Ribut-ribut jual beli gelar (ijazah) kesarjanaan aspal (asli tapi palsu) atau malah palas (palsu asli) yang mendudukkan Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) ke puncak popularitas akhir-akhir ini perlu dicermati sebagai ‘gejala alam’ yang lebih berbahaya daripada gempa atau gunung meletus.
Namun lepas dari semua itu, ada pertanyaan yang menggelitik saya. Bisakah kita hidup tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah ?. Kita mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah.
Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkan beliau menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain mantan Rektor Universitas PBB Soedjatmoko, budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dai Aa Gym, sastrawan Ajip Rosidi dan lainnya
Soedjatmoko, jebolan mahasiswa Fakultas Kedokteran, kemudian belajar otodidak dan berhasil menjadi orang besar. Dia bukan orang yang mencari gelar doktor, tapi seorang pemikir dan pekerja tulus yang membuat dua universitas di AS menganugerahinya gelar doktor.
Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM,selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi). Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses.
Ajip Rosidi bahkan lebih `radikal’ Iagi.dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah.
Untuk mendapatkan ijazah, mereka mau berbuat curang serta mengeluarkan uang untuk membeli bocoran soal. Ajip berkata lantang: “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.
Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin pasti Anda bisa menjawab dengan tepat. Selebihnya mari kita tunggu `gejala alam’ apa yang bakal terjadi lagi.
Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 19 September 2005