Oleh AJIP ROSIDI

PADA bulan Desember 1955, saya menghadiri simposium kesusastraan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Simposium ini untuk mengimbangi simposium kesusastraan yang diselenggarakan di Jakarta oleh para mahasiswa UI setiap tahun sejak 1953. Saya datang bersama Ramadhan K.H., waktu itu masih memimpin majalah bulanan Kompas, majalah yang diterbitkan untuk bacaan mahasiswa yang redaksinya dipimpin oleh Nugroho Notosusanto. Kami menginap di tempat yang disediakan oleh penyair Kirdjomuljo. Kesempatan itu kami pakai untuk mengenal para sastrawan Yogyakarta lebih baik.

Pada acara penutupan simposium kesusastraan itu, dipertunjukkan berbagai bentuk kesenian. Yang sangat menarik hati dan karena itu terus saya ingat sampai sekarang ialah pertunjukan tari “Layang-layang” oleh Bagong Kussudiardjo, ketika itu penari dan koreografer muda yang namanya mulai terkenal. Dia berangkat dari tari Jawa, tetapi pernah belajar kepada penari modern Amerika Martha Graham.

Berlainan dengan tari Jawa klasik, tari “Layang-layang” Bagong penuh dengan gerak dan adegan yang lucu sehingga mendapat sambutan tepuk tangan riuh dari para hadirin. Saya anggap tarian itu sangat indah dan segar.

Waktu itu saya belum kenal dengan Bagong, dan keterangan bahwa ia pernah belajar kepada Martha Graham saya dengar dari Dan Suwaryono yang duduk bersebelahan dengan saya.

Ketika itu saya tinggal di Jakarta dan sajak-sajak dan cerita pendek saya sudah sering dimuat dalam majalah-majalah seperti Mimbar Indonesia, Zenith, Indonesia, Gelanggang/Siasat, Kisah, Konfrontasi, dan lain-lain. sehingga kawan-kawan di Yogya (dan Solo) sering mengundang saya kalau ada kegiatan yang bertalian dengan kasusastraan. Anehnya, ke Bandung saya jarang. Paling-paling hanya lewat saja kalau kebetulan mau pulang ke Jatiwangi atau kembali ke Jakarta. Baru tahun berikutnya saya sering berkunjung ke Bandung, terutama karena hendak menemui Rijono Pratikto yang ketika itu duduk sebagai mahasiswa arsitektur di ITB. Rijono sendiri sering mengunjungi saya di Jakarta.

Tahun 1958-1959 saya tinggal di Sumedang, sehingga bisa lebih sering ke Bandung karena jaraknya lebih dekat. Hampir tiap minggu saya ke Bandung. Sejak tahun itulah saya mengenal kehidupan kesenian di Bandung lebih intensif. Saya mulai menghadiri acara-acara latihan tembang Sunda, walaupun hanya sebagai pendengar, antaranya yang diselenggarakan di rumah Abu Armilah, orang tua Ika Rostika dan adiknya Tien Rostini. Ika ketika itu disebut-sebut dalam majalah-majalah sebagai “Upit Sarimanah muda”. Rumahnya di belakang masjid Agung, di seberang kantor surat kabar Sipatahoenan di Jalan Dalem Kaum. Pada waktu itu tulisan saya sering dimuat dalam Sipatahoenan, dan kalau saya berkunjung ke kantornya, sering bertemu dengan orang-orang yang juga menulis dalam bahasa Sunda. Pada waktu itu, majalah-majalah bahasa Sunda seperti Warga, Panghegar, Mangle, dan lainnya menghadapi kesulitan terbit, karena itu Sipatahoenan-lah yang menjadi satu-satunya media yang menyediakan tempat untuk karya-karya dalam bahasa Sunda. Priyatna Affiatin yang banyak menulis atau menerjemahkan cerita pendek yang dimuat dalam Sipatahoenan, sering mengajak saya menghadiri latihan-latihan Tembang Sunda Cianjuran, antaranya di rumah Abu Armilah, karena Priatna suka memetik kecapi –walaupun kehadiran saya hanya sebagai anak bawang yang tak pernah masuk hitungan.

Pada masa itu jugalah saya berkenalan dengan Sayudi, waktu itu masih bekerja di Kantor Pos Besar Bandung, di Jalan Asia Afrika. Saya lebih dahulu mengenal Sayudi melalui sajak-sajaknya yang sering dimuat sebagai pemenuh halaman dalam majalah Warga dan Sipatahoenan, padahal sajak-sajaknya itu indah-indah dan memberikan udara baru dalam penulisan puisi bahasa Sunda. Meski sudah bekerja, Sayudi duduk sebagai pelajar Sekolah Konservatori Karawitan (Kokar) yang dipimpin oleh Rd. Machjar Angga Kusumadinata. Kalau tidak salah Sayudi menjadi siswa Kokar angkatan pertama –lebih dahulu dari Nano S. dan Tati Saleh.

