Tempointeraktif, Kamis, 3 February 2005

Kehidupan di panggung bergeliat. Alkisah, salat Jumat baru saja usai. Lalu di antara jemaah warga Kasultanan Cirebon yang masih duduk bersimpuh, berdiri sesosok tubuh berbusana serba putih, lengkap dengan surban dengan warna serupa. Dialah Bagus Rangin, tokoh karismatik ratusan tahun silam. Ia berdiri, dan mengurai khotbah pembangkitan. Sebuah khotbah yang panjang, yang menggugah kesadaran makna hidup dan kehidupan rakyat setempat yang didera nestapa. Juga khotbah politis yang menyoroti praktek-praktek tak benar Sultan Cirebon.

“Pangeran (Allah) telah menjadikan dunia, (sebagai) tempat kehidupan umat. (Tapi) oleh Sultan malah dijual kepada Cina dan kafir kompeni, yang tak pernah merasa kenyang,” katanya bergelora. Bagus Rangin belum berhenti. Masih banyak pesan suci yang dipompakan untuk membuka mata hati, yang sebelumnya seakan sudah mati harapan. Dia pun berhasil. Warga tersadar akan kelemahannya selama ini.

Demikian secuplik kisah tokoh Bagus Rangin (diperankan Agus Suherman) sebagai drama yang diusung Teater Sambada, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Dramatisasi yang diangkat dari puisi panjang berbahasa Sunda karya sastrawan senior Ajip Rosidi itu dipentaskan dalam hajatan bertajuk “Ajip Rosidi, 67 Taun,” di GK Sunan Ambu, STSI Bandung, Senin (31/1) sore.

Pementasan Bagus Rangin kali ini punya nilai penting. Sebab, menurut sutradara Asep Supriatna, puisi yang diciptakan Ajip pada akhir 1964-awal 1965 ini pernah pula didramatisasi awal 1990-an, dan memicu masalah. Setelah dipentaskan di aula (tentara) Pussenif, Jalan W.R. Supratman, Bandung–saat itu, Asep juga sutradaranya–otoritas militer di Jawa Barat (Pangdam Siliwangi, lewat bawahannya) melarang sajak itu dipentaskan. Alasannya, isinya dinilai potensial mengganggu hubungan dengan etnis Cina. “Dibilang, sekarang para pejabat TNI dengan Cina sedang begini,” kata Asep, sembari menautkan kedua jari telunjuknya, mengisahkan pembreidelan pentas yang pernah diterimanya.

Seperti ditunjukkan dalam pentas kali ini, di masa Bagus Rangin hidup–ada sumber yang menyebut, tokoh ini dihukum penggal kepala pada 12 Juli 1812–etnis Cina memang ikut menyengsarakan masyarakat. Salah satu caranya, bersama Belanda, mereka menyewa tanah-tanah dari Sultan Cirebon. Padahal tanah-tanah itu, seperti kawasan Lohbener, Dermayu, dan Loyang, merupakan sumber kehidupan rakyat.

Walhasil, ketiadaan sumber kehidupan telah memunculkan kelaparan. Sampai-sampai rakyat terpaksa harus makan dedaunan dan rumput. Akibat lebih lanjut, seperti digambarkan di panggung, mereka berguling-guling di tanah sembari memegangi perut. Semua merintih kesakitan. Di luar itu, sulitnya kehidupan telah membuat sebagian orang menjual diri. Tengoklah adegan para ronggeng yang pasrah ditowal-towel Babah–sebutan untuk Cina–atau malah dipanggul centeng Belanda, sebelum akhirnya dibawa masuk, dan menghilang di balik panggung.

Dengan kenyataan itu, masuk akal jika rakyat begitu benci dengan Babah –juga Belanda–setelah mendengarkan khotbah pencerahan dari Bagus Rangin. Untuk Babah, sekadar contoh, pilihan kata yang dipilih Ajip sangat tajam. Bahkan membayangkan saja–meski dalam perang sesungguhnya belum tentu tekad itu dilakukan–sudah bikin miris.

Simaklah kata-kata seperti Babah mah bakal dicacag/Disiksik diipis-ipis/Dicacag diwalang-walang/Getihna arek diuyup/Diburakeun ka bangawan/Sugan lauk baranahan/Tulangna diawur-awur/Leuweung jati sugan subur/Polona arek dicokrok/Diburakeun ka galengan/Rawinian sugan montok. Di sini, antara lain, terungkap tekad bahwa tubuh Babah yang tertangkap bakal diiris-iris, dihancurkan, dan sebagainya. Kalimat-kalimat itulah yang dikhawatirkan penguasa militer Jawa Barat 1990-an bisa memicu konflik.

Terlepas dari pro dan kontra ketika dipentaskan pertama kali, kenyataan sejarah tetap tak layak diubah. Kalaupun puisi itu kembali dipentaskan, tentu tak ada maksud sama sekali untuk membangkitkan perasaan yang sama, seperti di hati rakyat wilayah Kasultanan Cirebon di masa Bagus Rangin hidup. “Kebetulan saja, ada acara ‘Ajip Rosidi, 67 Taun’, dan saya diminta mementaskan lagi dramatisasi puisi Bagus Rangin,” kata Asep kepada Tempo.

Asep pun tak ragu untuk mengiyakan. Selain zaman sudah berubah–kini lebih terbuka–kekhawatiran bakal munculnya kebencian berlebihan kepada etnis Cina diyakini tak akan terjadi. Murid seniman Godi Suwarna ini percaya, cara berpikir orang sekarang sudah jauh lebih dewasa. Pada masa sekarang, “Kekhawatiran seperti itu tak perlu ada,” katanya.

The show must go on! Singkat cerita, setelah rakyat Cirebon terbangun kesadarannya, mereka bergerak bersama Bagus Rangin. Dalam iringan karawitan Sunda yang rancak, panggung menyajikan serunya perlawanan rakyat itu. Semua ikhlas berjuang karena sudah disusupi semangat: Mending gugur/Manan ngabdi ka kumpeni/Mending tumpur/Manan hirup dijajah babah….

Dalam pementasan kali ini, sebagai debutan awal, kentara sekali kalau sejumlah awak Teater Sambada masih terlihat tegang dan kaku. Di bagian awal pertunjukan, sepertinya mereka masih demam panggung. Untunglah, semua tak berlangsung lama. Pentas ramai-ramai di panggung–namanya juga adegan rakyat banyak–ternyata mampu mencairkan ketegangan yang muncul. Walhasil, gerak dan olah tubuh mereka jadi lebih lentur. Di luar soal kemampuan pemain menghafal sajak yang sangat panjang, kehadiran narasi yang dibacakan Ayi Kurnia Iskandar menjadikan pementasan lebih hidup. dwi wiyana