SERAYA berupaya untuk turut memperbaharui tradisi, Ajip juga berupaya untuk ikut memelihara atau menyelamatkan segi-segi yang dianggap baik dari tradisi. Dokumentasi dan publikasi carita pantun—salah satu bentuk sastra lisan Sunda—yang dilakukan pada dasawarsa 1970-an adalah salah satu contohnya. Sementara itu sejumlah karya kreatif karangan Ajip tampak memiliki kekayaan etnografis yang cukup baik semisal roman Perjalanan Penganten yang di dalamnya antara lain melukiskan ritus kelahiran dan inisiasi anak di Tatar Sunda. Di samping mencoba menerjemahkan karya sastera Sunda ke dalam bahasa Indonesia, semisal atas karya-karya Mohamad Ambri (Mengurbankan Nyawa dan Dasar Sial) dan sejumlah cerita pendek yang dihimpun dalam kumpulan cerpen Dua Orang Dukun, juga memprakarsai penerjemahannya ke dalam bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Prancis, ia pun berupaya menulis cerita berbentuk roman berdasarkan legenda yang hidup di tengah masyarakatnya, baik dari lingkungan Sunda maupun Jawa, seperti roman Purbasari Ayu Wangi, Mundinglaya Di Kusumah, Candra Kirana, dll. Demikian pula upaya Ajip dan kawan-kawan selama lebih dari delapan tahun untuk menyusun Ensiklopedi Sunda yang cukup komprehensif hingga buku tersebut terbit pada tahun 2000, merupakan salah satu bagian penting dari kerja budayanya yang berkaitan dengan “pewarisan nilai-nilai budaya Sunda di tengah banjir bandang globalisasi”—yang menjadi tema dari Konferensi Internasional Budaya Sunda I pada 2001.
Memang seringkali timbul rasa haru dari kenyataan bahwa ia, yang acapkali terkesan sendirian, seperti mencoba menyelamatkan puing-puing reruntuhan masa lalu yang dipandang masih punya harga, mencoba merekatkan kembali serpihan-serpihan yang tidak lagi lengkap itu, tanpa banyak orang yang memperdulikannya atau tertarik untuk terlibat dalam upaya yang sukar itu. Bahkan ada kalanya upaya Ajip dalam hal ini terkesan seperti perjuangan Don Quixote untuk menegakkan tugas mulia di muka bumi pada suatu zaman yang keliru. Hanya ada Sancho Panza, juga Rozinante, yang selalu menemaninya di sepanjang perjalanannya yang jauh itu. Namun, bagaimanapun gilanya upaya Ajip dalam bidang konservasi budaya, teristimewa menyangkut budaya lokal, upaya seperti itu tentu punya nilai yang tak tepermanai bagi kebudayaan masyarakatnya. Jikalau suatu kebudayaan, selain perlu memiliki orientasi terhadap hari depannya, juga perlu memelihara persepsi yang tepat mengenai masa lalunya sendiri, sejumlah agenda budaya Ajip yang dijalankannya selama ini kiranya telah menyediakan dasar-dasarnya. Dan jikalau antropologi berkepentingan untuk—-dalam perkataan Gilbert Ryle—-menyusun “lukisan mendalam” (thick description) mengenai kebudayaan suatu masyarakat pada suatu ruang dan waktu tertentu, maka cukup banyak buah jerih payah Ajip dan kawan-kawan yang dapat dijadikan bahannya.

Tulis Komentar.