Oleh Ajip Rosidi
Diterjemahkan dari bahasa Sunda oleh Hawé Setiawan, editor pada penerbit buku dan penulis lepas yang tinggal di Bandung .Tulisan ini merupakan pidato Ajip Rosidi sewaktu menerima Hadiah A. Teeuw 2004 dari Yayasan Dana Profesor Teeuw, yang dibacakan di Erasmus Huis, Jakarta, 1 Desember 2004.
Saya dilahirkan di rumah peninggalan nenek moyang ibu, yang terletak di samping balaidesa Ciborelang, Jatiwangi, tapi sewaktu umur saya baru beberapa belas bulan saya dibawa pindah ke rumah kakek di kampung Pasuketan, sebab kakek membeli rumah di sana. Selanjutnya saya tinggal di sana hingga lulus Sekolah Rakyat.Hal saya dibawa pindah ke Pasuketan penting diceritakan, sebab kalau saja saya terus tinggal di rumah peninggalan nenek moyang ibu yang terletak di samping balaidesa, tentu kisah hidup saya akan berbeda.
Desa Ciborelang adalah salah satu di antara tiga desa yang membentuk kota kewedanaan (kini kecamatan) Jatiwangi. Dua desa lainnya adalah desa Sutawangi dan Cicadas. Sutawangi di tengah-tengah, Cicadas di sebelah barat, sedang Ciborelang di sebelah timur. Kota Jatiwangi yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah kabupaten Majalengka, secara kultural terletak di daerah tapal batas kultur Sunda dan (Jawa) Cirebon. Waktu itu, ada dua bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang Jatiwangi, yakni bahasa Sunda dan bahasa (Jawa) Cirebon, tergantung dari lingkungan sosial dan pekerjaan masing-masing.
Di sekitar balaidesa Ciborelang yang terletak di sebelah selatan jalan raya Cirebon-Bandung di seberang pasar —disebut “Pasar Baru” karena pasar lama terletak di depan Balaidesa Sutawangi— penduduk sehari-hari menggunakan bahasa Cirebon. Orang Kaum (masjid terletak tepat di sebelah barat-laut desa, karena sepelataran) berbicara dalam bahasa Cirebon. Demikian pula orang pasar berbicara dalam bahasa Cirebon, meskipun penduduk yang tinggal di sebelah utara, timur dan barat pasar —jadi, yang terletak di sebelah utara jalan raya Bandung-Cirebon— kebanyakan menggunakan bahasa Sunda. Jadi, kalau saja saya tetap tinggal di rumah peninggalan nenek moyang ibu yang disebut Blok Salasa, tentu saya pun sehari-hari menggunakan bahasa Cirebon.
Letak kampung Pasuketan, yang disebut Blok Rebo, sebetulnya tidak jauh dari situ, hanya terhalang oleh kali Citamiang. Namun penduduk yang tinggal di Pasuketan, kalau bukan petani, tentu pegawai, baik pegawai negeri maupun buruh kecil. Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa Sunda.
Karena dari pihak ibu saya pun dekat dengan orang Kaum, banyak kerabat yang tinggal di Blok Salasa. Karena itu kami sering bertemu, mereka berkunjung ke tempat saya atau saya menemui mereka. Jadi, meskipun bahasa sehari-hari di rumah, di Blok Rebo, yang saya gunakan adalah bahasa Sunda, bahasa Cirebon tidaklah asing sama sekali buat saya. Bahasa Sunda yang digunakan di Blok Rebo dan di Jatiwangi pada umumnya, memiliki kosa kata (vokabulari) dan idiom tersendiri. Saya pernah membaca dalam salah satu majalah yang terbit sebelum perang tulisan mengenai “bahasa dialek Jatiwangi”. Jadi, Jatiwangi dianggap sebagai daerah bahasa Sunda yang memiliki dialek tersendiri.