Sayudi-lah yang memperkenalkan saya pada kehidupan kesenian di Bandung dengan lebih intensif. Bukan hanya yang diselenggarakan secara formal dalam gedung kesenian (wayang golek di Yayasan Pusat Kebudayaan) atau latihan-latihan di rumah para seniman, tetapi juga dengan pertunjukan-pertunjukan kesenian rakyat seperti longser, sandiwara, celempungan, dan lain-lain. Kesenian Sunda biasanya dipertunjukkan kalau ada orang yang hajat menyunati anak atau menikahkan putranya. Walaupun tidak diundang, kita bisa ikut menyaksikan pertunjukan wayang golek dengan pesinden Upit Sarimanah atau Titim Patimah. Kedua pesinden itu sangat populer masa itu dan sudah melegenda, sehingga kalau mereka tampil di panggung wayang golek, jalan sekitar tempat pertunjukan itu (biasanya di rumah yang empunya hajat), tak bisa dilewati karena penuh dengan kerumunan orang yang sengaja datang untuk menonton. Orang lebih tertarik untuk mendengarkan sang pesinden daripada pertunjukan wayang goleknya. Pada waktu itu orang tidak bertanya siapa dalangnya, melainkan siapa pesindennya. Para dalang sendiri tampaknya menyadari kedudukannya yang lebih rendah, sehingga dalam panggung pertunjukan pesinden duduk di atas kursi atau meja –lebih tinggi dari dalang.

Kalau tidak ada orang yang hajat, Sayudi mengajak saya menonton longser Bang Tilil yang pada waktu itu hampir setiap malam mengadakan pertunjukan di halaman sebelah selatan stasiun kereta api Bandung. Dalam kesempatan itulah saya menyaksikan Bang Tilil menarikan tari “Langlayangan” yang menurut Sayudi adalah ciptaan Bang Tilil sendiri. Tarian itu mengejutkan saya karena boleh dikatakan sama benar dengan tari “Layang-layang” yang pernah saya tonton ditarikan oleh Bagong Kussudiardjo dalam penutupan acara simposium kesusastraan di Yogyakarta.

Meskipun pertunjukan Bagong saya saksikan beberapa tahun lebih dahulu, tetapi kemungkinan Bang Tilil meniru atau memplagiat tarian Bagong tidaklah ada. Pertama, Bagong jarang menarikan tarian itu. Kedua, kalaupun dia mempertunjukkan tariannya itu, tidaklah mungkin Bang Tilil, yang seniman rakyat jelata itu mendapat kesempatan untuk hadir dalam forum tempat Bagong mempertunjukkannya. Bang Tilil niscaya tidaklah mungkin hadir dalam acara seperti simposium kesusastraan yang diselenggarakan di salah satu pendopo Keraton Yogya itu.

Sebaliknya, Bagong memiliki peluang yang lebih besar untuk menonton Bang Tilil mempertunjukkan tarian “Langlayangan”. Meskipun Bagong tinggal di Yogyakarta, dia sering berkunjung ke berbagai kota, termasuk Bandung. Meskipun dia berasal dari keluarga Pakualaman yang ningrat, namun sebagai seniman dia suka mencari yang baru, termasuk dari kesenian rakyat dan mencangkoknya; karena itu di kalangan tari Jawa pada mulanya dia dianggap penyeleweng. Pernah pertunjukan tarinya yang awal dilempari barang-barang busuk karena dianggap melanggar pakem tari Jawa. Sangatlah munasabah kalau dalam salah satu kesempatan kunjungannya ke Bandung, Bagong secara kebetulan menonton Bang Tilil menarikan “Langlayangan”.

Ketika sudah kenal dan akrab dengan Bagong saya pernah bertanya tentang “Langlayangan” Bang Tilil yang sama dengan tari “Layang-layang” ciptaannya. Tetapi Bagong memotong pertanyaan saya dengan pernyataan, “Bang Tilil itu guru saya.” Saya tidak bertanya lebih lanjut walaupun dalam hati berpendapat bahwa menganggap Bang Tilil guru bukan berarti boleh mengaku ciptaan Bang Tilil sebagai ciptaannya sendiri.

