SEGI lainnya dari kerja budaya Ajip berkaitan dengan keberaksaraan. Pada tahun 1962, misalnya, Ajip dan kawan-kawan mendirikan dan mengelola badan penerbitan Kiwari di Bandung. Pada tahun 1964 Ajip juga mendirikan penerbitan Cupumanik di Jatiwangi, Jawa Barat, yang antara lain menerbitkan buku-buku karya sastra Sunda. Kemudian pada tahun 1965 ia mendirikan penerbitan Duta Rakyat yang antara lain menerbitkan majalah Mingguan Sunda yang kemudian berganti nama menjadi Majalah Sunda (1965-1967). Kemudian pada 1980 ia mendirikan penerbitan Girimukti Pasaka di Jakarta yang menerbitkan baik buku berbahasa Sunda maupun Indonesia. Namun yang kiranya paling menonjol adalah PT Dunia Pustaka Jaya yang didirikan oleh Ajip dan kawan-kawan pada tahun 1971 dan terus berjalan hingga sekarang. Pustaka Jaya adalah salah satu perusahaan penerbitan swasta yang antara lain menerbitkan karya-karya sastra, baik karya asli Indonesia maupun terjemahan dari karya sastra dunia, di samping menerbitkan buku menyangkut bidang lainnya seperti politik, budaya, agama, filsafat dan sebagainya. Seraya terus mengelola Pustaka Jaya, pada tahun 2000 Ajip dan kawan-kawan juga mendirikan penerbit PT Kiblat Buku Utama di Bandung yang antara lain menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Ajip juga pernah turut aktif dalam kepengurusan asosiasi yang menghimpun kalangan pengelola perusahaan penerbitan, yakni IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Ia terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979).

Sebagai penerbit, Ajip barangkali tidak sampai gilang-gemilang dalam hal bisnis—mungkin dengan kekecualian pada pengalaman Pustaka Jaya dalam dasawarsa 1970-an hingga 1980-an sebelum Ajip hijrah ke Jepang. Kenyataan bahwa ia pernah beberapa kali mendirikan perusahaan penerbitan yang tidak berumur panjang, mungkin menunjukkan hal itu. Namun, yang menarik, di pihak lain kenyataan itu kiranya juga memperlihatkan sikap keras hati Ajip untuk tetap berupaya menerbitan buku sekalipun berkali-kali secara ekonomis ia barangkali mengalami kerugian. Boleh jadi, sebagai penerbit, Ajip lebih menekankan pertimbangan kebudayaan daripada pertimbangan bisnis. Paling tidak, berdasarkan pengalamannya di bidang penerbitan selama ini, Ajip sepertinya berpendirian bahwa bagaimanapun buku-buku yang dinilai bermutu baik tetap mesti diterbitkan, seraya terus berupaya meningkatkan minat baca masyarakat. Kalaupun penerbit pada umumnya terkesan lebih berorientasi ke pasar untuk meraup keuntungan ekonomis dengan menerbitakan buku-buku yang banyak di antaranya sebetulnya tidak begitu penting dilihat dari sudut pandang kebudayaan, tetap mesti ada penerbit yang mau menerbitkan buku-buku bermutu tinggi mesti tidak laku di pasar. Paling tidak, ketika masyarakat sudah merasa membutuhkan buku-buku tersebut, buku-bukunya sudah tersedia. Barangkali Ajip berpandangan bahwa lebih baik menerbitkan buku yang baik meski tidak laku daripada menerbitkan buku yang buruk dan tetap tidak laku juga.

Sebagai orang yang turut bergiat di dunia penerbitan Ajip juga aktif menuangkan gagasannya menyangkut bidang tersebut. Semasa mengetuai IKAPI misalnya, ia antara lain menghendaki agar penerbit dan pemerintah bisa berdiri sejajar, tidak ada yang harus lebih tinggi daripada yang lainnya. Ia juga sering mengingatkan bahwa pemerintah punya tanggung jawab untuk turut mendorong kegiatan penerbitan dan meningkatkan minat baca masyarakat, semisal dalam bentuk pemberian subsidi untuk pengadaan kertas. Demikian pula bagi kalangan internal penerbit itu sendiri, Ajip selalu berupaya menekankan, misalnya, bahwa kedudukan penerbit dan pengarang adalah sejajar. Penerbit mesti sedapat mungkin menghargai kreativitas pengarang, dan pengarang harus sebisa mungkin mengakui pentingnya peran lembaga penerbitan.

Sebegitu jauh, gagasan-gagasan Ajip menyangkut dunia penerbitan antara lain dapat diikuti dalam buku Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastera. Juga cukup banyak gagasan menyangkut bidang penerbitan yang ia sampaikan melalui forum seminar atau simposium baik di dalam maupun di luar negeri. Gagasan-gagasannya dalam hal ini, disatupadukan dengan pengalamannya di bidang tersebut, telah menyediakan tema tersendiri yang penting dan perlu dikaji.

Tulis Komentar.