Di sekolah pun, pelajaran disampaikan melalui bahasa Sunda. Bahasa Melayu baru mulai diajarkan di kelas IV. Tapi bahasa Melayu tidak digunakan sebagai bahasa pengantar pelajaran. Bahasa pengantar untuk seluruh mata pelajaran mulai dari kelas I hingga kelas VI adalah bahasa Sunda. Dengan demikian pelajaran yang disampaikan dengan pengantar bahasa Sunda bukan hanya pelajaran bahasa Sunda, melainkan seluruh mata pelajaran, termasuk berhitung, sejarah, ilmu bumi. Buku-buku pelajaran pun ditulis dalam bahasa Sunda. Ketika itu buku pegangan tidak harus dibeli oleh murid atau orang tua murid, tapi disediakan oleh sekolah (pemerintah). Buku disimpan di sekolah, baru dibagikan setiap kali pengajaran dimulai.
Bahasa Sunda yang digunakan dalam buku-buku adalah bahasa Sunda baku. Ragam bahasa tersebut banyak berbeda dengan bahasa Sunda yang digunakan sehari-hari oleh saya dan teman-teman sewaktu bermain atau berbicara dengan orang tua di rumah. Di sekolah belajar mengenal undak-usuk basa (tahap-tahap atau tata krama berbahasa), yang dalam kehidupan sehari-hari di Jatiwangi tidak begitu diperhatikan. Undak-usuk basa merupakan sistim pemakaian kosa kata yang harus selaras dengan kedudukan orang yang berbicara, orang yang diajak bicara, dan orang yang dibicarakan dan dalam mengucapkannya harus tentu nada dan gerak-geriknya. Untuk tiap-tiap orang, selaras dengan kedudukan sosialnya, harus digunakan kosa kata yang telah ditetapkan menurut aturan. Dalam mengucapkannya harus betul nada atau lagu bicara dan gerak-geriknya. Jika orang salah atau keliru menempatkan kosa kata, atau lagu bicaranya tidak sejalan dengan ketentuan, atau gerak-geriknya tidak menuruti aturan, dia akan dihukum secara sosial, dianggap “tak tahu sopan santun”, “orang udik”, “tidak terpelajar”, “orang dusun”, dan sebagainya, yang pada hakikatnya dianggap belum bisa masuk ke dalam lingkungan sosial yang sopan. Orang yang salah menerapkan kata, tidak betul lagu bicara dan gerak-geriknya —tidak sejalan dengan aturan undak-usuk— akan dicibir, dihina, ditertawakan atau ditegur saat itu juga.
Saya suka membaca buku, baik yang berupa wawacan yang ketika itu banyak jumlahnya, maupun yang memakai bahasa bebas berupa dongeng, cerita anak-anak, roman, asli dan terjemahan dari bahasa asing; karena itu, saya mengenal undak-usuk serta bisa menerapkannya secara terampil. Saya pun sering mempraktekkannya meskipun tidak disertai dengan berlutut, sebab di Jatiwangi —terutama pada masa kecil saya— tidak ada kesempatan untuk bertindak demikian. Berlutut sambil menyembah termasuk ke dalam tata krama yang hidup di lingkungan kabupaten (=tempat tinggal bupati, bukan dalam arti daerah di bawah kekuasaan bupati). Sedang di Jatiwangi tidak terdapat kabupaten, karena hanya merupakan kota kewedanaan. Lagi pula saya lahir di penghujung zaman Hindia Belanda, yang disebut “zaman normal”, ketika tata sosial telah menjadi lebih liberal.
Sebagai akibat dari buku-buku yang saya baca, bahasa Sunda saya sebenarnya tidak dapat disebut bahasa Sunda dialek Jatiwangi. Bahasa Sunda saya, baik dalam berbicara terlebih-lebih dalam menulis, lebih mendekati bahasa Sunda baku. Saya lebih banyak hidup mengembara di luar Jatiwangi, begitu pula banyak, bahkan kebanyakan, teman saya bukan orang Jatiwangi, sehingga saya sebetulnya tidak mengenal betul bahasa Sunda dialek Jatiwangi. Namun jika saya bertemu dengan teman masa kecil saya di Jatiwangi, kata-kata dialek Jatiwangi sering terlontar begitu saja sewaktu berbicara.
Di Jatiwangi memang digunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Sunda itulah yang pertama kali saya gunakan ketika belajar berbicara, berpikir, dan menyusun kalimat. Basa Sunda hingga kini masih digunakan di Jatiwangi. Bahkan semakin luas. Lingkungan dan wilayah yang pada masa kecil saya menggunakan bahasa Cirebon, kini telah (hampir) sirna. Keluarga-keluarga yang pada masa lalu sehari-hari menggunakan bahasa Cirebon, kini menggunakan bahasa Sunda. Rasanya kini tidak ada orang Jatiwangi yang menggunakan bahasa Cirebon di rumah.