Bang Tilil yang nama aslinya Akil adalah pemimpin rombongan longser yang mencari nafkahnya dengan mengadakan pertunjukan di tempat-tempat umum seperti alun-alun, pasar, dan semacamnya. Dari orang-orang yang menontonlah rombongan longser “nyarayuda”, yaitu memungut uang seikhlasnya dari para penonton. Di samping itu, mereka juga mendapat uang dari “pangalungan” penonton yang tertarik hatinya oleh tarian atau “akting” atau kecantikan penari perempuan (”ronggeng”) di pentas. Yang menjadi pentas longser adalah kalangan yang berupa tapal kuda, karena para penonton menonton berkeliling tapi pada satu sisi ditempati oleh para “panjak” yang menabuh gamelan seadanya dan juga para “ronggeng” yang sedang beristirahat. Penerangan dilakukan dengan “oncor” (kemudian dengan “petromaks”), yaitu semacam obor-minyak yang cukup besar dengan kaki yang tinggi, diletakkan di tengah-tengah pentas, sehingga menyinari ruang sekitarnya.

Rombongan longser tidak mengadakan pertunjukan menetap di satu tempat, melainkan berpindah-pindah. Kalau di suatu tempat dianggap minat penonton sudah berkurang, mereka pindah ke tempat lain. Tidak hanya dalam Kota Bandung, melainkan juga ke kota-kota lain di Jawa Barat. Ketika saya masih kecil, saya menonton longser di pasar Desa Sutawangi, di seberang utara alun-alun kewedanan (sekarang kecamatan) Jatiwangi. Berganti-ganti rombongan yang mengadakan pertunjukan di Jatiwangi itu, semuanya datang dari daerah Priangan –Sumedang atau Bandung. Saya kira Bang Tilil pun pernah ngamen di Jatiwangi pada awal masa revolusi (tahun 1946 atau 1947).

Yang ditampilkan dalam pertunjukan longser adalah tari-tarian para ronggeng, yang kalau ada penonton yang berminat boleh juga masuk ke pentas untuk menari bersama dengan ronggeng yang disukainya. Sebagai pengantar sebelum para ronggeng menari, biasanya pemimpinnya yang merangkap sebagai badut, menari sambil menyanyi lebih dahulu. Selalu ada ronggeng yang menjadi sinden, mengiringi tari-tarian sesuai dengan lagu yang diminta oleh penonton. Lagunya biasanya yang lagi populer pada masa itu, di samping lagu-lagu khas longser dan ketuk tilu yang sudah klasik seperti “Awi Ngarambat”, “Berenuk Mundur”, “Polostomo”, dan semacamnya.

Dalam tradisi longser, tidak ada tari-tarian yang baru diciptakan. Karena itu Bang Tilil sebenarnya keluar dari kebiasaan para pemimpin longser yang lain, ketika dia menciptakan dan menarikan tari “Langlayangan” yang melukiskan orang yang memegang tali layangan yang sedang terbang mengawang. Gerakan-gerakannya sederhana tapi hidup, sehingga dipahami oleh para penonton yang sering tergelak-gelak melihat tarian Bang Tilil yang melukiskan kekecewaan orang yang layangannya tak mau terbang atau karena putus dalam pergesekan dengan “gelasan” layangan lain.

Tidak dalam setiap pertunjukan Bang Tilil menarikan tari “Langlayangan”, tetapi saya sempat menyaksian tari “Langlayangan” dua tiga kali kalau kebetulan menonton longser Bang Tilil, entah di depan stasiun Bandung entah di terminal bus Kebon Kalapa. Konon Bang Tilil juga sering mengadakan pertunjukan di Karapitan dekat lapangan Uni, tidak begitu jauh dari rumahnya.

Ada tari lain ciptaan Bang Tilil, yaitu “Domino”, melukiskan orang yang tergila-gila main domino. Ini juga sangat menarik, katanya. Sayang saya sendiri tidak pernah sempat menyaksikannya. Memang “longser” biasanya tidak pernah ditanggap, melainkan mengadakan pertunjukan di tempat yang dipilihnya sendiri. Apa yang dipertunjukkannya pun bergantung kepada pemimpinnya. Kadang-kadang longser juga “ngalalakon” yaitu seperti lenong, menyajikan cerita.

