Tulisan di bawah merupakan cuplikan dari buku Hidup Tanpa Ijazah: yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi Ajip Rosidi; Pustaka Jaya, 2008). Buku ini ditulis secara sistematis dengan ketebalan lebih dari 1.300 halaman.
Sejak karanganku dimuat dalam majalah-majalah, aku mulai berkenalan dengan para pengarang muda yang ketika itu banyak memuatkan karangannya dalam majalah-majalah Siasat, Mimbar Indonésia, Kisah, dll. bersama-sama dengan karanganku, misalnya S.M. Ardan, Soekanto S.A., Sobron Aidit, kemudian juga dengan Riyono Pratikto yang tinggal di Bandung. Riyono sekelas dengan Soekanto ketika di SMP Tegal dan persahabatan mereka tidak terputus. Dia sering menemui Soekanto di Jakarta dan Soekanto memperkenalkannya dengan kawan-kawan sesama pengarang.
Ardan kurus dan agak tinggi, rambutnya ikal, hidungnya agak besar dan mancung. Meski dilahirkan di Médan dia sejak usia 6 bulan dibesarkan di Jakarta. Sangat hati-hati, baik berbicara maupun melakukan sesuatu, sehingga bisa mengesankan bahwa dia lamban. Tetapi kalau menulis dia sangat tangkas. Seperti yang lain dia mulai mengirimkan karangan berupa sajak, kemudian cerita péndék, dimuat dalam majalah Pudjangga Baru, Siasat, Kisah, Indonésia, Mimbar Indonésia, dll. Rumahnya sebenarnya sempit, ruang tamunya juga kecil. Tetapi hampir setiap hari kami berkumpul di situ sambil berbincang-bincang. Soekanto, Misbach, Sumandjaja, Achmad M.S., aku dan beberapa orang lagi merupakan tamu tetapnya. Ketika yang lain baru mampu menulis sajak dan cerita péndék, Ardan menulis ésai dan juga menulis resénsi tentang buku-buku yang baru terbit. Perhatiannya juga besar terhadap filem. Sering dia menulis resénsi tentang filem yang sedang diputar di bioskop-bioskop di Jakarta dimuat dalam majalah Anéka. Dia antaranya menulis resénsi tentang filem Rashomon buahtangan sutradara Kurosawa Akira berdasarkan cerita péndék Akutagawa Ryonosuké yang mendapat hadiah dalam féstival Cannes. Aku sendiri menonton dan menikmati filem itu, tetapi Ardan dalam resénsinya menunjukkan mengapa filem itu bagus.
Soekanto setamat dari Taman Madya (bersama Ardan dan Sobron) bekerja di Kantor Pos Pusat di Pasarbaru di bagian ékspédisi, sehingga dia selalu tahu kalau ada kawannya mengirimkan karangan ke sebuah majalah, atau karangannya dikembalikan oléh H.B. Jassin. Kanto selalu ingin menyenangkan hati orang, karena itu selalu menghindarkan pertengkaran dengan siapa pun. Dia merasa lebih baik mengalah daripada bertengkar. Kelihatan wajahnya menyesal sekali kalau dia merasa telah mengatakan sesuatu yang menyebabkan orang lain tersinggung. Dia lebih banyak menulis cerita péndék walaupun ada juga sajaknya yang dimuat dalam majalah.
Sobron bertubuh gemuk, berlainan dengan tubuh kawan-kawannya pengarang yang umumnya kerémpéng. Pada waktu itu hanya tiga orang sasterawan yang gemuk, yaitu Sobron, Bahrum Rangkuti dan H. B. Jassin. Sebenarnya Jassin tidak begitu gemuk, tetapi karena péndék maka kelihatan lebih gemuk. Sobron lahir di Belitung, tetapi dibawa ayahnya ke Jakarta ketika ayahnya diangkat menjadi anggota parlemén RI sebagai wakil daérahnya. Abangnya yang sulung, D.N. Aidit menjadi Ketua Partai Komunis Indonésia (PKI) yang ketika itu mulai menguat. Sobron sendiri pada waktu itu kelihatannya tidak tertarik oléh paham abangnya, karena itu dia tidak menjadi anggota Lékra, organisasi kebudayaan yang berinduk kepada PKI. Sobron suka bergurau, tetapi tidak suka dikritik. Baru setelah mulai aktif dalam kegiatan kiri (menjadi pengurus lembaga persahabatan RI-RRC dan RI-Vietnam) dia jarang malah kemudian tidak pernah datang lagi ke rumah Ardan. Kadang-kadang kami bertemu dengan dia di Senén, tempat berkumpulnya orang-orang yang disebut “Seniman Senén”.
Bersama Ardan dan Soekanto aku juga berkenalan dengan M. Balfas, H.B. Jassin dan Idrus yang menjadi redaktur majalah Kisah. Majalah itu diterbitkan oléh Sudjati S.A. (tak ada hubungan apa-apa dengan Soekanto S.A.). Sudjati tadinya bekerja sebagai wartawan mingguan Siasat dan telah menerbitkan kumpulan tulisannya dalam majalah tersebut berjudul Al-Kisah. Rumahnya di jalan Paséban menjadi kantor majalah Kisah. Kami sering pergi ke situ untuk mengambil honorarium kalau ada tulisan yang dimuat. Soedjati berambut keriting berkacamata, seorang pengusaha yang keras. Setelah menerbitkan Kisah, dia menerbtikan majalah Roman, Kamprét, Si Kuntjung dan lainnya. Hanya Si Kuntjung (majalah kanak-kanak) yang umurnya lebih dari 10 tahun.
