Tulisan di bawah merupakan cuplikan dari buku Hidup Tanpa Ijazah: yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi Ajip Rosidi; Pustaka Jaya, 2008). Buku ini ditulis secara sistematis dengan ketebalan lebih dari 1.300 halaman.

Pak Kuwu berlangganan surat kabar Sinar Madjalengka yang terbit di Majalengka. Aku tidak ingat surat kabar itu dalam bahasa Indonésiakah atau dalam bahasa Sunda. Yang kuingat cerita bersambung yang dimuatnya dalam bahasa Sunda. Karena hanya itulah yang kubaca. Di samping itu kadang-kadang dimuat guguritan yang penulisnya menggunakan nama Déés. Itulah buahtangan ayahku, Dayim Sutawiria. Surat kabar itu hanya terbit beberapa lama, mungkin tidak sampai setahun. Kemudian Pak Kuwu berlangganan surat kabar Indonésia Raya yang terbit di Jakarta. Di dalamnya ada ruangan kanak-kanak yang diasuh oléh Paman Raya yang muncul seminggu sekali. Hanya ruangan itulah yang kubaca, karena aku belum tertarik oléh berita politik atau lainnya.

Aku mengirimkan tulisan dalam bahasa Indonésia kepada Paman Raya. Betapa gembiranya Pak Kuwu waktu membaca tulisanku dimuat dengan mencantumkan alamat lengkap bahwa aku tinggal di rumahnya. Namanya disebut. Setelah melihat tulisanku dimuat dalam surat kabar, Imih memberi dorongan agar aku meniru si Rémi, tokoh utama buku karya Héctor Malot yang dalam terjemahan bahasa Sunda berjudul Nunggul Pinang (dalam bahasa Indonésia kemudian aku ketahui berjudul Sebatang Kara). Cerita itu menggunakan gaya aku. Imih rupanya mengira bahwa dalam cerita itu benar-benar si Rémi mengisahkan pengalamannya sendiri. Nunggul Pinang adalah salah satu buku yang paling aku sukai, meskipun cukup tebal, édisi bahasa Sunda terbit dalam dua jilid. Ibu yang gemar membaca buku, juga menyukainya. Banyak buku terjemahan yang kubaca dan kusukai, di samping Nunggul Pinang, ada Graaf de Monte Cristo (6 jilid, karya Aleksander Dumas), Pependeman Nabi Sulaeman (dua jilid, karya Ridder Haggard), Lalampahan Guliper (Dean J. Swift), Opat Budak Pahatu di Leuweung (Kapitein Maryyat), Rasiah Hiji Murid Sakola (A. Home), Ngalalana Mekel Saketip (J. Grant Allen), Si Kabayan Jadi Dukun (saduran Moh. Ambri dari Le Medicin Malgre Lui karya Moliére) dan banyak lagi yang lain. Di samping itu kubaca pula Wawacan Batara Rama (6 jilid saduran R.A.A. Martanagara dari Serat Rama bahasa Jawa), petikan dari Cerita Seribu Semalam seperti Anis Aljalis (saduran R. Méméd Sastrahadiprawira), Lalakon Saépulmuluk, Buah Koldi, Istri Pelit dan Palika jeung Jin (keempatnya saduran Moh. Ambri), Pusaka Ratu Teluh (saduran Moh. Ambri dari dongéng India), Bayan Budiman (saduran M.K. Mangundikaria) dan terjemahan atau saduran dari bahasa Jawa dan Melayu, di samping buku-buku yang asli ditulis dalam bahasa Sunda. Salah Asuhan karya Abdul Muis umpamanya aku baca pertama kali dalam terjemahan basa Sunda oléh R. Satjadibrata berjudul Salah Atikan. Begitu juga Jeumpa Acéh karya H. M. Zainuddin aku baca dalam terjemahan Sunda oléh Moh. Ambri berjudul Béntang Acéh. Juga dua karya Suman Hs., yaitu Kasih Tak Terlarai dan Percobaan Setia. Yang pertama diterjemahkan oléh Moh. Ambri menjadi Teu Pegat Asih, yang kedua oléh Martaperdana menjadi Cocoba. Di samping itu banyak lagi karya sastera Indonésia modérn lain yang aku baca terjemahannya dalam bahasa Sunda.

Tentu saja pada waktu itu aku tidak begitu memperhatikan siapa pengarangnya kalau membaca buku. Yang penting “ramai” dan seru, yang bisa terlihat pada ilustrasinya kalau ada. Ciri lain: buku “ramai” itu selalu sudah lusuh terkadang lecek karena sering dipinjam. Kalau buku jilidnya kelihatan masih rapi dan seperti baru, pasti ceritanya tidak seru.

Dari iklan yang dimuat dalam surat kabar Indonésia Raya pula aku mengetahui ada buku baru berjudul Sejarah Umum karangan M. Hutauruk yang diterbitkan di Semarang. Aku mengirim kartupos ke alamat penerbitnya menanyakan bagaimana caranya memesan buku tersebut. Surat itu tidak dijawab, tetapi aku menerima kiriman buku tersebut secara rembours, artinya uangnya bisa dikirimkan setelah bukunya diterima. Pada waktu itulah aku pertama kali mengirimkan uang melalui poswésel dari Kantor Pos yang letaknya di depan Pabrik Gula. Setelah itu aku beberapa kali membeli buku melalui pos, antaranya buku yang diterbitkan oleh penerbit Widjaja di Jakarta. Aku yakin tidak ada kawan sekelasku murid kelas VI Sekolah Rakyat Jatiwangi yang pernah membeli buku melalui pos seperti yang kulakukan.

Mulai kelas V aku mulai membaca buku-buku dalam bahasa Indonésia. Tetapi amat sedikit buku bacaan yang dapat kutemui di sekolah. Yang kuingat hanya Hikayat Hang Tuah, Hikayat Gul Bakawali, dan beberapa judul lagi, semuanya cerita hikayat yang penuh keajaiban dan kesaktian seperti cerita wawacan dalam bahasa Sunda. Tak ada karya sastera modérn yang aku temukan. Apalagi di rumah. Pak Kuwu tidak biasa membeli buku. Apah yang ketika itu kadang-kadang pergi ke Bandung untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya (antaranya mengurus beslit guru-guru di Jatiwangi dan semacamnya), kalau membeli buku, hanya yang berbahasa Sunda. Yang kuingat wawacan Mahabharata yang pada masa sebelum perang diterbitkan dicicil berupa buku-buku kecil karya R. Méméd Sastrahadiprawira dan R. Satjadibrata, diterbitkan lagi menjadi satu jilid setelah ditambah di sana-sini oléh M. A. Salmun, Urang Désa yang menggabungkan dua buku karya Moh. Ambri yang berjudul Munjung dan Burak Siluman. Meskipun semuanya sudah kubaca cétakan pertamanya yang terdapat di Perpustakaan Sekolah, namun buku-buku itu kubaca lagi dengan lahap. Masih ada beberapa buku lain yang dibeli Apah waktu itu, dan kubaca, namun lupa judulnya. Yang kuingat tidak seperti Mahabharata dan Urang Désa yang diterbitkan oléh Balai Pustaka, buku-buku itu dicétak di atas kertas yang kualitasnya kurang baik, diterbitkan oléh penerbit swasta di Bandung, antaranya oléh toko buku Warna-warni di jalan Karapitan. Antaranya sebuah wawacan tentang aul, yaitu mahluk (halus) yang suka mengganggu manusia.