Tulisan di bawah merupakan cuplikan dari buku Hidup Tanpa Ijazah: yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi Ajip Rosidi; Pustaka Jaya, 2008). Buku ini ditulis secara sistematis dengan ketebalan lebih dari 1.300 halaman.

Dengan membaca buku-buku dan majalah yang kubeli di loak itu, pengetahuanku mengenai sastera mulai terpupuk. Kegemaran menulis masih kuteruskan, tetapi hasilnya tidak ada yang kukirimkan ke mana pun. Cita-citaku hendak menyusun naskah untuk diterbitkan sebagai buku. Karena pengaruh buku Penuntun Karang Mengarang oléh Si Uma, aku menghitung-hitung berapa banyak uang yang akan aku terima kalau ada bukuku yang diterbitkan. Setelah membaca Pembébasan Pertama Amal Hamzah, aku pikir tidak ada susahnya menulis sajak atau cerita seperti itu. Maka kalau malam di rumah, setelah orang lain selesai belajar, aku menulis sajak atau cerita di atas méja belajar. Waktu berliburan ke Jatiwangi kuketik dengan menggunakan mesin ketik yang ada di rumah Apah. Lalu naskah itu kukirimkan ke sebuah penerbit, tapi tidak lama kemudian dikembalikan. Waktu Mang Éméng melihat aku kecéwa karena naskahku dikembalikan, dia menganjurkan agar aku mengirimkan sajak-sajak dan cerita péndék itu ke majalah dahulu. Kalau sudah sering dimuat dalam majalah baru mengirimkan naskah untuk buku. Nasihat itu kuturut. Karena majalah yang ada padaku waktu itu adalah Zenith, Indonésia dan Siasat (Seniman sudah berhenti terbit), maka sejumlah sajak aku kirimkan ke majalah Zénith dan Siasat, sedangkan cerita péndék dikirimkan kepada redaksi majalah bulanan Indonésia. Dan ternyata ada yang dimuat.

Aku duduk di kelas III ketika sajak dan cerita péndékku dimuat dalam majalah Mimbar Indonésia, mingguan Siasat, bulanan Indonésia dan Zénith yang pada waktu itu merupakan majalah-majalah terkemuka di Indonésia. Dan pemuatan sajak dan cerita péndék dalam majalah itu diikuti dengan honorarium yang kuterima melalui poswésel. Untuk sebuah sajak Rp. 25 dan cerita péndék Rp. 75 dari Mimbar Indonésia, sebuah cerita péndék dalam majalah Indonésia malah mendapat honorarium Rp. 125. Jumlah yang bukan sedikit pada waktu harga beras tidak sampai Rp. 1/kg. Apalagi buat seorang pelajar SMP. Dengan uang itu aku bisa membeli buku lebih banyak.

Menjelang waktu ujian penghabisan, aku jatuh sakit parah. Entah apa sakitku, karena tidak ke dokter. Tapi Bi Juni membuatkan tim ayam yang dilunakkan tulangnya, katanya baik untuk orang sakit supaya lekas sembuh. Tapi ketika hari ujian mendekat aku belum juga sembuh, sehingga aku memutuskan untuk menempuh ujian susulan saja yang diadakan beberapa waktu sesudahnya. Aku menulis surat kepada Kepala Sekolah menyampaikan maksudku, dan surat itu kutitipkan kepada Tasmid yang setiap hari selalu rajin belajar untuk menghadapi ujian. Aku diperboléhkan mengikuti ujian susulan. Dengan begitu aku tidak merasa perlu belajar untuk menghadapi ujian. Setiap hari tidur atau membaca buku sastera. Tapi pada waktu hari ujian tiba, waktu Tasmid bersiap-siap hendak berangkat, aku tiba-tiba memutuskan lebih baik aku juga ujian waktu itu saja. Maka aku berangkat bersama Tasmid dan kawan-kawan lain untuk menempuh ujian.

Selesai mengerjakan ujian, aku berbaring lagi karena masih belum sembuh. Alangkah terkejutnya aku, waktu hari pengumuman ujian tiba, aku termasuk yang lulus, sedangkan Tasmid tidak. Padahal dia anak yang rajin dan cukup pandai. Waktu itu aku tiba pada kesimpulan bahwa ujian itu untung-untungan saja. Atau hanya kebetulan belaka. Artinya tidak sebenarnya menggambarkan kemampuan murid yang diuji. Yang rajin dan pandai bisa jatuh, yang malas dan bodoh bisa lulus.

Aku lulus dari SMP Bagian B. Pada waktu itu ada mitos yang mengatakan bahwa anak yang belajar di Bagian B itu pandai. Sedangkan yang masuk bagian A atau C dianggap kurang pandai. Tapi aku punya cita-cita untuk jadi pengarang, artinya harus belajar bahasa dan kesusasteraan, adanya di Bagian A. Tak susah dari Bagian B mau pindah ke bagian A. Tetapi kalau aku melepaskan Bagian B-ku, rasanya sayang. Teringat aku akan nasihat Pak Birsak agar aku menjadi insinyur pertambangan. Maka aku mendaftar ke SMA Bagian B di jalan Batu – di depan stasiun Gambir. Diterima. Aku juga mendaftar di Bagian A SMA jalan Budi Utomo. Diterima juga. Tapi keduanya masuk pagi. Tak mungkin aku belajar di dua sekolah pada waktu yang sama. Maka aku mendaftar ke SMA Perjuangan yang bertempat di jalan Budi Utomo juga, tetapi masuk soré.

Sementara itu Pak Kurnain Suhardiman yang tinggal di bekas kandang sepéda SMP VIII dan bersamaku mengasuh majalah Suluh Peladjar, memberi tahu bahwa beliau akan menikah. Sesudah menikah akan pindah ke rumah mertuanya. Aku dimintanya agar tinggal di bekas kandang sepéda itu menggantikannya. Katanya Ibu Sugihasih Tjokrokusumoh, Kepala Sekolah, sudah memberi izin, karena aku harus terus mengurus majalah Suluh Peladjar. Pak Kurnain sendiri berjanji bahwa dia tidak akan lepas tangan sama sekali dalam mengurus majalah Suluh Peladjar. Sekali-sekali dia akan datang menemuiku di kandang sepéda itu.

Aku menganggap itu kesempatan yang baik, karena dengan demikian aku tidak usah lagi memberatkan Mang Éméng, terutama karena aku sudah bisa mendapat uang dari honorarium tulisan-tulisanku. Mémang tidak cukup untuk hidup, tetapi aku harus belajar mandiri. Kalau kepépét tentu kepada siapa lagi akan meminta, kataku kepada Mang Éméng. Akhirnya Mang Éméng setuju. Maka aku mengangkut pakaian dan koléksi bukuku ke kandang sepéda di jalan Pegangsan Barat 1.