya terbit atau sempat dipentaskan.

Tetapi karya Asrul yang pengaruhnya jauh lebih luas adalah dalam bidang perfileman. Asrul mulai terjun ke dunia filem dengan menjadi penulis skenario—pekerjaan yang terus dia tekuni hampir sampai akhir hayatnya. Sebagai penulis skenario Asrul menjadi langganan untuk memperoleh Piala Citra. Skenarionya yang pertama disutradarai oleh H. Usmar Ismail berjudul Lewat Jam Malam yang berhasil memperoleh hadiah terbaik dalam Festival Filem 1954. Skenarionya yang lain yang pernah mendapat Piala Citra antaranya Titian Rambut dibelah Tujuh, Pagar Kawat Berduri, Bulan di atas Kuburan, Al-Kautsar, Jenderal Bonar, Kaukejar Aku Kau Kutangkap, dll.

Sebagai sutradara Asrul juga pernah memenangkan Hadiah dalam Festival Filem Asia dengan filemnya berjudul Apa yang Kaucari, Palupi? Filem-filemnya yang lain yang patut disebut adalah Bulan di atas Kuburan, Jembatan Merah, Kemelut Hidup, Salah Asuhan, dll.

Tapi kecuali sebagai pekerja filem, Asrul juga pemikir tentang perkembangan perfileman nasional. Asrul pernah menjadi Ketua Dewan Nasional Filem Nasional yang dibentuk oleh Menteri Penerangan berdasarkan konsep yang diajukannya. Konsep itu tidak jalan karena dalam alam Orde Baru, praktek bisnis dan KKN keluarga Suharto merajai lapangan dalam segala bidang, termasuk pemonopolian dalam impor filem dan kepemilikan bioskop, sehingga filem nasional menjadi lumpuh. Keadaan perfileman nasional yang menghadapi kebangkrutan, menyebabkan Asrul memusatkan perhatian kepada penulisan skenario dan pembuatan sinetron untuk televisi. Patut dicatat bahwa Asrul banyak membuat sinetron berdasarkan karya-karya sastera klasik dalam bahasa Indonesia seperti Siti Nurbaya (Marah Rusli), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati), dll. Dengan usahanya itu Asrul hendak mendekatkan karya sastera nasional kepada para penonton televisi yang jumlahnya jauh lebih banyak dari para pembaca roman yang dijadikan dasarnya. Dengan demikian ia pun berharap akan tergugah minat penonton untuk membaca sendiri karya sasteranya.

Kalau kita perhatikan, langkah-langkah Asrul baik dalam bidang sastera, teater maupun filem, semuanya bersifat strategis. Dia selalu meletakkan dasar pemikiran untuk langkah-­langkah selanjutnya. Dialah yang menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang yang kemudian dianggap sebagai konsep dasar Angkatan 45dalam kesenian. Dia juga menulis Surat Kepercayaan Gelanggang yang lain yang menjadi konsep dasar Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia) yang dia dirikan bersama H. Usmar Ismail dll di lingkungan NU. Dia juga menjadi salah seorang seniman yang ikut meletakkan konsep dasar Pusat Kesenian Jakarta yang meliputi Akademi Jakarta (AJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia anggota AJ pernah menjadi salah seorang Ketua DKJ dan pernah pula menjadi Rektor IKJ.

Ada kritik terhadap Asrul yang selalu tidak mau menjadi “orang kantoran” sehingga banyak yang kecewa, misalnya sebagian seniman sekitar tahun 1980 menuduhnya tak pantas menjadi Ketua DKJ karena jarang datang ke kantor. Tetapi pada waktu itu Asrul dipilih menjadi salah seorang Ketua DKJ bukan karena diharapkan dia akan berkantor setiap hari, melainkan karena kebijakannya dalam bicara diharapkan akan dapat meyakinkan Gubernur yang baru tentang pentingya Pusat Kesenian Jakarta. Asrul sendiri pernah menyatakan bahwa dia tidak mau terjebak menjadi seorang profesional, karena dia ingin bebas menjelajahi berbagai profesi untuk memberikan bentuk kepada kreativitas yang hendak dicurahkannya.

Asrul tidak akan menjadi lebih besar kalau dia menerima gelar Doktor HC, karena tanpa gelar apa pun dia memang seorang besar yang langka. Tetapi ketika jenazahnya sedang dimandikan dan disalatkan di rumahnya saya mendengar dari Prof. Dr. Riris Sarumpaet bahwa sebenarnya setelah dia diangkat menjadi gurubesar beberapa bulan yl. dia berusaha agar pemberian gelar buat Asrul itu dilaksanakan dan dia telah berhasil karena SK pemberian gelar itu sudah keluar tg. 24 Desember 2003, hanya karena prosedur birokrasi yang makan waktu belum juga sampai kepada yang bersangkutan, saya merasa sedikit lega, karena dengan demikian tradisi penghargaan akademis kepada kreativitas telah dibukakan. Sayang bahwa sang tokoh sastera terkemuka yang pernah menjadi dekan yang seharusnya dapat memperlancar proses itu terlalu sibuk dengan dirinya, sehingga hal itu tak dapat dilaksanakan pada saat Asrul sebagai penerimanya masih hidup.

Jakarta, 12 Januari 2004.