Tulisan di bawah merupakan cuplikan dari buku Hidup Tanpa Ijazah: yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi Ajip Rosidi; Pustaka Jaya, 2008). Buku ini ditulis secara sistematis dengan ketebalan lebih dari 1.300 halaman.
Kalau pulang dari sekolah pada hari Kemis, aku biasanya membawa beberapa judul buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Sebenarnya jumlah buku yang dipinjam oléh seorang murid dibatasi satu judul seminggu. Tapi karena guru yang mengurus perpustakaan itu ayahku, maka aku bisa meminjam lebih banyak. Kadang-kadang sampai empat judul. Semacam KKN juga. Tapi sebelum tiba hari Kemis berikutnya (hari peminjaman buku), semua buku itu sudah selesai kubaca, bahkan ada yang sempat kuulangi membacanya.
Tempat yang paling aman untuk membaca buku ialah di bawah kursi malas Pak Kuwu. Kursi itu diletakkan di ruang depan, buat soré-soré bermalas-malasan setelah seharian bekerja. Anéhnya, Pak Kuwu tidak pernah menyadari bahwa di kolong kursi yang ditidurinya itu ada cucunya yang asyik membaca buku.
Imih setelah bercerai dengan Apah, tinggal bersama ibunya. Aku, anak sulung Imih, dibawanya serta. Tetapi adikku, Ayat, dibiarkannya dibawa oléh Apah. Apah telah menikah lagi dan telah mempunyai anak lagi dari isteri yang baru. Rumahnya di kampung Pesantrén, yang letaknya di sebelah utara jalan raya Bandung-Cirebon. Ada kira-kira seratus méter jauhnya dari jalan raya. Apah menjadi guru di sekolah satu-satunya di kota Jatiwangi waktu itu.
Kakék menjadi kuwu di désa kami, yaitu désa Ciborélang, yang menjadi bagian paling timur dari kota kewedanan Jatiwangi. Ada tiga désa yang membentuk kota Jatiwangi, yaitu paling barat désa Cicadas, di tengah désa Sutawangi, dan paling timur désa Ciborélang. Kota Jatiwangi dibelah oléh jalan raya Bandung-Cirebon. Jalan raya itu adalah bagian dari jalan raya pos yang dibangun oléh Gubernur Jénderal Daendels – seperti yang kupelajari kemudian di sekolah.
Sebelum menikah dengan Ema, Pak Kuwu pernah menikah dengan wanita lain dan mempunyai dua orang anak perempuan. Keduanya sudah berumah tangga dan tinggal di kampung lain yang masih termasuk désa Ciborélang. Yang sulung kukenal sebagai Wa Isah, mungkin namanya Aisah, agaknya usianya lebih tua dari ibu, sehingga aku memanggilnya dengan tambahan “wa”, menikah dengan Wa Darma yang waktu itu menjadi jurutulis désa di bawah Pak Kuwu.
Anak Pak Kuwu yang seorang lagi, entah apa nama panjangnya, aku menyebutnya Bi Enar. Umurnya niscaya lebih muda dari Ibu, karena aku memanggilnya “bi”, tidak “wa” seperti kepada Wa Isah. Berlainan dengan Wa Isah yang sama sekali tidak mempunyai anak sampai meninggal, Bi Enar punya beberapa orang anak, ada laki-laki ada perempuan. Yang sulung, laki-laki hampir sebaya dengan aku, Samin kalau tak salah namanya. Tetapi ia tinggal bersama orangtuanya di Blok Juma’ah. Suaminya Bi Enar menjadi tukang membuat tahu yang dijual ke pasar.
Samin kadang-kadang datang ke rumah kakék, tetapi jarang dan hubungan Pak Kuwu dengan dia nampaknya jauh, berlainan dengan hubungannya dengan aku – yang sebenarnya bukan cucu kandungnya. Aku kira, Pak Kuwu juga tidak mendorong agar Samin bersekolah, entah mengapa sebabnya. Mungkin karena orangtuanya membutuhkan bantuan tenaganya ketika ia masih anak-anak? Mungkin karena ia sendiri kurang berminat untuk belajar? Aku tidak tahu. Hubungan kami mémang jauh.
Pak Kuwu mungkin lulusan Sekolah Désa, yaitu sekolah tiga tahun. Tapi mungkin juga lulusan Sekolah Angka Dua 5 taun, yaitu sekolah yang kemudian kumasuki, tetapi waktu belajarnya sudah berubah menjadi 6 taun. Dari obrolan-obrolan péndék dapat kuketahui juga bahwa beliau pernah bekerja di Pegadaian Negeri di Semarang atau kota lain di Jawa Tengah. Péndéknya sebelum menjadi jurutulis dan kemudian kuwu di désa kelahirannya, beliau pernah merantau ke tempat yang waktu itu terhitung jauh.
Aku tidak tahu siapa yang menjadi isteri pertamanya. Mungkin sudah meninggal. Yang aku tahu ialah Uyut Isteri, yaitu ibunya yang tinggal berdekatan dengan rumah Bi Enar di Blok Juma’ah. Waktu aku kecil pun usianya sudah lanjut sekali. Wajahnya penuh keriput dan hampir tidak pernah lagi keluar rumah. Kadang-kadang aku diajak Ema atau Pa Kuwu mengunjunginya.
Désa Ciborélang terdiri dari beberapa kampung, ada yang terpisah jauh terhalang oléh sawah yang cukup luas, yaitu kampung Loji, Kampung Kawao dan Dukuh Sari. Désa Ciborélang yang menjadi pusatnya, dibagi-bagi menjadi beberapa Blok. Setiap blok dikepalai oléh Lurah (Kepala Blok). Nama blok diambil dari nama hari. Kampung tempat kami tinggal disebut Blok Rebo, tetapi dinamakan juga Pasuketan, mungkin karena dulunya tempat orang menyabit rumput.