Tentu saja dunia Bang Tilil sangat jauh dari dunia gemerlapan tari Sunda yang biasanya dipertunjukkan di Istana Merdeka Jakarta. Pada masa Bung Karno jadi presiden, Beliau sering mengadakan pertunjukan kesenian dan mengundang para seniman untuk main di sana atau di Gedung Pakuan tempat tinggal Gubernur Jawa Barat. Tetapi pada tahun 1963, Bang Tilil pernah muncul dengan tariannya di depan para peserta Konperensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) di Gedung Merdeka, karena wartawan LKBN “Antara” Ramadhan K.H. yang menjadi anggota panitia terhasut oleh Sayudi untuk mengundang Bang Tilil tampil dalam acara penutupan. Ternyata, Bang Tilil mendapat sambutan yang baik sekali, sehingga sejak itu beberapa kali Bang Tilil muncul dalam acara yang bersifat nasional di Bandung. Bahkan konon pernah juga tampil di Gedung Pakuan.

Ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada paruh kedua tahun 1970-an, saya pernah merencanakan mengundang Bang Tilil untuk tampil di TIM. Tetapi maksud itu tidak terlaksana karena Bang Tilil sudah sakit-sakitan dan tidak lama kemudian meninggal. Sayang.

Kalau menyaksikan tari “Langlayangan”, kita tidak akan ragu menyebutnya sebagai ciptaan yang orisinel dan indah sekali. Penciptanya mengenal betul dunia yang hendak dilukiskannya, dan dia berhasil menampilkannya dalam gerak tari yang spontan dan penuh ekspresi. Tidak ada kostum yang khusus. Biasanya Bang Tilil waktu menarikan “Langlayangan” tetap mempergunakan kostum sehari-harinya, yaitu baju atau kaus lengan pendek dipadu celana pendek yang dililit dengan sarung pada pinggangnya, sedangkan kepalanya memakai kopiah hitam yang dipasang melintang. Artinya, untuk menarikan “Langlayangan” dia tidak mengganti pakaiannya dengan yang khusus, melainkan tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya pada waktu pertunjukan.

Sangatlah menarik, bahwa nama Bang Tilil tidak pernah masuk dalam daftar koreografer Sunda berderet dengan nama-nama gemerlapan lain yang kebanyakan sebenarnya hanya mengutak-atik tarian yang sudah ada saja yang diakunya sebagai ciptaannya sendiri. Para pengamat dan para ahli tari Sunda sejauh ini tidak ada yang menganggap para penari dan pencipta tari rakyat cukup penting untuk mendapat kehormatan masuk dalam khazanah kekayaan kesenian tari Sunda. Yang dianggap tari Sunda adalah dunia gemerlap kostum dengan gerakan-gerakan baku yang klise dengan maksud menyenangkan para penonton yang biasanya terdiri dari para pejabat. Tidak usah heran, karena tradisi pertunjukan tari Sunda adalah melanjutkan kebiasaan di pendopo kabupaten pada masa sebelum perang yang biasanya merupakan kegiatan kaum menak saja. Yang bisa ditonton rakyat adalah “nayuban” yang sering diadakan kalau ada menak menyelenggarakan hajatan. Baru kemudian kebiasaan menanggap “nayuban” kalau hajatan dilakukan juga oleh kaum saudagar yang banyak uang. “Nayuban” sering berakhir dengan mabuk-mabuk dan tak jarang menimbulkan perpecahan rumah tangga.

Secara sosiologis memang Bang Tilil berada di luar tradisi tari Sunda yang sekarang berkembang. Selain Bang Tilil para pemimpin longser yang lain sepanjang tahu saya tidak ada yang menciptakan tari sendiri. Dan tidak lama setelah Bang Tilil meninggal, “longser” juga sebagai pertunjukan rakyat menghilang. Salah seorang murid Bang Tilil, Bang Djapar, tidak bisa bertahan lama.

Sangatlah menarik kenyataan bahwa tarian “Langlayangan” Bang Tilil telah menggerakkan Bagong Kussudiardjo mencangkoknya (dan mengakunya sebagai ciptaannya sendiri). Artinya, Bagong yang berasal dari keraton Pakualaman itu melihat nilai yang tinggi pada kesenian rakyat Sunda seperti yang dipertunjukkan dalam “longser”. Tetapi mengapa tidak ada penari Sunda yang tertarik hatinya kepada “Langlayangan” Bang Tilil? Bukan untuk menirunya, tetapi untuk mengajaknya memperkaya khazanah tari Sunda. Dalam hal ini, mungkin anggapan yang merendahkan karena asalnya dari kalangan tradisi seni rakyatlah yang menjadi halangan. Orientasi para seniman Sunda sampai sekarang umumnya memang masih feodalistis dengan menganggap para pejabat sekarang sebagai kaum menak yang menjadi “maecenas” kesenian seperti para “dalem” dahulu.***