Pertunjukan kesenian Cirebon seperti wayang kulit, topeng atau genjring kabarnya semakin berkurang, sebab kini orang tidak lagi menggelar panggung pertunjukan dalam kenduri seperti dulu. Lebih banyak orang yang menyewa layar tancap atau menyewa tape recorder yang biayanya lebih murah dan lebih praktis (tidak harus menjamu awak grup kesenian, dll.) atau mementaskan dangdut yang dewasa ini populer di mana-mana.
Jatiwangi yang pada masa kecil saya merupakan dunia tersendiri yang khas, baik bahasanya maupun keseniannya, kini hanya menjadi bagian dari dunia yang mengalami globalisasi seperti bagian dunia lainnya. Dunia yang bahasa dan apresiasi seninya terpengaruh oleh televisi dan radio.
Saya sendiri ketika pindah ke Jakarta serta lebih banyak membaca buku-buku dalam bahasa Indonesia, bergaul dengan para seniman muda yang berpendirian bahwa segala macam warisan leluhur harus dibuang karena menghalangi kemajuan. Saya membaca tulisan-tulisan S. Takdir Alisjahbana (1908-1994) yang ditulis pada tahun 1930-an, saya juga membaca tulisan-tulisan Chairil Anwar (1922-1949) dkk. yang ditulis pada tahun 1940-an dan awal 1950-an, yang pada umumnya mendukung tesis Takdir mengenai kesusasteraan (dan kesenian) lama yang dianggap merintangi kemajuan. Seluruh tulisan yang terbaca saya terima tanpa sikap kritis, sebab bahan-bahan yang tersedia pada saya sendiri sangat terbatas.
Namun meskipun saya tidak menolak pendapat S. Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar dkk. yang merendahkan kesenian lama, kesukaan saya membaca wawacan, guguritan dan sejenisnya tidak padam. Hanya saya menjadi lebih kritis. Selain itu, sebagai pengaruh dari perbincangan dengan Utuy T. Sontani (1920-1979), Rukasah S.W. (1929-1995), Amir Sutaarga (l. 1928?), saya mulai membaca teks carita pantun Sunda yang pernah diumumkan oleh C.M. Pleyte, dimuat dalam TBG (Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap), VBG (Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap) atau media sejenisnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Rukasah yang bekerja pada Perpustakaan Parlemen RI serta Amir Sutaarga yang menjadi Sekretaris dan selanjutnya menjadi Direktur Museum Pusat, memberikan kesempatan kepada saya untuk membaca majalah dan buku-buku yang terbit jauh sebelum saya dilahirkan. Pada waktu itulah saya juga mulai membaca guguritan karya H. Hasan Mustapa (HHM) yang memukau. Meskipun guguritan HHM bertolak belakang dengan segala teori puisi yang ditulis oleh Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar dan lain-lain, tapi saya menganggap guguritan HHM adalah karya puisi yang bernilai tinggi.
Karena saya tidak banyak membaca buku-buku teori sastera (maklumlah bukunya pun jarang masuk ke negeri kita), saya tidak bisa mempertautkan pendapat Takdir dkk. yang menganggap realisme sebagai aliran sastera yang mutakhir serta paling cocok buat para sasterawan zaman sekarang dengan, umpamanya, karya-karya sastera (Sunda) tradisional yang saya sukai yang sesungguhnya jauh dari realisme.