Rumah M. Balfas di sebuah gang dekat jalan Paséban. Dia keturunan Arab, bertubuh agak kecil, suka bicara. Kami kagum kepadanya, karena ternyata dia kenal pribadi dengan Chairil Anwar. Sebelum menjadi redaktur Kisah, dia bekerja di mingguan Siasat bersama Asrul Sani dan Rivai Apin yang menjadi redaktur ruang “Gelanggang”. Dialah konon yang menjaga kolom “Pahatan” yang banyak menulis tentang kesenian dan para seniman. Kumpulan cerita péndéknya Lingkaran-lingkaran Retak diterbitkan oléh Balai Pustaka. Balfas juga suka pada seni lukis, kadang-kadang dia menulis resénsi paméran lukisan. Dia mengenal banyak pelukis terkemuka. Seperti kelihatan dari namanya dia keturunan Arab. Sebagai orang Arab tubuhnya agak terlalu kurus dan péndék. Rambutnya keriting dan sering memelihara kumis. Suka bicara, tangkas menanggapi pendapat orang lain. Kalau kami datang, dia kelihatan senang dan banyak bercerita tentang pengalamannya bergaul dengan para seniman lain, terutama dengan Chairil. Pada tahun 1954 dia diundang oléh Sticusa berkunjung ke negeri Belanda. Ketika pulang dia membawa isteri bulé. Tentu saja tak bisa diajak tinggal di gang kampung. Kami juga jadi segan mengunjunginya.
Idrus tinggal di gang juga, tapi agak jauh dari jalan Paséban, yaitu di Kebonkosong, mungkin karena itu dia jarang datang ke kantor redaksi majalah Kisah. Idrus sudah kukenal melalui bukunya Aki, dan Dari Avé Maria ke Jalan lain ke Roma. Orangnya agak péndék, dengan rambut kejur. Cakap berbicara seperti umumnya orang Minang. Aku pertama kali melihatnya ketika menghadiri ceramah yang diadakan di Merdéka Selatan. Idrus yang berceramah. Aku lupa tentang apa, tetapi menurut Achdiat yang menjadi moderator ceramah itu, aku katanya sempat mengemukakan pertanyaan. Idrus kukenal sebagai pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa seperti Chairil di bidang puisi. Itu yang kubaca dan kudengar. Kupasannya tentang cerita péndék terjemahan yang dimuat dalam Kisah, kubaca dengan teliti.
Aku merasa kagét ketika berkunjung ke rumahnya berdua dengan Ardan dia mengatakan bahwa hidup sebagai sasterawan di Indonésia tidak menjanjikan apa-apa. Karena itu ia mau mencari uang dahulu. Kalau sudah kaya baru dia akan kembali menulis karya sastera.
Yang lebih sering kami kunjungi adalah H. B. Jassin, juga tinggal di gang, yaitu di gang Siwalan, tak jauh dari jalan Rasamulya. Pertama kali berkunjung ke rumahnya, kami datang beramai-ramai: Ardan, Soekanto, Riyono dan aku. Jassin memperlihatkan wajah yang senang kalau kami kunjungi. Percakapan rasanya lebih banyak searah, yaitu kami hanya sebagai pendengar setelah mengajukan pertanyaan. Kalau kami bertamu, Jassin yang sedang santai dengan memakai sarung, selalu masuk dahulu ke kamar untuk kemudian muncul lagi dengan celana panjang dan keméja lengan péndék yang nécis. Dia tidak mau menghadapi tamu, walaupun tamunya anak-anak seperti kami dengan bersarung. Bahkan juga kalau aku datang sendirian. Jassin beberapa kali mengaku dirinya kurang lancar berbicara, kurang suka muncul di depan publik, dia lebih suka menulis. Di rumahnya ada Arief, adiknya yang kemudian menjadi diplomat dan juga Dédé yang membantu mengurus dokuméntasinya. Isteri pertama Jassin orang Sunda dari Bogor, sehingga kalau bercakap dengan aku dia biasa menggunakan bahasa Sunda. Ada dua orang anaknya yang masih kecil, satu laki-laki satu perempuan, Hanibal dan Mas.
Jassin kelihatan gemuk untuk ukuran tubuhnya yang tidak tinggi. Berbicara halus, disertai dengan senyum yang menawan. Pada pipinya ada tahi lalat yang cukup besar. Usianya sebaya dengan Apah, tapi nampak lebih gesit. Kalau bepergian di tangannya selalu ada yang dia bawa entah tas-tangan, entah buku.
Dengan mengenal orang-orang yang berkecimpung di dalam dunia sastera, maka pengetahuanku menjadi lebih mendalam. Aku banyak belajar dari mendengarkan percakapan orang-orang yang jauh lebih tua dan lebih berpengalaman denganku. Rasa percaya diriku untuk hidup sebagai pengarang lebih kuat.
Bacaanku juga kian luas. Maka diperlakukan oléh guru sastera yang menyuruhku keluar, aku hanya tertawa dalam hati, lalu keluar dan tidak pernah mengikuti lagi pelajarannya. Baru kemudian Ardan memberitahu bahwa Ibu Nursinah Supardo itu, anak perempuan Nur Sutan Iskandar pengarang Katak Hendak Jadi Lembu! Kiranya itulah sebabnya kebanyakan buku-buku ayahnya saja yang disebut sebagai contoh dalam buku ajar yang disusunnya itu.