BAYANGKAN seorang remaja tanggung berumur 17 tahun yang bercita-cita besar jadi pengarang, jatuh cinta serius dengan seorang gadis anak tetangganya. Bahkan ia pun berani-beraninya berniat menikahi gadis itu. Tentu saja ini tidak mudah. Teman-temannya, para pengarang yang rata-rata usianya lebih tua menertawakan dan mengolok-olok keseriusan cinta pengarang muda itu. Bahkan cerpenis dan novelis Trisnoyuwono ketika itu mengejek hubungannya dengan Fatimah, gadis anak tetangganya di Gang Desa Mulya Jakarta itu hanya sebuah cinta monyet!

Tentu saja pengarang yang sebelumnya pernah diundang menghadiri Kongres Kebudayaan sebagai peserta paling muda (16 tahun), namun yang dalam kongres tersebut juga ia berani membantah dan mendebat tokoh seperti Ki Hajar Dewantara itu, terbakar perasaannya. Dengan keras kepala dan sungguh-sungguh ia mengatakan bahwa hubungannya dengan Fatimah serius dan ia akan menikahinya. Tentu saja Trisnoyuwono tidak begitu saja percaya dan mau berhenti mengolok-olok hubungannya dengan Fatimah sebagai cinta monyet!

Sialnya, di tengah menghadapi olok-olok dan ejekan Trisno, pengarang muda yang nama dan karya-karyanya telah mulai dikenal itu juga harus menghadapi kenyataan lain. Ternyata ibu kekasihnya tidak menyetujui anak gadisnya berkasih-kasihan dengannya. Jangankan membiarkan si pengarang muda itu menikahi anak gadisnya, sekadar untuk mengajaknya nonton ke bioskop saja si ibu tak mengizinkan. Mungkin alasannya sederhana saja, bukan hanya karena usia pasangan itu masih sangat muda, tapi juga apalah yang bisa diharap dari penghidupan seorang pengarang!?

Tentu saja kenyataan ini menambah lagi hambatan si pengarang muda itu untuk menyunting gadis dambaannya. Sudah diolok-olok dan diejek sebagai cinta monyet, sekarang calon mertua tidak setuju pula!

Tapi dia, pengarang muda itu, Ajip Rosidi, yang ketika itu telah duduk sebagai redaktur majalah Prosa, ternyata bukan hanya keras kepala dalam memilih jalan hidupnya sebagai pengarang. Dia juga keras kepala dalam memilih Fatimah sebagai pasangan hidupnya. Meski tahu usianya masih sangat muda, Ajip memiliki kenyakinan bahwa ia sudah bisa berdiri sendiri. Lalu dengan bantuan salah seorang kerabatnya, Mang Ola, Ajip akhirnya bisa meyakinkan calon mertuanya untuk meminang Fatimah Wirjadibrata.

Maka, pada hari Sabtu tanggal 5 Agustus 1955 Ajip Rosidi dan Fatimah pun bersanding di pelaminan. Tak urung sejumlah teman-teman senimannya pun turut mengantar, dari mulai pelukis Nashar, Riyono Pratikto, Sukanto S.A., termasuk Trisnoyuwono. Bahkan WS. Rendra ikut membantu mendandani baju pengantin Ajip.

Mengenang peristiwa itu, dalam bukunya Hurip Waras! Ajip menulis, Umur 18 taun jalan. Tur masih keneh jadi murid di Taman Madya. Budak keneh ceuk ukuran urang kota mah. Para sepuh oge tadina mah aboteun ngawidianana. Atuh ti pihak kulawarga pamajikan, aya lanceukna anu henteu satujuen nepi ka henteu keresauen ngaluuhan. Dina anggapanana nu karawin budak keneh teh sok tara lana (Usia 18 tahun jalan. Juga masih menjadi murid sekolah Taman Madya. Masih anak-anak dalam ukuran orang kota. Para orang tua juga sebelumnya keberatan untuk memberi izin. Sedangkan dari pihak keluarga istri, seorang kakaknya tidak menyetujui hingga ia tidak mau datang. Dalam anggapannya perkawinan usia muda jarang yang bertahan lama).