Pandangan yang menjadi wacana dalam sastera Indonesia, sewaktu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi pada PKI (Partai Komunis Indonesia) kian besar pengaruhnya, adalah realisme sosialis yang menjadi keyakinan resmi para sasterawan komunis di seluruh dunia. Namun karena sangat terbatasnya bahan perbandingan, jika diperhatikan kini, tulisan-tulisan mengenai realisme sosialis di Indonesia waktu itu sebenarnya tidak mewakili pemikiran yang hidup di kalangan para ahli teori seni dan sastera komunis yang utama. Misalnya saja, dalam diskusi mengenai realisme sosialis pada waktu itu, tidak pernah disinggung-singgung (bahkan sekadar disebut pun tidak) mengenai pendapat George Lukacs (1885-1971) yang sebenarnya merupakan pemikir seni sastera sosialis yang paling utama. Para pemimpin Lekra pun sepertinya tidak mengenal namanya sekalipun. Yang sering disebut dan dikutip hanya Andrei Aleksandrovich Zhdanov (1896-1948) dan Nikolai Gavrilovich Chernyshevsky (1828-1889) yang bukunya mengenai pertautan antara estetika seni dan realitas telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Belakangan muncul karya Iwan Simatupang (1928-1970) yang karangan-karangannya jelas tidak bisa dimasukkan ke dalam aliran realisme, sebab cerita-ceritanya seperti tidak didasarkan pada realitas dan logika. (Sebetulnya Suripman yang suka menggunakan nama samaran P. Sengodjo, Sengkuni dll. (l. 1926) lebih dulu menulis cerita-cerita yang lebih tepat disebut surrealistis karena tidak sejalan dengan realitas serta logika, tapi kurang diperhatikan oleh para kritikus sastera Indonesia). Tidak mustahil Iwan menulis cerita-cerita seperti itu karena pengaruh bacaan, yakni karya-karya sastera yang banyak terbit di Eropa setelah Perang Dunia II. Rendra (l. 1935) yang pulang dari Amerika Serikat untuk mendalami teater, sewaktu baru kembali menimbulkan kehebohan dengan pementasan teaternya yang nyaris tanpa dialog, yakni yang disebut teater bip bop. Kabarnya, hal itu merupakan pengaruh dari latihan para teaterawan di Harlem, New York. Rendra lalu mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Dalam bidang drama muncul pula Arifin C. Noer (1941-1993) yang mendirikan serta memimpin Teater Ketjil yang banyak mengambil unsur-unsur teater rakyat Betawi dan Cirebon dll., lalu ada Putu Wijaya (l. 1944) yang belakangan lakon yang hendak dipentaskannya belum mewujud sebelum mulai berlatih tapi digarap bersama seraya berlatih. Di kalangan sastera muncul Danarto (l. 1942), Putu Wijaya dan Budi Darma (1937) yang menulis cerita pendek dan roman yang absurd. Semuanya tidak bisa disebut realisme, dan banyak diikuti oleh para pengarang muda, baik dalam bidang teater maupun dalam bidang sastera. Hanya Rendra yang sepertinya segera sadar bahwa kalau pementasan bip bop dipegang terus akan menemui jalan buntu, sehingga belakangan dalam pementasannya Bengkel Teater lebih banyak mementaskan cerita yang konvensional.
Namun karangan-karangan saya sendiri hampir semua bisa dimasukkan ke dalam golongan karya realisme. Apa sebabnya saya seperti berpegang teguh pada faham realisme? Barangkali hanya karena kurang bahan perbandingan. Karya-karya sastera yang saya baca dalam bahasa Indonesia —sebelum munculnya Iwan Simatupang dll.— adalah karya-karya realisme. Memang adakalanya saya menemukan karangan para pengarang asing yang tidak realistis seperti sandiwara karya Ionesco —tapi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada umumnya karya realisme. Saya sendiri pernah menulis cerita-cerita yang tidak realistis, semisal cerita pendek “Malam jika Tiba” yang dimuat dalam majalah Kompas (1954) dan “Perjanjian dengan Maut” yang dimuat dalam Kisah (1954) tapi dituduh plagiat dari karangan Stephen Vincent Benét (1898-1943). Cerita tersebut dimaksudkan sebagai cerita supernatural, sebab pada waktu itu Riyono Pratikto (l. 1932) banyak menulis cerita-cerita ganjil semisal orang yang berubah jasad menjadi anjing dan sejenisnya yang ajaib serta cenderung gaib. Saya ingin membuktikan bahwa saya pun bisa membuat cerita seperti itu. Sebagai jawaban terhadap tuduhan