DALAM buku Proses Kreatif susunan Pamusuk Eneste, Ajip mengatakan bahwa ia selalu melihat dirinya sebagai “seorang penyair”. Kita tahu bahwa Ajip tidak hanya menggubah puisi, melainkan juga mengarang cerita pendek dan roman. Namun dengan memandang dirinya pertama-tama dan terutama sebagai “seorang penyair”, Ajip sepertinya hendak menegaskan bahwa baginya kesusasteraan merupakan bidang terpenting dalam kerangka kerja budaya yang selama ini dijalankannya. Dan yang lebih penting dalam hal ini adalah kenyataan bahwa sebagai “seorang penyair”, Ajip menempati kedudukan yang cukup terpandang dalam sejarah kesusasteraan Indonesia modern sebagaimana yang tergambarkan dalam buku Sastera Indonesia Indonesia karya Andrias Teeuw.

Sebagai salah seorang sasterawan Ajip tidak hanya menggubah karya sastra melainkan juga turut terlibat dalam pergulatan pemikiran menyangkut kesusasteraan Indonesia itu sendiri. Misalnya saja, di tengah konfrontasi antara kubu Kubu Manifest Kebudayaan dan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada dasawarsa 1960-an, Ajip dan kawan-kawan memperlihatkan sikap dan pendirian tersendiri yang cukup menarik. Mereka tidak memilih salah satu pihak yang sedang berhadap-hadapan. Sebagai seorang penyair atau pengarang yang tampaknya sangat menghargai kebebasan berpikir dan berekspresi, Ajip sepertinya tidak bersetuju dengan gagasan-gagasan yang cenderung mengabdikan sastra pada program atau rancangan politik tertentu sebagaimana yang terkesan dari kegiatan Lekra dengan ide “realisme sosialis”-nya. Demikian pula sebagai seorang penyair atau pengarang yang tampaknya amat mementingkan otonomi sastera di hadapan bidang-bidang lainnya, Ajip tidak bersepakat dengan posisi Manifes Kebudayaan yang mengusung gagasan “humanisme universal”, sebab mungkin dalam pandangannya gerakan tersebut pada waktu itu cenderung dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan tertentu dari kalangan militer. Apakah dengan demikian ia dan kawan-kawan sedang mencoba menawarkan semacam “jalan ketiga” di tengah konfrontasi serupa itu, ataukah hanya merupakan akibat dari kebimbangan untuk menentukan pilihan?

Sebagaimana H.B. Jassin, Ajip juga aktif menulis kritik sastera dalam suatu periode tertentu. Bahkan lebih jauh lagi, ia pun turut memberikan kontribusi terhadap upaya-upaya untuk menyusun sejarah kesusasteraan Indonesia modern. Buku Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Indonesia dan Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir adalah buktinya. Dengan begitu, Ajip bukan hanya merupakan salah satu mata rantai sejarah kesusateraan Indonesia modern, melainkan juga salah satu bagian penting dari historiografinya itu sendiri.

Tinjauan kritis yang dipandang penting dan perlu dalam hal ini tidak hanya diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas dan terang mengenai kedudukan Ajip dalam sejarah kesusasteraan Indonesia modern, melainkan juga menyangkut jerih payahnya untuk turut menyumbangan pemikiran terhadap kesusasteraan Indonesia untuk melihat atau merekonstruksi sejarahnya sendiri.

3 Komentar untuk entri Sastra Indonesia

  1. Komentar dari:
    Ahda Imran - 08-02-2008 pukul 16.16

    Kang, saya sedang menyusun antologi Puisi tentang Bandung, dari mulai generasi Ramadhan K.H., sampai sekarang. Ya, mungkin meniru apa yang Akang lakukan dengan “Jakarta dalam Puisi” tahun 1972 yang lalu. Saya menemukan satu puisi Akang, “Bandung Menjelang Tengah Hari” dalam Budaja Djaya. Hanya itu. Padahal saya mencari barangkali ada puisi-puisi Akang lainnya yang bertemakan Kota Bandung atau yang menunjuk pada satu tempat Bandung. Mudah-mudahan, seraya saya memburu ke berbagai sumber—majalah, koran, dan penerbitan buku—Akang bisa membantu saya mengirimkan sejumlah sajak Akang yang saya perlukan.
    Antologi ini akan diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung (FSB). Surat via pos secara resmi akan segera kami kirimkan.
    Demikian, Kang Ajip. Salam dari Bandung

    Ahda Imran
    081573294211

  2. Komentar dari:
    vera - 03-04-2008 pukul 14.36

    kang, saya vera. papa saya kemarin butuh buku karya akang ini tentang sejarah sastra indonesia buat bahan mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di madura. tapi kenapa sampai sekarang saya tidak menemukan bukunya?? apa sudah tidak diterbitkan lagi? terima kasih…

  3. Komentar dari:
    Jafar Fakhrurozi - 28-07-2008 pukul 10.24

    Salam primordial.
    Kang, Urang balik ka lembur yu, rek pilkadal di Majalengka. Saya rek nyalonkeun akang janten Bupati.
    Wakil Bupati: Maman Mahayana (kritikus sastra)
    Pembimbing Spiritual: Alm Beni R Budiman, Alm Ayatrohaedi
    Sekda: Joni Ariadinata (cerpenis, sastrawan)
    Dinas Pendidikan: Jafar Fakhrurozi (aktivis, penyair)
    Disbudpar: Nandang Darana (penyair, teaterawan)
    Pertanian dan peternakan: Dian Nendi alias Ihung (pangarang sunda, teaterawan)
    Agama: Maman IH Fakih (kiyai budaya)
    KUK-KUKM: Ahmadzeni (komikus)
    Dinas Sosial: Heri Maja Kelana (penyair)
    Lingkungan Hidup:Isa Perkasa (pelukis)
    Dispenda: Endo Suanda (Koreografer)
    yang belum terdaftar, silahkan mendaftar sesuai tata cara dan administrasi di dunia mimpi dan imajinasi!
    salam Primordial!
    Jafar Fakhrurozi

Tulis Komentar.