Tulisan di bawah merupakan cuplikan dari buku Hidup Tanpa Ijazah: yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi Ajip Rosidi; Pustaka Jaya, 2008). Buku ini ditulis secara sistematis dengan ketebalan lebih dari 1.300 halaman.
Ke sekolah jadi lebih jauh. Kalau soré hari aku dan adikku belajar juga di madrasah PUI di Kapur. Seusai belajar di SR, aku pulang dahulu ke rumah. Dari sana baru berangkat ka Kapur untuk belajar di madrasah. Kapur itu letaknya di ujung bagian selatan kota Jatiwangi, termasuk désa Sutawangi. Semuanya kutempuh dengan jalan kaki. Kaki telanjang karena sampai waktu itu aku belum mengenal sepatu. Menurut perkiraanku setiap hari aku berjalan kira-kira 5 atau 6 km. Tidak terlalu jauh. Banyak murid lain yang berasal dari desa lain harus menempuh perjalanan yang lebih jauh setiap harinya.
Madrasah PUI tempat aku belajar terdiri dari dua kelas. Aku sekelas dengan Anas, kawan sekelasku di SR, dengan Ayat adikku, dengan Sadjim yang di SR kelasnya lebih tinggi dari aku. Di SR, aku selalu menjadi juara kelas, nomor satu. Anas selalu menjadi nomer tiga, sebab yang selalu menjadi nomor dua adalah Supeno, anak yang matanya hanya sebelah. Dia anak yang sungguh pandai. Kalau saja kedua matanya bisa melihat, niscaya dialah yang akan selalu menjadi juara kelas. Di Madrasah juara kelas adalah Anas, nomer dua Ayat, aku menduduki yang ketiga, karena aku tak pernah mengikuti pelajaran mengaji di rumah Ustad Mustopa.
Ada dua orang ustad yang mengajar kami, yaitu Ustad Mustopa dan Ustad Ismail. Ustad Mustopa aktif dalam partai Masjumi. Dia seorang ahli pidato yang piawai. Pembicaraannya selalu dibumbui oléh humor yang membuat pendengarnya tertawa. Dari dialah aku mendengar pertama kali bahwa Islam itu artinya Isa, Subuh, Lohor, Asar dan Magrib. Kemudian mémang aku tahu bahwa yang merumuskannya pertama kali bukan Ustad Mustopa, ada orang lain di Bandung yang aku lupa namanya. Tetapi Ustad Mustopa secara orisinil menggambarkan pertentangan dalam sejarah Indonésia dengan persoalan huruf. Menurut beliau huruf yang mula-mula digunakan oléh bangsa Indonesia adalah huruf Arab yang bergerak dari kanan ke kiri. Kemudian datang Belanda yang membawa huruf Latin yang bergerak dari kiri ke kanan. Kedua macam huruf itu nyaris bertubrukan, tetapi keburu datang orang Jepang yang hurufnya bergerak dari atas ke bawah memisahkan keduanya sehingga tidak bertubrukan.
Kedua ustad itu selalu memakai péci. Keduanya kurus, tetapi ustad Ismail lebih kurus, sehingga kelihatan jauh lebih tinggi dari ustad Mustopa. Kalau ustad Mustopa suka guyon, ustad Ismail selalu kelihatan daria. Ustad Mustopa tinggal di rumah yang bersebelahan dengan madrasah, tetapi ustad Ismail entah di mana rumahnya. Kalau datang hendak mengajar ustad Ismail selalu naik sepéda.
Madrasah itu bernaung di bawah organisasi PUI, yaitu Persatuan Ummat Islam yang didirikan oleh K.H. Abdul Halim dan berpusat di Majalengka. Aku tidak tahu apakah madrasah itu mendapat subsidi dari organisasi pusatnya. Tetapi kami para pelajar diharuskan membawa beras satu liter setiap bulan sebagai uang sekolah. Aku mengira guru Madrasah kami itu tidak mendapat gaji dari PUI, beras itulah yang menjadi sumber penghasilan kedua ustad yang mengajarnya.
Malam aku disuruh Imih mengaji di langgar yang didirikan oléh buyutku, Uyut Tablawi, ayah Ema, tempat beliau mengajar mengaji kepada orang-orang yang datang kepada beliau. Tetapi Uyut Tab tidak lagi mengajar karena matanya sudah rabun. Yang menggantikannya adalah suami cucunya, Mang Dati, yang pernah belajar mengaji kepada Uyut Tab dan kemudian menikah dengan Bi Intjiah, anaknya Mak Masri’ah. Seingatku tidak banyak orang yang belajar kepada Uyut Tablawi. Apalagi kepada Mang Dati.
Tiap soré menjelang Magrib aku berangkat dari rumah sambil berkata kepada Ibu akan pergi ke tajug Uyut. Aku tidak berbohong. Aku mémang pergi ke tajug Uyut. Tetapi tidak mengaji. Aku bermain-main saja dengan anak-anak sebaya.
Malamnya kadang-kadang kami menonton sandiwara di pasar. Pada waktu itu sering ada rombongan sandiwara yang mengadakan pertunjukan di pasar Ciborélang selama beberapa minggu. Yang kuingat rombongan sandiwara yang pernah muncul di Jatiwangi ialah Bintang Soerabaja, Sekarwangi (dalam bahasa Sunda), dan lain-lain.
Sehabis menonton kami pulang lagi ke tajug. Pada waktu itu aku mémang diijinkan Ibu untuk tidur di tajug. Banyak kawan sebaya yang juga menginap di sana. Biasanya sebelum tidur kami mendengarkan dongéng yang bukan-bukan yang dikisahkan oléh anak yang paling tua. Yang kuingat dongéngnya menarik ialah Mang Lukman. Dia mempunyai fantasi yang luar biasa. Dengan kerangka dongéng yang umum, tentang pangéran dan puteri yang cantik, dia memukau kami sehingga kami tidak tidur sebelum dongéngnya selesai. Sekitar awal tahun 1949, dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Sejak itu dia tidak pernah pulang ke Jatiwangi, walaupun kawan-kawannya yang lain yang sama-sama bekerja di Jakarta dengan dia banyak yang beberapa kali setahun pulang ke rumahnya. Mang Lukman tidak. Mungkin karena dia yatim piatu. Aku tak pernah berjumpa lagi dengan dia.