plagiat, saya membuat cerita lainnya, “Perhitungan Diri Sendiri” (Kisah, 1955) yang mengisahkan aku-pengarang bertemu dengan tokoh ceritanya sendiri. Namun cerita itu pun dituduh plagiat dari karangan Maxim Gorki (1868-1936). Padahal karangan Benét dan Gorki tersebut belum pernah saya baca — tapi keduanya pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu saya pun menulis cerita “Lalulintas Lingkar” yang dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia. “Malam jika Tiba”, “Perjanjian dengan Maut”, “Perhitungan Diri Sendiri” dan “Lalulintas Lingkar” yang semuanya ditulis pada tahun 1954-1955, bukan karya realistis, yang seharusnya diteruskan dengan menulis cerita-cerita sejenisnya —yang tidak realistis. Namun bisa jadi karena adanya reaksi macam-macam (dituduh plagiat!), saya malah meninggalkan cerita-cerita demikian, kembali menuliskan cerita-cerita yang realistis. Pada waktu itu saya berpikir bahwa mustahillah saya membaca semua cerita yang ditulis oleh para pengarang di seluruh dunia, sehingga kemungkinan adanya kemiripan secara kebetulan antara karangan saya dan karangan orang lain terbuka lebar. Lagi pula sekalipun saya berusaha mati-matian, saya tidak bisa menolak tuduhan bahwa saya tidak meniru atau terpengaruh pengarang yang kebetulan menuliskan ceritanya lebih dulu ketimbang saya, sekalipun memang benar saya belum sempat membaca karangan tersebut. Hal itu menyebabkan saya sampai pada pikiran bahwa yang tidak bisa mirip atau dituduh serupa dengan atau terpengaruh oleh cerita karya orang lain adalah jika saya menulis cerita mengenai diri saya sendiri, sebab hidup saya belum dan tidak akan dialami oleh orang lain. Karena itulah saya banyak menulis cerita mengenai diri dan keluarga saya. Semuanya ditulis secara realistis, sebab saya beranggapan bahwa karya sastera khususnya, dan karya seni umumnya, memang harus realistis, sebab harus menggugah kesadaran pembaca terhadap keadaan sosial yang berantakan supaya timbul upaya untuk membereskannya. Memang bukanlah tugas sasterawan dan seniman untuk membereskan keadaan masyarakat, tapi sasterawan dan seniman memiliki tanggung jawab sosial: hasil karyanya harus bisa menggugah kesadaran pembaca untuk mengubah keadaan yang banyak memperlihatkan segi yang buruk sebagaimana yang terlihat dari karya-karya seni yang realistis.
Realisme harus menggambarkan keadaan masyarakat yang buruk, tapi dalam melukiskan tokoh-tokohnya harus jelas motivasi kejiwaannya, sebab berubahnya sikap tokoh harus bisa diikuti secara psikologis oleh pembaca. Hal itu saya perhatikan betul, meskipun tidak selamanya gambaran kejiwaan tokoh dalam cerita saya meyakinkan pembaca.
Dalam menuliskan kembali cerita-cerita rakyat Sunda dan Jawa pun, saya selalu berupaya supaya realistis —meskipun sebagaimana lazimnya cerita rakyat banyak yang tidak gampang masuk akal. Saya juga berupaya membentangkan latar belakang psikologis dari tindakan-tindakan tokohnya. Hal itu sebenarnya tidak perlu dan malah akan melemahkan cerita rakyatnya sendiri karena cerita rakyat lazimnya penuh dengan hal-ihwal yang tidak masuk akal.***
Bersambung ke Jatiwangi, Sunda, Indonesia (2)
Drs. Anwarudin - 08-02-2008 pukul 13.53
Ass.Wr.Wb.
Pak Ajip Rosyidi, saya salah satu penggemar beberapa puisi yang bapak ciptakan, dan beberapa puisi saya pernah baca dalam berbagai lomba, sebelumnya saya tidak tahu riwayat / bibiografi bapak, ternyata setelah saya baca cerita di atas, saya adalah tetangga kampung bapak, tepatnya saya berasal dari kampung Tipar - desa Ligung, saya sekarang bertugas mengajar( guru ) di SD Muhammadiyah Cipulir-Keb.Lama-Jakarta Selatan, walaupun saya bukan sarjana sastra dan bahasa Indonesia, tapi saya sangat tertarik dengan bahasa dan sastra Indonesia, sehingga saya sejak ke jakarta sering sekali ikut lomba baca puisi dan alhamdulillah dengan bakat otodidak / alam saya bisa berprestasi walaupun belum memuaskan, dan sekarang saya mengembangkan seni sastra dan bahasa Indonesia itu melalui anak2/murid2 saya di sekolah, saya sering membawa mereka ikut lomba baca puisi, lomba teater anak, lomba cerita/story talling dll.