**

SEANDAINYA Trisnoyuwono masih hidup dan hari itu (Sabtu, 6/8) ia hadir di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Bandung, menyaksikan Ajip Rosidi dan Fatimah kembali duduk bersanding dengan baju pengantin mengulang peristiwa 50 tahun yang lalu, entah apa yang akan dikatakannya. Barangkali ia tidak menduga bahwa ejekannya pada Ajip tentang cinta monyet itu sebenarnya adalah awal dari apa yang hari itu di YPK disebut dengan pernikahan emas.

Atau jangan-jangan, Ajip juga sebenarnya harus berterima kasih pada Trisnoyuwono jika memang ejekannya itulah yang membuat Ajip “terprovokasi” dan membuktikan bahwa ia mencintai Fatimah bukanlah sebuah cinta monyet, seperti yang disebut Trisnoyuwono. Tapi lepas dari apa pun, pasangan yang disebut cinta monyet oleh Trisnoyuwono itu akhirnya sampai pada usia pernikahan 50 tahun. Uniknya, konon, usia 50 tahun perkawinan mereka, jatuh pada hari yang sama, yakni hari Sabtu.

Dan hari itu, dengan tajuk “Satengah Abad Empat-Ajip” Gedung YPK pun dipenuhi oleh sejumlah undangan dari berbagai kalangan, hingga meluber keluar. Tampak tokoh-tokoh seperti Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, Letjen (Purn) Rustandi, politikus senior Tjetje Padmadinata, Ketua KPUD Jabar Setia Permana, Ketua DPRD Jabar H.A.M Ruslan, Ketua DPD Partai Golkar Jabar Uu Rukmana, Kadisbudpar Jabar H.I. Budhyana, hingga Eros Djarot. Jangan sebut lagi para seniman-budayawan dari berbagai generasi, seperti Ramadhan K.H., Rahmatullah Ading Affandi (R.A.F), Prof. Saini KM, Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Chaedar Al-Wasilah, Muh. Sunjaya, Nano Riantiarno, Slamet Rahardjo, Yayat Hendayana, Kartika Affandie, Aam Amilia, hingga Dedy Koral, Yusep Muldiyana, dan penyair Mathori A. Elwa. Di luar gedung juga berderet berbagai karangan bunga ucapan selamat, dari mulai yang datang dari kolektor Hong Jien hingga dari keluarga besar Utuy Tatang Sontani.

“Ini memperlihatkan kerinduan teman-teman di Jawa Barat pada Ajip. Memang ada teman-teman yang merasa kecewa karena Ajip memilih tinggal di Pabelan Magelang, bukan di Bandung atau di Jabar. Kekecewaan itu bisa dimengerti, karena mereka khawatir dan takut kehilangan sosk seperti Ajip. Dengan tinggal di Pabelan, mereka khawatir Ajip akan jarang datang ke Bandung. Tapi kita semua sekarang bangga, karena Ajip merayakan peringatan 50 tahun pernikahannya di Bandung, bersama kita semua. Kita pun sono sama Ajip,” ujar H. Syafik Umar, Direktur Utama PT Pikiran Rakyat Bandung yang juga hadir dalam acara itu.

Ajip sesungguhnya bukan sekadar tokoh di lapangan kesusastraan. Peranannya dalam dunia pers tidak bisa diabaikan. Sejak masih duduk di bangku SMP Ajip telah menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar. Disusul kemudian sebagai redaktur majalah Prosa, majalah Sunda dan Budaya Jaya.

Sementara itu, Ramadhan K.H., sebagai salah seorang teman dekat Ajip sejak tahun 1950-an, menuturkan meski kehidupan ekonomi keluarga pada tahun 1960-an itu belum kuat benar, Ajip dengan terbuka menerima dan menjamu para seniman yang datang ke rumahnya.

“Bahkan saya bisa ke Jepang dan Mekah juga semua atas biaya Ajip,” ujar Ramadhan K.H., yang oleh Ajip disapa akrab Atun itu. (Ahda Imran)***

Pikiran Rakyat Minggu, 07 Agustus 2005