Kalau ada seminar/simposium atau kegiatan yang berkaitan dengan sastra dan bahasa indonesia yang bapak selenggarakan saya ingin rasanya mengikutinya, kasih kabar ya pak ! insyaAllah saya hadir.
Oya, tentang komentar artikel bapak di atas, saya sangat kagum dengan pengalaman bapak tentang bagaimana bapak berusaha menggali dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia walaupun harus meninggalkan karya-karya lama yang akan menghambat/menghalangi kemajuan bahasa dan sastra Indonesia, terus berjuang dan berusaha untuk terus berkarya dan berkreasi dalam mengembangkan karya sastra.
Mugi-mugi gusti Allah SWT tiasa nepungkeun urang dina salah sahiji waktos. abdi antos walerannana. Hatur nuhun.
Wass.wr.wb.
Yudha P Sunandar - 19-05-2008 pukul 21.23
saya mengetahui nama Ajip Rosidi dari bapak saya. kebetulan bapak saya adalah orang jatiwangi. setelah melahirkan dan membesarkan saya di bandung, tahun 2005 lalu bapak beserta ibu saya kembali ke rumah tempat bapak saya lahir dan dibesarkan dulu, tepatnya di blok salasa.
beliau selalu menceritakan tentang anda ketika kami berdua lewat di depan rumah orang tua anda di blok salasa. dan menurut bapak saya pula, keluarga kami masih punya hubungan darah dengan keluarga anda, bahkan cukup dekat. awalnya saya tidak percaya. tapi setelah saya menemukan buku dan foto anda, saya kaget sekali karena wajah anda mirip dengan wajah kakek saya. terutama dari hidung ke atas, sangat mirip sekali.
saya juga kini berprofesi sebagai seorang penulis. meskipun latar belakang pendidikan saya adalah teknologi informasi, entah kenapa saya selalu tertarik untuk menulis tentang bahasa, sosial, dan budaya. dan karakter tulisan saja juga selalu jauh dari karakter tulisan orang teknologi informasi.
awalnya saya menduga hanya karena bapak saya menyenangi budaya sunda, khususnya wayang golek, makanya saya jadi terkonstruksi untuk menyenangi budaya dan terkonstruksi pula untuk menulis seperti orang budaya. tapi setelah saya menemukan buku anda, saya merasa punya sebagian dari jiwa anda. kata2 anda begitu jelas dan familiar di hati saya. sepertinya saya berbicara dengan diri saya sendiri. dan kini saya punya penjelasan tentang mengapa saja juga menyenangi bahasa dan sastra. serta yang paling penting, saya punya penjelasan mengapa karakter tulisan saya seperti sekarang ini.
komentar ini saya maksudkan untuk mengeluarkan unek2 saya betapa terkejutnya saya menemukan apa yang saya cari selama ini. menemukan jawaban dari apa yang selalu pertanyakan selama ini. saya hanya berharap, semoga saya bisa mengenal lebih dekat dengan anda. dan saya juga berharap sangat, saya bisa belajar dari anda.
terima kasih.
Wassalam…
Yudha P Sunandar
Sn
I Djatnika - 24-06-2008 pukul 15.52
Ketika saya sekolah di SD 2 Ciborelang, sangat suka membaca karya-karya bapak. Mungkin karena yang dibaca adalah karya orang Jatiwangi.Tapi, sayang saya tidak “tertular penyakit” bapak sebagai penulis.
Ayah saya guru SMP Jatiwangi (almarhum) tinggal di blok Jumat Ciborelang, dan ibu masih ada di sana. Adik Pak Ayip yang saya kenal yaitu Bu Yaya.
Riwayat hidup bapak cukup memberikan motivasi buat saya untuk berkarya di bidang saya, sebagai peneliti Penyakit Tumbuhan (Hortikultura). Ternyata bapak yang berasal dari Jatiwangi dapat berprestasi luar biasa. Bukan hanya milikorang kota.
Semoga banyak karya bapak teraru yang dapat saya baca. Amin.